Perry: Tren Inflasi Tinggi AS hingga 2025
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan tren tingginya inflasi Amerika Serikat masih akan di atas sasaran sepanjang tahun 2025. Bank Indonesia (BI) memperkirakan Fed Funds Rate baru akan turun pada semester II-2024.
Perry Warjiyo berujar prediksi tersebut didasarkan asesmen fundamental oleh BI. "Bacaan kami, The Fed masih tetap akan sabar. Ihwal inflasi di AS, masih di atas sasaran, kami melihat tren tingginya inflasi AS masih akan di atas sasaran sepanjang tahun 2025," kata Perry baru-baru ini.
FFR Diikuti BI Rate
Perry menuturkan, asesmen Dewan Gubernur BI terhadap posisi Fed Fund Rate menjadi salah satu sentimen bagaimana stance kebijakan untuk tetap mempertahankan BI rate pada level 6,0% pada bulan ini. Perry juga menyebutkan kondisi pasar menunjukkan terdapat proyeksi serta informasi yang berbeda berkaitan dengan pemangkasan Fed Fund Rate. Hal itu sebagai dampak dari ketidakstabilan global.
Baca Juga
Cum Dividen Berakhir, Saham BTN (BBTN) justru Terbang, Simak Lagi Target Ini
Uang Beredar Tumbuh Positif
BI juga menyampaikan mengenai likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Februari 2024. Bank sentral menilai M2 tumbuh positif.
"Posisi M2 pada Februari 2024 tercatat sebesar Rp 8.739,6 triliun atau tumbuh 5,3% (yoy), relatif stabil dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya 5,4% (yoy). Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 5,2% (yoy) dan uang kuasi sebesar 5,3% (yoy)," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan di Jakarta, 22 Maret 2024.
Perkembangan M2 pada Februari 2024, lanjut dia, terutama dipengaruhi oleh perkembangan penyaluran kredit. Penyaluran kredit pada Februari 2024 tumbuh sebesar 11,0% (yoy), relatif terjaga dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 11,5% (yoy).
"Aktiva luar negeri bersih tumbuh sebesar 2,3% (yoy), setelah tumbuh sebesar 4,8% (yoy) pada bulan sebelumnya. Sementara itu, tagihan bersih kepada pemerintah pusat (Pempus) terkontraksi sebesar 1,0% (yoy), setelah tumbuh sebesar 1,9% (yoy) pada Januari 2024," imbuhnya.

