Perry: BI Gunakan AI untuk Perkirakan Inflasi hingga Pertumbuhan Ekonomi
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut akan pensiun pada lima tahun mendatang. Penggantinya sebagai pemimpin bank sentral Indonesia harus memahami digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI).
“Apa yang akan terjadi 5-10 tahun mendatang, kita akan melangkah maju. Saya akan pensiun dalam lima tahun mendatang,” kata Perry saat membuka "18th Bulletin of Monetary Economy and Banking International Conference (BMEB) 2024", yang digelar daring, Senin (29/7/2024).
Baca Juga
Pengguna Super Apps BRImo Tumbuh Pesat, Nilai Transaksi Capai Rp2.574 Triliun
Perry mengatakan, penggantinya sebagai pemimpin bank sentral Indonesia harus memahami digitalisasi. Dia menyebut diperlukan proses adaptasi dan adopsi teknologi untuk memahami masa depan.
“Kemampuan Anda untuk mengadopsi digitalisasi penting, yang mana sekarang sudah membentuk kehidupan kita,” kata dia.
Perry mengatakan BI telah menggunakan kecerdasan buatan dan digitalisasi untuk meramalkan inflasi, pertumbuhan ekonomi, konsumsi, dan pengukuran lain. Dia menyebut pemrosesan digital akan tiba sekarang, lebih cepat.
“Kecerdasan Anda akan digantikan oleh AI, apa yang membuatnya berbeda? Perilaku Anda, perilaku memimpin Anda,” ujar dia.
Baca Juga
Dorong Produktivitas, BRI (BBRI) Eksplorasi Kecerdasan Buatan
Transformasi Industri Revolusioner
Perry menyontohkan bagaimana AI menggantikan manusia dalam kehidupan di film Atlas, yang diproduksi Netflix. Film yang menggali peran AI tersebut dapat menggambarkan bagaimana manusia bertahan dari serangan teknologi canggih.
“Cobalah menonton film berjudul Atlas. Atlas adalah film yang bagus. Yang bertahan adalah yang bisa mengubah perilaku ke masa depan tanpa terdeteksi oleh AI,” kata dia.
Meski demikian, kata Perry, digitalisasi telah mendefinisikan ulang pendorong utama aktivitas ekonomi kita dan keuangan, melalui transformasi industri yang revolusioner. Dia menyebut digitalisasi telah meningkatkan efisiensi dan meningkatkan produktivitas di berbagai sektor, melalui otomatisasi, analisis data yang efektif, dan platform digital. Namun demikian, juga ada beberapa risiko digitalisasi.
“Perlu regulasi. Tetapi di luar itu ada risiko operasional, utamanya serangan siber dan perubahan perilaku individu yang tidak dapat digantikan AI,” kata dia.

