Tiga Sentimen Ini bakal Lambungkan Kinerja Arwana (ARNA), Bagaimana Target Sahamnya?
JAKARTA, investortrust.id – Pemeritahan baru di bawah kepemipinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka akan menjadikan pengembangan sektor property secara massif untuk mengerek pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8% ke depan.
Pembangunan rumah dalam jumlah masif dilakukan dengan target pembangunan sebanyak 2 juta unit rumah di pedesaan dan 1 juta unit apartemen di perkotaan setiap tahun. Bahkan, selama lima tahun pertama ditargetkan pembangunan sebanyak 15 juta unit rumah dan apartemen. Pembangunan tersebut bertujuan untuk mengurangi backlo sekaligus merangsang perekonomian dalam negeri.
Baca Juga
Analis Sucor Sekuritas Jeremy Hansen NH menyebutkan bahwa program tersebut diharapkan menciptakan sebanyak 14 juta lapangan kerja baru yang akhirnya berimbas terhadap peningkatan daya beli masyarakat. Program tersebut juga bertujuan untuk memangkas backlog perumahan di Indonesia yang masih besar.
“Jika program ini berhasil diwujudkan, sektor industir keramik akan menjadi satu dari beberapa sektor industry yang bakal diuntungkan. Pembangunan property secara besar-besaran tersebut akan memicu lonjakan permintaan keramik di dalam negeri,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, pekan ini.
Dengan asumsi pembangunan rumah tipe 36, Jeremy mengatakan, total keramik yang dibutuhkan untuk mendukung program perumahan tersebut bisa mencapai 112,5 juta meter per segi etiap tahun. Angka tersebut menunjukkan kenaikan sebanyak 27%, dibandingkan capaian penjualan keramik nasional tahun 2023.
Baca Juga
“Kami meyakini bahwa inisiatif ini akan berdampak terhadap permintaan pesat keramik di tengah penurunan permintaan dalam beberapa tahun terakhir, khususnya keramik jenis red body yang menyasar kelas menengah bawah,” tulisnya.
Selain dukung sentiment positif program pemerintah baru, dia mengatakan, industry keramik nasional mendapatkan dukungan dari pemerintah untuk menerapkan bea masuk anti dumping (BMAD) produk keramik berkisar 45-50%. Meski BMAD lebih rendah dari permintan asosiasi, kebijakan ini setidaknya bisa mencegah banjirnya impor keramik dari China.
Industri keramik nasional, terang dia, juga didukung kebijakan pemerintah Indonesia untuk memperpanjang gas berharga murah US$ 6 per MMBTU untuk tujuh sektor industry sejak Juli 2024. Sedangkan penyaluran gas memang terjadi penurunan kuota akibat rendahnya pasokan gas dari hulu.
Baca Juga
Menperin Agus: Produsen Gas Industri Berperan Vital Dukung Sektor Manufaktur
Sejumlah kebijakan tersebut akan menjadi sentiment positif terhadap kinerja keuangan dan saham PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA). ARNA diperkirakan menjadi produsen keramik yang paling siap mengambil keuntungan dari sejumlah kebijakan tersebut. Hal ini mendorong Sucor Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ARNA dengan target harga Rp 880.
Target harga tersebut merefleksikan perkiraan PE tahun 2025 sektiar 13,8 kali. Target tersebut juga mempertimbangkan ekspektasi rata-rata pertumbuhan tahunan laba bersih sebanyak 23,2% dalam lima tahun ke depan dan rata-rata pertumbuhan tahunan pendapatan dalam lima tahun mendatang 4,4%.
Grafik ARNA

