NAB Reksa Dana Kuartal I Turun, Sebaliknya Dua Produk Ini justru Terbang
JAKARTA, investortrust.id – Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana kembali mencatatkan penurunan menjadi Rp 490,08 triliun hingga akhir Maret 2024. Angka tersebut menunjukkan penurunan dari realisasi akhir Maret 2023 senilai Rp 504,17 triliun.
Realisasi NAB senilai Rp 490,08 triliun tersebut menjadi angka terendah dalam tiga bulan terakhir. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), NAB Januari 2024 mencapai Rp 504,58 triliun, kemudian turun menjadi Rp 499,30 triliun pada Februari 2024, dan kembali turun menjadi Rp 490,08 triliun pada Maret 2024.
Baca Juga
Meski IHSG Merosot, Kinerja Reksa Dana Indeks Diproyeksi Tetap Moncer
Penurunan NAB terbesar melanda reksa dana saham dari Rp 92,88 triliun pada akhir 2023 menjadi Rp 87,90 triliun. Reksa dana indeks turun menjadi Rp 9,78 triliun pada akhir Maret 2024, dibandingkan akhir tahun 2023 senilai 12,99 triliun.
Penurunan besar juga melanda reksa dana ETF dari Rp 17,11 triliun pada akhir 2023 menjadi Rp 14,54 triliun per Maret 2024. Reksa dana indeks anjlok dari Rp 12,99 triliun menjadi Rp 9,78 triliun. Reksa dana uang turun dari Rp 83,27 triliun menjadi Rp 79,32 triliun. Penurunan disusul reksa dana terproteksi turun dari Rp 109,98 triliun pada akhir 2023 menjadi Rp 108,24 triliun per akhir Maret 2024.
Sebaliknya kenaikan melanda reksa dana sukuk naik dari Rp 4,85 triliun menjadi Rp 4,91 triliun per akhir Maret 2024 dan reksa dana pendapatan tetap naik dari Rp 143,99 triliun menjadi Rp 144,64 triliun.
Baca Juga
Majoris AM Optimistis Industri Reksa Dana Kian Positif, Tapi…
Penurunan NAB reksa dana tersebut berbanding terbalik dengan Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang kuartal I-2024 berhasil mencatatkan kenaikan 0,22% dari 7.272,79 menjadi 7.288. Sedangkan kapitalisasi pasar (market cap) meningkat menjadi Rp 11.692 triliun
Bahkan, IHSG sempat menyentuh rekor penutupan tertinggi baru sepanjang masa 7.433,31 pada 14 Maret 2024. Namun pada perdagangan hari terakhir sebelum libur panjang lebaran, IHSG berada di level 7.286,88 atau berada di bawah level penutupan akhir kuartal I-2024.
Berdasarkan data BEI, penguatan indeks kuartal I-2024 didukung penguatan sejumlah saham kapitalisasi pasar besar, seperti saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Pendapatan Tetap
Terkait prospek reksa dana tahun 2024, Head of Capital Market Research PT Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, reksa dana berbasis obligasi atau pendaptan tetap diprediksi tetap menjadi primadona pada 2024. Tren tersebut telah terlihat dalam tiga tahun terakhir.
“Bukan cuma tahun lalu saja, dalam tiga tahun terakhir seperti itu. Tahun ini pun, dengan ekspektasi terjadi penurunan suku bunga, reksa dana pendapatan tetap akan menjadi primadona lagi,” kata Wawan Hendrayana, beberapa waktu lalu.
Baca Juga
Wawan Hendrayana juga mengemukakan, para wakil manajer investasi (MI) harus memiliki kemampuan marketing yang mumpuni agar perusahaan MI memiliki fundamental yang sehat dan menguntungkan (profitable).
Tak kalah penting, kata Wawan, adalah memberikan edukasi dan literasi keuangan kepada masyarakat secara terus-menerus.

