Tiga Saham Prajogo Pangestu Ini Melesat per Oktober, Tapi BRPT Aneh Sendiri
JAKARTA, Investortrust.id – PT Barito Pacific Tbk (BRPT) satu-satunya saham dengan kinerja paling buruk sepanjang Oktober 2023, dibandingkan saham emiten lain dalam kelompok usaha yang dikendalikan Prajogo Pangestu.
Penurunan tajam saham BRPT tersebut berbanding terbalik dengan posisinya sebagai pemegang saham pengendali PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA). Dengan kepemilikan tersebut, perseroan telah meraup cuan Rp 260,40 triliun dari penguatan harga saham BREN hingga hari ini.
Baca Juga
Saham Prajogo Mulai Menghijau, Penguatan Tertinggi Dicatatkan Emiten Ini
Sebagaimana diketahui, saham BREN telah melesat hampir 4 kali lipat atau 385,89% terhitung sejak listing perdana pada 9 Oktober hingga penutupan sesi I hari ini. Saham BREN telah dari level IPO Rp 780 menjadi Rp 3.790 pada penutupan perdagangan sesi I hari ini.
Berdasarkan data perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi I, Kamis (26/10/2023), saham BRPT turun sebanyak Rp 30 (3,02%) menjadi Rp 960. Sedangkan sepanjang Oktober 2023 berjalan, saham BRPT telah anjlok sebanyak 26,15% dari level Rp 1.300 menjadi Rp 960.
Sedangkan tiga saham lainnya yang dikendalikan Prajogo Pangestu masih mencatatkan lompatan harga sepanjang Oktober 2023, yaitu saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) naik tipis dari level Rp 2.530 menjadi Rp 2.710.
Baca Juga
BRPT tercatat sebagai pemegang 34,65% saham TPIA dan sisanya dimiliki SCG Chemicals 30,57% dan Prajogo Pangestu mengendalikan 7,78% saham.
Begitu juga dengan saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menguat dari level penutuhpan akhir September Rp 2.860 menjadi Rp 3.170 pada perdagangan sesi I hari ini.
Prajogo Pangestu bertindak sebagai pemegang 71,18% saham BRPT, sehingga secara tidak langsung dirinya sebagai pengendali saham BREN. Prajogo juga bertindak sebagai pemegang 85,76% saham CUAN.
Terkait kinerja keuangan BRPT,perseroan berhasil membukukan kenaikan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi US$ 30,36 juta hingga Juni 2023, dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 8,84 juta. Sedangkan pendapatan turun dari US$ 1,61 juta menjadi US$ 1,37 juta.

