Harga Saham Unilever (UNVR) Dikoreksi Turun, Gara-gara Boikot?
JAKARTA, investortrust.id – Mirae Asset Sekuritas Indonesia merevisi turun harga saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menjadi Rp 3.800 dari sebelumnya Rp 4.500. Sedangkan pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (12/12/2023), harga saham UNVR masih di level Rp 3.430, turun 2% dari hari sebelumnya.
“Perkiraan multiple kami untuk UNVR, mengingat penurunan harga saham menjadi 25x P/E untuk proyeksi 2024. Namun, kami tetap memberikan rekomendasi hold untuk UNVR,” jelas Analis Mirae Asset Sekuritas Rut Yesika Simak dalam risetnya, Selasa (12/12/2023).
Tim riset Mirae Asset Sekuritas menilai, Unilever masih menghadapi berbagai tantangan. Sebut saja penurunan penjualan (downtrading), terutama pada segmen produk premiumnya.
Hal tersebut diperkirakan akan berlanjut di tengah upah minimum provinsi (UMP) yang lebih rendah dari yang diharapkan masyarakat. Mengingat, sifat konsumen Indonesia yang sangat sensitif terhadap harga, Mirae Asset memperkirakan masyarakat akan mudah berpindah dari satu produk ke produk lain. Bahkan meski Unilever meluncurkan produk baru yang inovatif.
Sekadar mengingatkan, Unilever memperkenalkan 78 produk baru, baik di segmen premium maupun value, demi menjaga daya saing. Di segmen premium, perusahaan meluncurkan Dove Micellar Shampoo Hair Boost Nourishment dengan Kalsium Kompleks dan Deep Cleanse Nourishment dengan Garam Himalaya pada 2022. Ada pula reformulasi produk Vaseline dengan gluta hyaluronan dan Ponds dengan serum pelindung sinar UV matahari yang juga naik kelas jadi produk premium.
“Lebih lanjut, kami melihat potensi pertumbuhan penjualan dan pendapatan yang terbatas. Mengingat, keberadaan perusahaan yang telah lama dan hampir sempurna dalam cakupan pasar di Indonesia,” sambung Rut.
Dia menambahkan, persaingan yang ketat juga menjadi tantangan signifikan bagi perseroan dalam mendorong pertumbuhan dan merebut kembali pangsa pasar.
Stagnasi pendapatan dan penurunan earnings per share (EPS) sebesar 41% dari 2018 hingga 2022, tegas Rut, tetap jadi masalah utama bagi perusahaan. Tantangan ini bukan hanya tentang merebut kembali pangsa pasar, tetapi juga tentang peningkatan profitabilitas di masa depan.
“Namun, kami tetap optimis tentang potensi rebound UNVR, terutama dengan restrukturisasi model bisnisnya yang diantisipasi di tahun mendatang,” imbuhnya.
Saat ditanya soal dampak gerakan boikot sejumlah masyarakat Indonesia terhadap produk Unilever, Rut menegaskan riset yang ia buat belum memasukkan prediksi pengaruh gerakan tersebut. “Kalau boikot bisa jadi faktor pemberat saja, tetapi angka yang reflect di Unilever belum ada data yang valid juga,” pungkasnya. (CR-10)
Baca Juga
Unilever (UNVR): Direksi Berbondong-bondong Mundur hingga Target Harga Saham Dipangkas

