Saham Sektor Semen Mendadak Melesat, Bagaimana Target Harga Sesungguhnya?
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham emiten semen mendadak melesat pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (4/6/2024). Penguatan saham ini terjadi saat industri ini tengah dilankan oversupply.
Penguatan melanda saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) mencapai Rp 420 (11,83%) menjadi Rp 3.970. Begitu juga dengan saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) menguat Rp 675 (10,38%) menjadi Rp 7.175.
Baca Juga
Simak Tanggal Penting Dividen Semen Indonesia (SMGR) Rp 572,04 Miliar
Penguatan harga juga melanda saham PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) dengan kenaikan Rp 24 (11,88%) menjadi Rp 226. Kenaikan juga melanda saham PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) naik tipis Rp 10 (0,77%) menjadi Rp 1.310 dan PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT) naik Rp 45 (4,27%) menjadi Rp 1.100.
Meski harga saham emiten semen melesat pada perdagangan hari ini, ternyata harga tersebut masih jauh di bawah target harga yang disematkan BRI Danareksa Sekuritas. Saham INTP direkomendasikan beli dengan target harga Rp 8.400 dan saham SMGR direkomendasikan beli dengan target harga Rp 6.700.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Richard Jerry dan Christian Sitorus mengatakan, dipicu penurunan rata-rata harga jual semen dan volume penjualan hingga April 2024, prospek target laba bersih emiten semen tahun ini diperkirakan lebih rendah, dibandingkan estimasi semula.
Baca Juga
Berdasarkan data realisasi laba bersih emiten semen, khususnya SMGR dan INTP, sampai April 2024 hanya mencapai 17% dan 11% dari target tahun ini. Sedangkan volume penjualan turun, yaitu penjualan SMGR turun 3,4% menjadi 11,1 juta ton hingga April 2024. Sedangkan volume penjualan INTP naik 7% menjadi 5,1 juta ton didukung konsolidasi semen Grobogan.
Kondisi pasar tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas memangkas turun target laba bersih emiten semen tahun 2024. Proyeksi laba bersih INTP tahun ini direvisi turun dari Rp 2,07 triliun menjadi Rp 1,73 triliun. Begitu juga dengan proyeksi laba bersih SMGR dipangkas turun dari Rp 2,85 triliun menjadi Rp 2,10 triliun.
Oversupply
Sebelumnya, Ketua Asosiasi Semen Indonesia Lilik Unggul Raharjo sebelumnya mengungkapkan bahwa kapasitas produksi semen di nasional mencapai 199,9 juta ton pada 2023. Angka tersebut jauh di atas permintaan, sehingga industri ini disebut tengah mengalami overcapacity atau oversupply.
Baca Juga
ASI Targetkan Penggunaan Semen Ramah Lingkungan Capai 100% pada Akhir 2024
Berdasarkan data jumlah penyerapan semen dalam negeri hanya 65,5 juta ton atau kurang dari separuh dari kapasitas semen yang ada. Lebih lanjut, Lilik menjelaskan, kondisi tersebut membuat sejumlah pabrik semen di Indonesia terpaksa menganggur atau tidak beroperasi secara penuh dalam waktu setahun.
Dia mengungkapkan, kondisi ini bisa terjadi mengingat konsumsi semen per kapita masih relatif minim, yakni 0,23 ton per penduduk. Bandingkan dengan konsumsi rata-rata semen secara global yang sebesar 0,37 ton per penduduk. “Kita berharap ekonomi terus tumbuh, GDP tumbuh, sehingga pembangunan berjalan, ekonomi berjalan, sehingga konsumsi semennya akan naik,” terangnya.
Grafik Saham Emiten Semen

