Harga Bijih Nikel Cenderung Turun, Prospek dan Target Saham Antam (ANTM) Jadi Segini
JAKARTA, investortrust.id – Rata-rata harga jual bijih nikel yang diprediksi lebih rendah dari perkiraan semula kemungkinan berlanjut hingga tahun 2024. Kondisi tersebut berpotensi menekan tingkat pertumbuhan laba bersih PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terbarunya memangkas prediksi harga jual bijih nikel dari US$ 43 menjadi US$ 40 per ton tahun 2024. Pemangkasan tersebut mendorong sekuritas ini merevisi turun target laba bersih Antam tahun depan.
Baca Juga
BRI Danareksa Sekuritas merevisi turun target laba bersih ANTM dari semula Rp 4,01 triliun menjadi Rp 3,75 triliun pada 2024. Sedangkan proyeksi pendapatan dipangkas dari Rp 44,20 triliun menjadi Rp 43,72 triliun.
Sedangkan target pendapatan dan laba bersih perseroan tahun ini ditetapkan masing-masing Rp 40,09 triliun dan Rp 3,85 triliun. Target ini didasarkan perkiraan penjualan bijih nikel sebanyak 10,9 juta ton tahun ini dan diharapkan hanya naik tipis menjadi 11 juta ton pada 2024.
Pemangkasan target kinerja keuangan perseroan tahun 2024 mendorong analis BRI Danarekesa Sekuritas Hasan Barakwan merevisi turun tipis harga saham ANTM dari Rp 2.000 menjadi Rp 1.960. Namun demikian saham ANTM tetap dipertahankan dengan rekomendasi beli.
Baca Juga
IHSG Cenderung Sideways, Pantau Saham NCKL, MDKA, BUKA dan ERAA
“Kami melihat peningkatan risiko terhadap pertumbuhan laba perseroan tahun depan dipicu ekspektasi penurunan harga jual bijih nikel dan perhitungan cash cost smelter FeNi Halmahera kemungkinan lebih tinggi, dibandingkan dengan smelter Pomalaa,” terangnya.
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan struktur cash cost Halmahera kemungkinan sama dengan Pomalaa di level US$ 12,764 per ton pada 2024. Kondisi tersebut bisa berpengaruh terhadap tingkat keuntungan perseroan.
Baca Juga
Terkait pengoperasian smelter Halmahera, dia mengatakan, meski pembangunan telah dituntaskan pada kuartal akhir tahun ini, Antam diperkirakan masih membutuhkan waktu hingga smelter ini beroperasi penuh. Smelter ini diperkirakan baru berproduksi 8,4 ribu ton tahun ini, dibandingkan kapasitas terpasangnya sebanyak 13,5 ribu ton dalam setahun.
Estimasi Kinerja Keuangan ANTM
