Cetak ARA, Market Cap Barito Renewable (BREN) Salip Dua Emiten Ini
JAKARTA, Investortrust.id – Kapitalisasi pasar (market cap) PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN) melompat menjadi Rp 252,85 triliun setelah harga sahamnya kembali melesat hingga auto reject atas (ARA). Lompatan tersebut menjadikan perseroan berada diurutan ketujuh untuk kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (12/10/2023).
Berdasarkan data BEI, saham BREN dibuka langsung melesat ARA dengan penguatan Rp 375 (24,75%) menjadi Rp 1.890. Penguatan hingga ARA tersebut merupakan hari keempat bagi perseroan setelah listing perdana saham pada Senin (9/10/2023).
Baca Juga
IHSG Menguat, Enam Saham Cetak ARA Mulai dari CITY hingga BREN
Dengan harga IPO saham level Rp 780, maka kenaikan harga saham BREN setelah tercatat di BEI telah mencapai 142,30%. Cuan tersebut dicetak perseroan hanya dalam empat hari perdagangan saja. Sedangkan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) selaku pemegang 64,67% saham BREN paling diuntungkan.
Berdasarkan lompatan market cap ke Rp 252,85 triliun, BREN kini menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar ketujuh di BEI. Posisi perseroan terangkat dari urutan kesembilan kemarin setelah menggeser PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) dengan kapitalisasi pasar Rp 233,58 triliun dan PT Astra International TBk (ASII) senilai Rp 243,91 triliun.
Dalam prospectus yang diterbitkan saat IPO saham, perusahaan milik Prajogo Pangestu ini optimistis terhadap perutmbuhan bisnis ke depan, seiring dengan kebijakan energi nasional dengan target 23% pembangkitan listrik berasal dari energi terbarukan pada 2025. Hal ini diharapkan membuat kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi di Indonesia bertumbuh pesat dari 2,6 GW pada 2023 menjadi 6,7 GW pada 2030 atau CAGR sebesar 14,6%.
Baca Juga
Barito Renewables (BREN) Listing Besok, Simak Prospek Bisnisnya hingga Peran Prajogo Pangestu
Angka tersebut jauh di atas rata-rata CAGR global sebesar 5,8% pada jangka waktu yang sama. Bahkan, tahun 2030, Indonesia diharapkan menyumbang sebanyak 35% terhadap total kapasitas panas bumi global.
Pertumbuhan ini didukung oleh potensi sumber daya panas bumi Indonesia yang signifikan, pertumbuhan permintaan pasar yang pesat, dan dukungan kebijakan sebagai bagian utama rencana masa depan pemerintah untuk meningkatkan energi terbarukan dalam bauran energi.
Sedangkan dari sisi permintaan pasar, manajemen BREN menyebutkan, laju pertumbuhan tahunan energi listrik dalam negeri sebesar 4,8% pada 2023-2030. Prakiraan ini mengalami sedikit penurunan dibandingkan proyeksi pra-Covid-19, yaitu 6,5%, dalam RUPTL 2019-2028 (sebelumnya).

