Indah Kiat (INKP) Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Rp 2,46 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) melunasi pokok dan bunga obligasi berjelanjutan I tahap III tahun 2020 seri B senilai Rp 2,46 triliun.
Direktur dan Corsec INKP Heri Santoso dalam penjelasan remsinya, Selasa (12/12/2023), menyebutkan bahwa perseroan melalui Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah melunasi pokok obligasi senilai Rp 2,46 triliun pada 11 Desember 2023.
Sedangkan berdasarkan data KSEI, Indah Kiat juga akan kembali menghadapi obligasi jatuh tempo senilai Rp 398,81 miliar pada 26 Desember 2023.
Baca Juga
KSEI juga mengungkap total surat utang jatuh tempo Indah Kiat (INKP) tahun depan hampir Rp 4 triliun. Obligasi yang jatuh tempo terdiri atas lima seri surat utang denga total paling besar Rp 1,89 triliun.
Sementara itu, RHB Sekuritas kembali mempertahankan rekomendasi beli saham INKP dengan target harga menggiurkan Rp 22.975, meskipun volume pengiriman gbobal pulp turun pada Oktober 2023.
Tim riset RHB Sekuritas menyebutkan, volume pengiriman global pulp meningkat menjadi 4,5 juta ton pada Oktober 2023, dibandingkan Oktober 2023. Namun angka tersebut menunjukkan penurunan sebanyak 12,7%, dibandingkan realisasi September 2023.
“Penurunan pengapalan produk burbur kertas dipicu kembali normalnya permintaan kertas di China setelah terjadi lonjakan sepanjang September 2023. Sedangkan level inventori bleached hardwood kraft (BHK) dunia pada November diperkirakan naik 1-2 hari, namun tetap berada di bawah 40 hari,” tulis riset itu.
Baca Juga
Net Sell Berlanjut Rp 530 Miliar, Asing Lepas Saham GOTO hingga AMMN
Sedangkan level inventori BHK dan bleached softwood kraft (BSK) sepanjang Oktober 2023 naik satu hari menjadi 41 dan 39 hari. Meski naik, angka tersebut tergolong sangat baik di tengah penurunan permintaan sepanjang bulan tersebut.
RHB Sekuritas menyebutkan bahwa penurunan volume pengapalan Oktober tersebut sudah sesuai dengan estimasi. Sedangkan pengapalan November dan Desember diperkirakan kembali meningkat, kecuali BHK yang diprediksi tetap lanjutkan penurunan.

