Pasca Pengumuman MSCI, Fitch Soroti Risiko Utang Indonesia dan Tekanan Rupiah
JAKARTA, investortrust.id – Fitch Ratings menyoroti risiko terhadap kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, dan tata kelola pasar modal Indonesia setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Direktur Sovereigns Fitch Ratings George Xu mengatakan, kekhawatiran investor dan aksi jual besar-besaran di pasar saham semakin menegaskan risiko yang sebelumnya telah diidentifikasi lembaga pemeringkat tersebut.
“Kekhawatiran terbaru dan aksi jual besar-besaran di pasar semakin menegaskan risiko yang sebelumnya telah diidentifikasi Fitch terkait kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, dan tata kelola pasar modal,” kata Xu dalam keterangan resminya, Selasa (20/10/2026).
Baca Juga
OJK Laporkan Kondisi Pasar Modal Indonesia Pascapengumuman MSCI ke Prabowo
Menurut Xu, risiko tersebut muncul di tengah meningkatnya sentralisasi kewenangan pengambil kebijakan. Kondisi ini menjadi salah satu pertimbangan Fitch ketika merevisi prospek peringkat utang Indonesia dari BBB/stabil menjadi BBB/negatif pada Maret 2026.
Meski demikian, Fitch belum memperkirakan pengumuman konsultasi MSCI akan secara langsung menimbulkan dampak material terhadap kredit Indonesia dalam waktu dekat. “Dari perspektif pemeringkat utang negara, kami tidak memperkirakan pengumuman konsultasi tersebut akan secara langsung menimbulkan material terhadap kredit dalam waktu dekat,” ujarnya.
Fitch menilai pemerintah Indonesia masih memiliki berbagai instrumen kebijakan untuk menarik modal asing. Selain itu, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$146,3 miliar pada akhir kuartal III-2026, yang memberikan kapasitas untuk mendukung stabilitas rupiah.
Baca Juga
BBCA, MSCI, dan Paradoks Saham Berkualitas yang Terjun Bebas
Namun, intervensi valuta asing (valas) oleh Bank Indonesia (BI) menggunakan penyangga cadangan devisa sekaligus menyerap likuiditas rupiah. Kondisi tersebut berpotensi memperketat pendanaan domestik. Intervensi juga berkontribusi terhadap peningkatan bertahap posisi neto valas jangka pendek BI, yang mencapai lebih dari US$32 miliar pada akhir Agustus 2026.
Menurut Fitch, posisi tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan likuiditas valas pada masa mendatang ketika kewajiban jatuh tempo. Jika tekanan eksternal meningkat, biaya pinjaman pemerintah dapat naik dan penyangga eksternal Indonesia berpotensi terkikis.
Kepercayaan Investor
Xu memperkirakan pemerintah akan memperkenalkan langkah-langkah tambahan untuk memperbaiki tata kelola dan fungsi pasar modal dalam beberapa pekan mendatang. Namun, langkah tersebut dinilai belum tentu cukup untuk menghilangkan kehati-hatian investor.
“Kami memperkirakan pemerintah akan memperkenalkan langkah-langkah tambahan untuk memperbaiki tata kelola dan fungsi pasar dalam beberapa pekan mendatang. Namun, langkah-langkah tersebut saja kemungkinan tidak cukup untuk menghilangkan kehati-hatian investor,” kata Xu.
Baca Juga
Saham BRI (BBRI) Rebound 6,3%, IHSG Terangkat 135 Poin! Target Harga Masih Rp 4.100
Menurut dia, efektivitas dan konsistensi implementasi reformasi masih perlu dibuktikan. Sementara itu, potensi perubahan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market dapat semakin membebani sentimen investor yang sudah rapuh.
Fitch juga memperingatkan bahwa penurunan penyangga cadangan devisa secara tajam dan berkelanjutan, baik akibat melemahnya kepercayaan investor maupun memburuknya tata kelola, dapat menambah tekanan terhadap peringkat utang negara.
Fitch menilai pelemahan kepercayaan investor berpotensi membebani prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah. Risiko terhadap profil kredit juga dapat meningkat apabila kondisi tersebut secara signifikan menghambat arus masuk investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI).
Baca Juga
Rupiah Melemah ke Rp18.031 per Dolar AS, Pasar Menanti Keputusan BI
Peringkat utang Indonesia selama ini mencerminkan rekam jejak dalam menjaga stabilitas makroekonomi, prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah yang tangguh dan menguntungkan, rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) yang relatif rendah, serta penyangga eksternal yang memadai.
Meski demikian, Fitch mencatat sejumlah faktor yang masih membatasi profil kredit Indonesia, antara lain penerimaan pemerintah yang rendah, biaya pembayaran utang yang tinggi, kelemahan struktural dalam tata kelola, serta ketidakpastian terkait potensi aktivitas kuasi-fiskal.
“Meskipun demikian, penerimaan pemerintah yang rendah, biaya pembayaran utang yang tinggi, kelemahan struktural yang belum teratasi seperti tata kelola, serta ketidakpastian terkait potensi aktivitas kuasi-fiskal masih menjadi faktor yang membatasi profil kredit negara Indonesia,” ujar Xu.
