Performa Sesuai Estimasi, Sekuritas Ini Pertahankan Buy Mitratel (MTEL)
JAKARTA, investortrust. – Pertumbuhan kinerja pendapatan, EBITDA, dan laba bersih PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk atau Mitratel (MTEL) tahun 2023 telah sesuai estimasi. Begitu juga dengan rasio tenansi menunjukkan peningkatan menjadi 1,51 kali, dibandingkan tahun sebelumnya 1,47 kali. Pelaku pasar pun mengapresiasi pencapaian MTEL yang sangat impresif ini.
Analis Mandiri Sekuritas Kresna Hutabara, Danif Nouval Esfandiari dan Henry Tedja mengatakan, pertumbuhan tersebut membuktikan keberhasilan MTEL dalam mempertahankan kenaikan dua digit pendapatan, EBITDA, dan laba bersih berturut-turut dalam tiga tahun terakhir atau sejak listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2021.
Baca Juga
Cetak Lompatan Laba Jadi Rp 2,01 Triliun, Manajemen Mitratel (MTEL) Ungkap Hal Ini
“Realisasi pertumbuhan dua digit pendapatan, EBITDA, dan laba bersih tersebut sudah sesuai dengan target managemen dalam tiga tahun terakhir. Sedangkan berdasarkan perkiraan Mandiri Sekuritas, realisasi tersebut sedikit di atas ekspektasi,” terang analis Mandiri Sekuritas.
Realisasi pendapatan tahun lalu merefleksikan 100,1% dari target yang diberikan Mandiri Sekuritas dan consensus analis. Pencapaian EBITDA senilai Rp 6,93 triliun merefleksikan 100,5% dari target Mandiri Sekuritas dan 100,4% dari perkiraan consensus analis.
Begitu juga dengan raihan laba bersih perseroan tahun lalu Rp 2,01 triliun berada di atas target Mandiri Sekuritas atau setara dengan 103%. Namun sedikit lebih rendah dari perkiraan consensus analis atau mencerminkan 97,5%.
Baca Juga
Mitratel (MTEL) Masuk Indeks LQ45, Begini Dampaknya terhadap Target Harga
Mandiri Sekuritas juga memberikan pandangan positif terhadap keberhasilan Mitratel (MTEL) mengerek naik rasio tenansi penyewaan menara telekomunikasi dari 1,47 kali menjadi 1,51 kali tahun 2023.
“Strategi akuisisi aset menara membantu Mitratel untuk menaikkan rasio tenansi menjadi 1,51 kali tahun ini. Kami juga menilai bahwa strategi akuisisi ini juga sejalan dengan neraca keuangan perseroan yang masih kuat, memperkuat perseroan sebagai perusahaan menara terbesar, dan memperkuat hubungan dengan operator telekomunikasi,” tulis riset tersebut.
Tahun lalu, Mitratel berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih sebanyak 12,6% menjadi Rp 2,01 triliun, dibandingkan tahun 2022 senilai Rp 1,79 triliun. Kenaikan sejalan dengan pertumbuhan pendapatan sebanyak 11,2% dari Rp 7,72 triliun menjadi Rp 8,59 triliun.
Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan, pencapaian tahun 2023 tidak lepas dari ekspansi Mitratel dalam menambah portofolio aset, terutama di luar Jawa. Strategi tersebut sejalan dengan rencana bisnis perusahaan operator seluler yang gencar ekspansi ke luar Jawa, baik untuk memperluas coverage, pangsa pasar hingga meningkatkan kualitas koneksi internet di rural area.
Baca Juga
Operator Telko Gencar Ekspansi Luar Jawa, Saham Mitratel (MTEL) Top Picks
Mitratel (MTEL) mencatatkan bisnis penyewaan menara atau tower leasing menjadi penyumbang terbesar pendapatan tahun lalu setara dengan Rp 7,14 triliun. Bisnis ini catatkan pertumbuhan 12,0% sepanjang 2023. Sedangkan pendapatan segmen fiber optic terus berkembang dengan raihan Rp 207 miliar.
Tak hanya mencatatkan kenaikan pendaptan, Mitratel mampu efektivitas operasional dengan menjaga kenaikan beban operasional di bawah pertumbuhan pendapatan. Beban operasional tahun lalu naik 8,3% menjadi Rp 4,96 triliun atau lebih rendah dari pertumbuhan pendapatan mencapai 11,2%.
Alhasil, EBITDA MTEL melonjak 12,7% menjadi Rp 6,92 triliun atau merefleksikan margin EBITDA 80,5%, naik dari realisasi tahun 2022 sebanyak 79,5%. “Kinerja keuangan Mitratel yang solid dapat tercapai berkat kinerja operasional yang sangat baik. Tahun 2023, Mitratel berhasil menambah 2.596 menara menjadi 38.014 menara,” terangnya.
Prospek bisnis MTEL ke depan juga semakin menjanjikan sebagai dampak konsolidasi operator telekomunikasi. Entitas hasil merger memiliki neraca keuangan dan fundamental yang semakin kuat. Begitupula persaingan antar sesama operator telko bakal semakin sehat seiring menyusutnya jumlah pemain.
Baca Juga
Telkom (TLKM) Tuntaskan Pengalihan Bisnis Data Center Bernilai US$ 219 Juta
Hal tersebut memampukan para operator untuk menggelar ekspansi demi memperluas pangsa pasar, terutama ke sejumlah wilayah baru pertumbuhan ekonomi. Selain itu, mereka juga bakal lebih fokus memperbaiki kualitas jaringan dan meningkatkan coverage. Semua itu berdampak pada meningkatnya permintaan menara dan fiber, terutama di rural area yang selama ini dikuasai MTEL
Catatan saja, merger Indosat dan Hutchinson (IOH) pada 2022 silam terbukti memberikan efek positif terhadap MTEL. Begitupula jika FREN dan EXCL jadi menggabungkan bisnisnya. “Kalau EXCL dan FREN jadi bergabung, tenant terbesar ada di TBIG dan TOWR. Hal ini bisa menurunkan tenancy ratio keduanya. Sedangkan ke MTEL pengaruhnya tidak terlalu besar,” kata Robertus Hardy, Head of Research Team Mirae Asset Sekuritas.
MTEL justru berpotensi menangguk cuan apabila entitas merger EXCL dan FREN langsung menggeber ekspansi ke luar Jawa, menyusul langkah IOH yang sudah ekspansi lebih dulu.

