Performa Mitratel (MTEL) Akan Lampaui Ekspektasi?
JAKARTA, investortrust.id – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel diprediksi mampu melampaui ekspektasi. Menurut kalangan analis, anak perusahaan PT Telkom Tbk yang pernah meraih dana IPO terbesar kedua sepanjang sejarah tersebut mampu merealisasikan performa keuangan lebih tinggi dari perkiraan manajemen perseroan dengan pertumbuhan pendapatan 11% tahun ini.
Indo Premier Sekuritas menyebutkan, perkiraan pencapaian lebih tinggi tersebut didukung tingginya permintaan menara telekomunikasi perseroan sepanjang semester I-2023 dan ekspektasi berlanjut di semester II tahun ini. Begitu juga dengan margin keuntungan diprediksi meningkat secara konsisten.
Analis Indo Premier Sekuritas Michelle Nugroho dan Giovanni Dustin mengatakan, ekspektasi performa bakal melampaui target yang telah ditetapkan manajemen terlihat pada keberhasilan perseroan mengamankan sebanyak 1,700 order menara telko dari EXCL (PT XL Axiata Tbk) atau lebih tinggi dari target sekitar 1.500 menara. Permintaan menara dari Indosat mencapai 1.500 menara atau sesuai ekspektasi dan sebanyak 500 menara telko dari Telkomsel atau sesuai harapan.
Perseroan juga berpotensi mendapatkan tambahan pendapatan dari pembaharuan perjanjian penyewaan sebanyak 4.000 menara oleh Telkomsel pada kuartal II-2023. Pendapatan penyewaan tersebut kemungkinan baru dicatatkan pada semester II tahun ini.
“Kami memperkirakan bahwa tingkat pertumbuhan pendapatan perseroan tahun ini bisa mencapai 13% atau lebih tinggi dari perkiraan manajemen dan realisasi tahun lalu sekitar 12,5%,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, pekan lalu.
Terkait segmen penyewaan fibre optic, Indo Premier Sekuritas menyebutkan, perseroan telah mengelola sebanyak 27 ribu km dengan rasio utilisasi sekitar 1 kali yang berasal dari Indosat dengan penyewa terbesar mencapai 90%. Kemudian disusul XL, Smartfren, dan Telkomsel.
Meskipun rasio utilisasi serat optik masih rendah, Mitratel berhasil mencatatkan margin EBITDA segmen ini mencapai 50%. Angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi 70% dalam jangka panjang, seiring dengan peningkatan rasio utilisasi.
Selain faktor tersebut, Michelle dan Giovanni menyebutkan, Mitratel memiliki potensi pertumbuhan anorganik baik segmen menara telekomunikasi dan fiber optik. Hal ini didukung faktor kuatnya neraca keuangan perseroan, sehingga bisa merealisasikan akuisisi-akusisi dalam waktu dekat.
Saat ini, riset tersebut menyebutkan, Mitratel (MTEL) tengah berdiskusi dengan Telkomsel untuk mengakuisisi sebanyak 2.600 menara telekomunikasi dengan target akhir tahun ini atau awal tahun depan. Perseroan juga memiliki ruang yang besar untuk menambah jangkauan fiber optik dengan membuka opsi akuisisi.
Berbagai faktor tersebut mendorong Indo Premier Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham MTEL dengan target harga Rp 880. Target tersebut mempertimbangkan valuasi saham MTEL yang tergolong murah, dibandingkan saham sejenis. Pada penutupan 26 September 2023, saham MTEL ditutup pada level Rp 675.
Indo Premier memperkirakan kenaikan laba bersih Mitratel menjadi Rp 2,12 triliun tahun ini, dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 1,78 triliun. Pendapatan perseroan juga diprediksi bertumbuh dari Rp 7,72 triliun menjadi Rp 8,72 triliun.
Didukung Induk
Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas Niko Margaronis dalam riset yang diterbikan pekan lalu menyebutkan, Mitratel akan mendapatkan sentimen positif dari rencana PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) untuk memisahkan atau spin-off aset fiber optik fiber to the tower (FTTT) dan fiber to home (FTTH) menjadi entitas baru melalui InfraCo.
Hingga kini, Mitratel menguasai aset fiber sepanjang 27.000 km di seantero Nusantara. “Pemisahan tersebut menjadi signal bahwa aset FTTT Telkom kemungkinan ditransfer ke Mitratel ke depan,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan Selasa (26/9/2023).
Penguatan prospek saham MTEL, terang dia, juga datang dari sejumlah berita yang menyebutkan bahwa PT Indosat Ooredoo Tbk (ISAT) akan menjual aset fiber bernilai US$ 1 miliar. Jika hal ini benar, Mitratel bersama dengan Infraco akan membentuk konsorsium untuk memenangi penawaran tersebut.
“Kami menilai bahwa Telkom akan mengupayakan melalui Mitratel dan Inforaco akan agresif mendekati Indosat untuk mengamankan aset fiber tersebut dan nantinya disewakan kembali setelah didapatkan,” kata Niko.
Selain faktor tersebut, lanjut Noko, Mitratel mendapatkan dukungan positif dari tren pertumbuhan segmen managed service untuk Mobile Network Operators (MNO). Nilai pasar segmen manage services provider diperkirakan mencapai Rp 2,5 triliun pada 2028 dan perseroan merupakan pemimpin pasar segmen ini.
Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham MTEL dengan target harga Rp 960. Target tersebut merefleksikan rata-rata pertumbuhan tahunan EPS berkisar 16% pada 2022-2025. Target tersebut menunjukkan peluang pertumbuhan pesat segmen fiber baik secara organik dan anorganik.
