Perry: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2024 Masih Berpeluang Capai 5,5%
JAKARTA, investortrust.id - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 23-24 April 2024 memaparkan potensi pertumbuhan ekonomi nasional pada 2024. Meski menghadapi sejumlah tantangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini masih berpeluang mencapai 4,7-5,5%.
“Dinamika ekonomi keuangan global berubah cepat dengan risiko dan ketidakpastian meningkat. Ini karena perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan memburuknya ketegangan geopolitik di Timur Tengah,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan April 2024 dengan Cakupan Triwulanan, pada Rabu (24/4/2024).
Baca Juga
Ia menjelaskan, tetap tingginya inflasi dan kuatnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat mendorong spekulasi penurunan Fed Funds Rate (FFR) yang lebih kecil. Suku bunga tinggi di negara dengan perekonomian terbesar tersebut lebih lama dari prakiraan (high for longer), sejalan pula dengan pernyataan para pejabat Federal Reserve System.
Perkembangan tersebut dan besarnya kebutuhan utang AS mengakibatkan terus meningkatnya yield US Treasury. Penguatan dolar AS juga semakin tinggi secara global.
Baca Juga
Rupiah Anjlok Melewati Rp 16.000/USD, BI Janji Jaga Stabilitas Nilai Tukar dan Inflasi
Pelemahan Yen
Perry menjelaskan lebih lanjut, semakin kuatnya dolar AS juga didorong oleh melemahnya sejumlah mata uang dunia yang cukup berpengaruh. Ini seperti yen Jepang dan yuan Cina.
“Ketidakpastian pasar keuangan global semakin buruk akibat eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Akibatnya, investor global memindahkan portofolionya ke aset yang lebih aman, khususnya mata uang dolar AS dan emas, sehingga menyebabkan pelarian modal keluar dan pelemahan nilai tukar di negara berkembang semakin besar,” paparnya.
Baca Juga
Ke depan, tegas Perry, risiko terkait arah penurunan FFR AS dan dinamika ketegangan geopolitik global akan terus dicermati, karena dapat mendorong berlanjutnya ketidakpastian pasar keuangan global, meningkatnya tekanan inflasi, dan menurunnya prospek pertumbuhan ekonomi dunia. Kondisi ini memerlukan respons kebijakan yang kuat untuk memitigasi dampak negatif dari rambatan ketidakpastian global tersebut terhadap perekonomian di Indonesia. Selain Indonesia, negara-negara berkembang yang lain juga terdampak.
Ekonomi RI Berdaya Tahan
Perry mengungkapkan, ekonomi Indonesia tetap berdaya tahan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pertumbuhan ekonomi di triwulan I dan II tahun 2024 diperkirakan akan lebih tinggi dari triwulan IV tahun 2023, didukung permintaan domestik yang tetap kuat dari konsumsi rumah tangga sejalan dengan adanya Ramadan dan Idulfitri 1445H.
Investasi bangunan lebih tinggi dari prakiraan, ditopang oleh berlanjutnya Proyek Strategis Nasional (PSN) di sejumlah daerah. Selain itu, berkembangnya properti swasta sebagai dampak positif dari insentif pemerintah.
Baca Juga
Meski demikian, konsumsi rumah tangga dan investasi nonbangunan perlu terus didorong untuk mendukung berlanjutnya pemulihan ekonomi nasional. “Sementara itu, kinerja ekspor barang belum kuat, dipengaruhi oleh penurunan ekspor komoditas sejalan dengan harga komoditas yang turun dan permintaan dari mitra dagang utama, seperti Tiongkok, yang masih lemah,” ungkapnya.
Berdasarkan lapangan usaha (LU), sektor Industri Pengolahan, Informasi dan Komunikasi, Perdagangan Besar dan Eceran, serta Konstruksi diprakirakan tumbuh kuat. Secara spasial, pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah tetap baik, didukung oleh permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga.
“Dengan berbagai perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi 2024 diprakirakan berada dalam kisaran 4,7-5,5%. Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah, termasuk melalui stimulus fiskal pemerintah dengan stimulus makroprudensial Bank Indonesia, guna mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, khususnya dari sisi permintaan domestik,” tandasnya.

