Cuan Rp 136,69 Triliun dari Lonjakan BREN, Aneh Saham Barito Pacific (BRPT) malah Anjlok
JAKARTA, Investortrust.id – PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN) menutup pekan ini dengan penguatan harga saham auto reject atas (ARA) setiap hari selama sepekan ini. Terjadi penguatan harga saham perusahaan milik Prajogo Pangestu ini sebanyak 202,25% dari Rp 780 menjadi Rp 2.360.
Namun kondisi berbeda ditunjukkan induk usahanya PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang justru mencatatkan penurunan harga sebanyak 15,49% dalam sepekan. Padahal, BRPT merupakan pemegang saham pengendali BREN dengan kepemilikan 66,67% saham.
Baca Juga
Saham BREN dan STRK Kejar-kejaran ARA, Siapa Yang Paling Cuan?
Saham BREN memulai debut perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak Senin (9/10/2023) dengan melepas sebanyak 4,01 miliar saham dengan harga pelaksanaan Rp 780 per saham, sehingga total dana yang diraup dari aksi ini mencapai Rp 3,13 triliun.
Dengan kepemilikan BRPT sebanyak 86,15 miliar saham BREN, perseroan telah meraup cuan atas kenaikan harga hingga Rp 136,69 triliun dari saham tersebut. Sebagaimana diketahui, kapitalisasi pasar saham BREN kini mencapai Rp 315,73 triliun atau berada di peringkat ke enam untuk emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI.
Lalu, bagaiman prospek target harga saham BRPT? Samuel Sekuritas dalam riset terakhirnya menyebutkan bahwa target harga saham Barito Pacific (BRPT) diuntungkan atas pelaksanaan IPO saham Barito Renewable (BREN).
Baca Juga
“Kami menilai IPO saham BREN akan menjadi sentimen positif terhadap saham BRPT. Saham perseroan juga didukung pertumbuhan segmen bisnis petrokimian perseroan, sehingga kami mempertahankan rekomendasi beli saham BRPT dengan target harga direvisi naik menjadi Rp 1.590 per saham,” tulis tim riset Samuel Sekuritas dalam riset terbarunya.
Samuel Sekuritas menyebutkan bahwa Barito Renewable (BREN) merupakan anak perusahaan BRPT dengan total kepemilikan 66,67% saham. BREN fokus pada sektor energi panas bumi (geotermal) dengan mengoperasikan 3 wilayah kerja panas bumi (WKP), yaitu Salak, Wayang Windu, dan Darajat. Ketiga pembangkit tersebut memiliki kapasitas 885 MW atau setara dengan 38% dari total kapasitas operasional geotermal Indonesia.
Baca Juga
Saham Melesat 164%, Jaya Agra (JAWA) Ungkap Manfaat Konversi Utang Ini
BREN, terang riset tersebut, merupakan operator geotermal terbesar di Indonesia dan keempat terbesar dunia dengan faktor ketersediaan yang solid. BREN juga memiliki kinerja keuangan yang stabil dan saat ini telah memegang beberapa kontrak penjualan jangka panjang.
Target harga tersebut, terang Samuel Sekuritas, juga menggambarkan membaiknya kinerja segmen petrokimia didukung peningkatan spread harga jual polyolefins. Perseroan juga didukung kinerja anak usahanya PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) sebagai market leader industri petrokimia Indonesia.

