Saham TPIA dan CUAN Melesat ke Level Tertinggi Baru, BRPT dan BREN Kok Malah Anjlok?
JAKARTA, investortrust.id – Dua saham emiten Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), ditutup anjlok. Sebaliknya saham lainnya PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) cetak level harga tertinggi baru sepanjang masa.
Berdasarkan data penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (18/12/2023), saham BRPT terkoreksi dalam mencapai Rp 145 (9,01%) menjadi Rp 1.465. Saham ini bergerak dalam rentang Rp 1.350-1.670.
Baca Juga
Chandra Asri (TPIA) Gaet Investor Strategis, Saham Barito Pacific (BRPT) Diuntungkan
Begitu juga dengan saham BREN ditutup terkoreksi Rp 250 (3,38%) menjadi Rp 7.150. Saham ini bergerak dalam rentang Rp 7.100-7.650 pada penutupan perdagangan sepanjang hari ini.
Sebaliknya dua saham emiten Prajogo Pangestu lainnya, yaitu saham TPIA ditutup kembali menguat dengan kenaikan Rp 145 (2,94%) ke level tertinggi sepanjang masa Rp 5.075.
Begitu juga dengan saham CUAN berhasil melesat sebanyak Rp 625 (4,88%) ke level tertinggi baru sepanjang masa Rp 13.425. Berdasarkan data, saham CUAN telah melesat 60 kali atau 6.000% terhitung sejak listing perdana 8 Maret hingga 18 Desember 2023.
Lompatan harga tersebut mendorong kapitalisasi pasar saham CUAN melesat menjadi Rp 150,91 triliun menyalip kapitalisasi pasar saham BRPT senilai Rp 137,33 triliun. Sedangkan kapitalisasi pasar TPIA mencapai Rp 439,04 triliun dan BREN tetap menempati posisi kedua dengan kapitalisasi pasar Rp 956,57 triliun.
Baca Juga
Adaro Energy (ADRO) Bagikan Dividen Interim US$ 400 Juta, Simak Jadwal Ini
Sedangkan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (18/12/2023), ditutup anjlok 71,47 poin (0,99%) menjadi 7.119,52. IHSG bergerak dalam rentang 7.092,03-7.192,89 dengan nilai transaksi Rp 11,16 triliun.
Koreksi indeks dipicu atas penurunan sejumlah sektor saham, seperti saham sektor sektor infrastruktur 2,61%, sektor teknologi 2,13%, sektor transportasi 1,55%, sektor keuangan 1,07%, dan sektor konsumer non primer 1,48%.

