Saham Bank Jumbo Dilepas Asing, Bos Bank Mandiri: Kesempatan 'Time to Buy'
JAKARTA, investortrust.id – Aksi jual pelaku pasar terhadap saham-saham perbankan papan atas menjadi salah satu pemicu pelemahan pasar saham pada perdagangan awal April, Senin (1/4/2024).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat ambles 1,15% ke posisi 7.205 pada perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, 4 bank jumbo kompak melemah, di mana saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 2,07%.
Kemudian saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 4,83%, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melorot 2,23% dan saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 4,24%.
Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk, Darmawan Junaidi, mengatakan, penurunan IHSG disebabkan aksi jual pemodal asing, seiring penguatan dolar Amerika Serikat.
Baca Juga
‘’Penurunan IHSG bukan karena kinerja emiten, tidak ada rumors di market tetapi lebih karena supply and demand, atau flow asing. Mereka mengalihkan portofolionya dari pasar ekuitas untuk masuk ke dolar AS,’’ urai Darmawan dalam acara Buka Puasa Bersama Manajemen Bank Mandiri dengan pemempin redaksi media massa nasional di Jakarta, Senin (1/4/2024).
Darmawan menyebut, keperkasaan dolar AS tercermin dari pelemahan rupiah yang bahkan nyaris menyentuh level Rp 16.000 per dolar di pasar spot hari ini. Sepanjang Maret 2024, Darmawan menyebut capital outflow asing di pasar ekuitas telah menembus angka Rp 60 triliun.
Pada saat bersamaan, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka inflasi Maret 2024 sebesar 3,05% secara year on year. Dikatakan Darmawan, sejatinya angka inflasi tersebut masih dalam kisaran target Bank Indonesia pada level 2,5% plus minus satu persen.
Namun kondisi inflasi tersebut bersamaan dengan penguatan dolar AS, sehingga memicu sentimen di pasar saham. Karena itu kata dia, aksi lepas saham tidak terbendung, terutama pada saham-saham bank papan atas yang memang banyak dipegang asing.
Baca Juga
Jaga Pertumbuhan di 2024, Bank Mandiri (BMRI) Fokus Empat Hal Ini
‘’Sebelumnya capital inflow besar kan terjadi pada saham-saham perbankan, karenanya saat terjadi capital outflow, tentu saham perbankan yang dilepas,’’ imbuhnya.
Mencermati perkembangan tadi, kembali lagi Darmawan menyebut, tidak ada masalah terhadap kinerja emiten terutama perbankan yang membuat asing melakukan aksi jual saham. Sebaliknya, aksi lepas asing membuat saham-saham bank papan atas menjadi undervalued sehingga menarik untuk diakumulasi.
‘’Tidak ada rumors terkait kinerja pada saham perbankan yang menyebabkan aksi lepas asing, karena itu saat ini merupakan peluang time to buy terhadap saham-saham bank papan atas,’’ pungkasnya.

