Bursa Global Anjlok Pasca Keputusan Fitch, Para Ekonom Justru Santai
JAKARTA, investortrust.id - Bursa saham global seperti terserang demam sejak Rabu (2/7) setelah Fitch Rating menurunkan peringkat utang jangka panjang Amerika Serikat (AS). Harga saham di bursa dunia berguguran, indeks pun turun tajam. Namun para ekonom terkemuka dunia berpandangan, tidak ada yang perlu dirisaukan dari keputusan Fitch Rating tersebut.
Sebelmunya Fitch memangkas peringkat kredit jangka panjang AS dalam mata uang asing menjadi AA+ dari AAA. Fitch berpandangan, akan terjadi penurunan fiskal AS selama tiga tahun ke depan. Pada sisi lain beban utang AS dinilai akan semakin meningkat.
Mantan Menteri Keuangan AS, Larry Summersdan Penasihat Ekonomi Allianz, Mohamed El-Erian, mengutuk keputusan Fitch. Ekonom masyur, Larry Summers menyebut kebijakan Fitch cenderung aneh dan tidak cakap. Sedangkan dan El-Erian mengaku dibuat bingung oleh waktu dan alasan keputusan Fitch tersebut.
Menteri Keuangan saat ini, Janet Yellen, menggambarkan penurunan peringkat ini sebagai keputusan usang. Demikian rangkaian reaksi yang dipantau dari laporan CNBC.com.
Sementara ekonom Goldman Sachs, Alec Phillips berpendapat, keputusan tersebut tidak didasarkan pada informasi fiskal yang baru. Oleh karena itu tidak diharapkan akan berdampak jangka panjang pada sentimen pasar, selain dari penjualan saham sabesar-besaran pada Rabu, waktu AS.
"(Penurunan peringkat) seharusnya memiliki dampak kecil pada pasar keuangan karena tidak mungkin ada pemegang besar surat utang Treasury yang dipaksa untuk menjual berdasarkan perubahan peringkat," demikian pandangan Philips.
"Proyeksi Fitch mirip dengan proyeksi kami, mereka mengindikasikan defisit federal sekitar 6% dari PDB dalam beberapa tahun ke depan, lalu Fitch mencantumkan proyeksi CBO (obligasi dengan agunan) dalam prospeknya jangka menengah. Jadi penurunan peringkat ini tidak mencerminkan informasi baru atau perbedaan besar pandangan tentang prospek fiskal," tegas Philips.
Lembaga pemeringkat S&P pernah menurunkan peringkat AS pada tahun 2011. Saat itu dampaknya sangat negatif. Namun, menurut Phillips, penurunan rating saat itu tidak memicu para investor besar mengguyur surat utang treasury ke pasar. Itu sebabnya, indeks S&P 500 pulih sebesar 15% dalam 12 bulan berikutnya.
"Karena surat utang Treasury adalah kelas aset yang sangat penting.Sebagian besar mandat investasi dan rezim regulasi merujuk secara khusus pada mereka, bukan pada surat utang pemerintah dengan peringkat AAA," katanya.
Ia juga menegaskan, Fitch tidak menurunkan langit-langit AS yang tetap berada pada peringkat AAA."Jika Fitch bisa menurunkan langit-langit negara, itu bisa berdampak negatif pada surat utang AAA lain yang diterbitkan oleh entitas AS," tegas Phillips.
Pandangan ini didukung oleh Kepala Strategi Ekuitas Wells Fargo Securities, Chris Harvey. Ia mengatakan, penurunan peringkat Fitch tidak seharusnya memiliki dampak serupa dengan penurunan peringkat S&P pada tahun 2011. Alasannya lingkungan makro yang sangat berbeda dan berbagai alasan lain.
"Wells Fargo percaya bahwa setiap penarikan kembali saham akan relatif singkat dan dangkal, ujar Harvey. Ia mencatat sebelum penurunan peringkat S&P pada tahun 2011, saham berada dalam wilayah koreksi, spread kredit membesar, suku bunga menurun, dan sedang ada krisis keuangan global saat itu. Sebaliknya kondisi saat ini hampir bertolak belakang dengan kondisi tahun 2011.
Investor masyur Mark Mobiusmengatakan, keputusan Fitch Rating dapat mendorong para investor untuk mempertimbangkan kembali strategi dalam pasar surat utang dan mata uang AS.
"Saya pikir dari perspektif jangka panjang orang akan mulai berpikir bahwa mereka harus melakukan diversifikasi portofolio mereka.Pertama-tama dari surat utang AS dan juga ke dalam saham karena itu adalah cara untuk melindungi mereka dari setiap penurunan nilai mata uang, baik dolar AS maupun mata uang lainnya," ujar Mobius yang juga mitra pendiri Mobius Capital PartnerskepadaCNBC.