Target harga tersebut juga merefleksikan perkiraan peningkatan laba bersih perseroan menjadi Rp 2,24 triliun tahun ini, dibandingkan raihan tahun lalu Rp 1,78 triliun. Pendapatan perseroan juga diproyeksikan naik dari Rp 7,72 triliun menjadi Rp 8,59 triliun.
Prospek Saham MTEL
BRI Danareksa Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 960
Indo Premier Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 880
Kinerja Keuangan
Direktur Utama Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko menyatakan, aksi akuisisi menara dan perluasan jaringan serat optik yang gencar dilakukan perseroan dalam beberapa waktu terakhir, tidak hanya berhasil meningkatkan pangsa pasar dan pendapatan, namun juga membantu pertumbuhan ekosistem industri telekomunikasi di Tanah Air. MTEL juga agresif mengembangkan infrastruktur telekomunikasi di luar Jawa.
Itulah sebabnya, MTEL menorehkan pertumbuhan kinerja cemerlang sepanjang semester I-2023. Laba bersih tercatat sebesar Rp 1,02 triliun, meningkat 14,7% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya (yoy) sebesar Rp 892 miliar. “Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh kenaikan jumlah tenant, monetisasi bisnis, serta peningkatan efisiensi kinerja perusahaan,” kata Theodorus yang akrab disapa Teddy, dalam penjelasannya awal Agustus lalu.
Adapun pendapatan MTEL mencapai Rp 4,13 triliun, tumbuh 10,8% yoy. Bisnis menara memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan dengan porsi 93,2%. Adapun segmen bisnis Mitratel lainnya, yakni tower related business, semakin berkurang kontribusinya dengan pangsa 6,8% terhadap total pendapatan.
Teddy mengaku bahwa performa keuangan paruh pertama tersebut sudah sesuai skenario (on the track) dengan rencana bisnis yang telah dicanangkan manajemen. Pertumbuhan pendapatan merupakan hasil dari strategi perseroan dalam melakukan ekspansi menara, penambahan tenant, serta monetisasi segmen bisnis lainnya, seperti tower fiberization.
Per akhir Semester I-2023, Mitratel memiliki 36.719 menara, atau meningkat 27,6% dibanding periode sama tahun lalu. Tambahan menara baru sejumlah 1.301 unit tersebut menempatkan Mitratel sebagai perusahaan dengan kepemilikan menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara. “Sejalan dengan peningkatan jumlah menara, jumlah tenant pun meningkat 24,6% menjadi 54.718 tenant,” kata Teddy sumringah.
Dari sisi lokasi, sebanyak 15.354 menara telekomunikasi (42%) Mitratel berada di Pulau Jawa dan 21.365 menara atau 58% tersebar di luar Jawa. Pertumbuhan jumlah penyewa di luar Jawa memang lebih cepat, sekitar 26%, sedangkan di Jawa sebesar 22%.
Atas dasar hal itu, MTEL optimistis tenancy ratio di luar Jawa bakal terus meningkat. “Keyakinan ini seiring pertumbuhan dan pemerataan ekonomi yang mendorong operator seluler di Indonesia untuk terus berekspansi,” ujar Teddy.
Sementara itu, total aset fiber optik yang dimiliki Mitratel tercatat sepanjang 27.269 km, termasuk hasil akuisisi fiber sepanjang 6.012 km pada akhir 2022. Itulah yang mendorong penambahan pendapatan sebesar Rp 86 miliar dari bisnis tower fiberization. Dengan ekspansi yang berkelanjutan, MTEL kini memiliki aset senilai Rp 56,79 triliun, antara lain berkat akuisisi dan pembangunan menara baru secara organik.
Saat ini, Mitratel juga tengah mengembangkan bisnis Power as a Service (PaaS), yakni penyediaan sumber energi untuk catu daya utama maupun sebagai cadangan ke perangkat-perangkat aktif operator telekomunikasi.
Teddy menegaskan, pihaknya telah menyiapkan strategi dan mitigasi agar perseroan tetap tumbuh sehat dan berkelanjutan, sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi pemegang saham, di tengah tantangan suku bunga tinggi, inflasi, dan potensi perlambatan ekonomi global.
Mitratel mulai menapaki bisnis menara telekomunikasi pada 2008. Seluruh operator seluler Indonesia telah menjadi tenant dengan menempatkan perangkat BTS-nya di menara Mitratel. Mitratel memiliki sisi menjadi Digital InfraCo nomor satu di pasar Asia Pasifik yang sedang berkembang dengan menawarkan layanan terbaik di kelasnya yang berkelanjutan.
Mitratel memiliki anak usaha PT Persada Sokka Tama, yang diakuisisi pada 2019. Didirikan pada tahun 2008, PT Persada Sokka Tama awalnya merupakan mitra PT XL Axiata Tbk dalam penyediaan layanan menara dengan fokus di wilayah Nusa Tenggara Barat. Pada tahun ini pula, MTEL mengakuisisi ISAT Tower.
Kemudian pada 2020, Mitratel kembali melakukan akuisisi dalam Project Reunion 6.050 Menara Telkomsel. Untuk memperkuat modal dan memenuhi kebutuhan ekspansi bisnis, Mitratel resmi menggelar initial public offering (IPO) saham pada 2021 dengan harga perdana Rp 800 dan listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 22 November 2021. Dalam IPO ini, MTEL meraih dana cukup fantastis, sebesar Rp 18,79 triliun atau kedua terbesar sepanjang sejarah setelah Bukalapak. (Hari Gunarto)
