Gara-gara Impor Membajiri, Laba Arwana (ARNA) Terjun 16,59% di Semester I
JAKARTA, investortrust.id – PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) mencatatkan penurunan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk 16,59% dari Rp 243,57 miliar menjadi Rp 203,15 miliar.
Manajemen ARNA dalam rilis laporan keuangan semester I-2024 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (23/7/2024), menyebutkan penurunan tersebut sejalan dengan pelemahan penjualan dari Rp 1,225 triliun menjadi Rp 1,221 triliun.
Penurunan diperparah dengan peningkatan beban pokok penjualan dari Rp 754,96 miliar menjadi Rp 803,37 miliar. Penurunan juga dipicu kenaikan beban penjualan dari Rp 117,32 miliar menjadi Rp 124,31 miliar.
Baca Juga
BMAD Keramik China Jadi Sentimen Positif Arwana (ARNA), Bagaimana Target Sahamnya?
Perseroan juga mencatatkan rugi selisih mata uang, dibandingkan semester I-2023 dengan keuntungan Rp 6,33 miliar. Hal ini membuat laba usaha ARNA tergerus dari Rp 313,78 miliar menjadi Rp 261,92 miliar.
Penurunan laba tersebut memicu terhadap pelemahan laba per saham ANRA dari sebelumnya Rp 33,18 menjadi Rp 27,67 per saham.
Sebelumnya, anali Sucor Sekuritas Jeremy Hansen NH dalam riset yang diterbitkan beberapa hari lalu menyebutkan bahwa saham ARNA didukungsentimen rencana pemerintah untuk menerapkan bea masuk anti dumping (BMAD) keramik asal China. Kebijakan ini diharapkan mengurangi gempuran produk keramik putih (white body production) China yang menekan volume penjualan keramik dalam negeri.
Baca Juga
“Kami menilai bahwa kebijakan BMAD tersebut akan berdampak terhadap bisnis ARNA tahun 2025-2026, seiring dengan mulai beroperasinya pabrik 4C pada kuartal I-2025 dan pabrik 6 dengan target pengoperasian pada kuartal IV-2025,” tulis Jeremy.
Hal ini mendorong Sucor Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ARNA dengan target harga Rp 880. Target harga tersebut juga mempertimbangkan neraca keuangan perseroan yang kuat dan ekspektasi rasio dividen tetap tinggi tahun depan.
Sucor Sekuritas menargetkan laba bersih perseroan mencapai Rp 441 miliar tahun ini, turun tipis dari raihan tahun lalu Rp 445 miliar. Sedangkan penjualan diprediksi melesat menjadi Rp 2,60 triliun, dibandingkan perolehan tahun lalu Rp 2,44 triliun.
Grafik Saham ARNA

