Saham Bank Mandiri (BMRI): Diborong Investor Asing hingga Kembali Cetak ATH
JAKARTA, investortrust.id – Pemodal asing memborong (net buy) sebanyak Rp 727,33 miliar saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Aksi borong tersebut menjadikan saham BMRI capai level tertinggi baru (all time high/ATH) sepanjang masa.
Berdasarkan data perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (5/2/2024), pemodal asing mencatatkan net buy saham BMRI senilai Rp 727,33 miliar di seluruh pasar. Bahkan, BMRI menjadi saham dengan net buy terbanyak sepanjang hari ini.
Dengan tambahan tersebut, total net buy saham BMRI sepanjang tahun 2024 berjalan telah mencapai Rp 2,8 triliun. Berdasarkan data pemodal asing gencar memborong saham-saham bank papan atas di bursa dalam beberapa pekan terakhir.
Baca Juga
Tumbuh 16,3%, Kredit Bank Mandiri Capai Rp 1.398,1 Triliun di 2023
Terkait penguatan harga, data BEI menyebutkan, saham BMRI kembali berhasil mencetak harga tertinggi baru atau ATH ke level penutupan Rp 6.825 setelah harganya naik Rp 150 (2,25%). Saham bank pelat merah ini bergerak dalam rentang Rp 6.675-6.950 per saham.
Sebelumnya, riset terbaru Sucor Sekuritas dan BRI Danareksa Sekuritas telah merevisi naik target harga saham BMRI didukung kuatnya performa keuangan sepanjang tahun 2023.
Analis Sucor Sekuritas Edward Lowis mengatakan, rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) laba bersih diperkirakan BMRI mencapai 11% dalam lima tahun ke depan. Proyeksi ini didukung ekspektasi berlanjutnya pertumbuhan kredit yang kuat bersamaan dengan NIM stabil.
Baca Juga
Targetkan Pertumbuhan Kredit Hingga 15% di 2024, Ini Strategi Bank Mandiri
Berbagai faktor tersebut mendorong Sucor Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BMRI dengan target harga direvisi naik menjadi Rp 7.600. Target harga tersebut juga mempertimbangkan posisi perseroan menjadi bank teratas untuk penyaluran kredit korporasi dan komersial.
Revisi naik saham BMRI juga diberikan analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano. Target saham BBRI direvisi naik dari semula Rp 7.300 menjadi Rp 7.600 oleh BRI Danareksa Sekuritas. Revisi tersebut merefleksikan nilai wajar PBV 2,5 kali sejalan dengan ekspektasi ROE lebih tinnggi.
Revisi naik target juga mempertimbangkan peningkatan target laba bersih tahun ini menjadi Rp 57,7 triliun oleh BRI Danareksa Sekuritas, seiring dengan peningkatan pendapatan non operasional bersamaan dengan penurunan biaya provisi.

