Dibayangi Tekanan Global, Yield Obligasi Pemerintah RI Berpotensi Naik
JAKARTA, investortrust.id – Pasar obligasi global masih dibayangi tekanan jual, dan sentimen ini diperkirakan akan mengerek naik imbal hasil atau yield surat berharga negara (SBN) Pemerintah Indonesia.
Macro Strategist PT Samuel Sekuritas Indonesia, Lionel Priyadi mengatakan, tekanan jual terhadap obligasi global yang terjadi Jumat pekan lalu (10/11/2023), dipicu oleh rilis data ekspektasi inflasi konsumen Amerika Serikat yang naik di luar dugaan pada bulan November menjadi 4,4% secara year on year (yoy). Diketahui per Oktober inflasi konsumen AS tercatat pada level 4,2% yoy, di atas konsensus 4% yoy.
Meski begitu, tekanan aksi jual tidak sekuat sebelumnya, ‘’Akhir pekan lalu, yield 10Y UST (surat utang AS tenor 10 tahun) dan Bund (surat utang pemerintah Jerman), naik masing-masing 3 dan 7 bps menjadi 4,65% dan 2,72%. Sementara itu, indeks obligasi S&P untuk developed market maupun EMBI untuk emerging market turun -0,1%,” ulas Lionel dalam riset yang diterbitkan, Senin (13/11/2023).
Baca Juga
Bookbuilding IPO, Maja Agung Latexindo (SURI) Pasang Harga Rp 160 - Rp 170
Situasi ini mendorong naik yield obligasi rupiah pemerintah Indonesia tenor 10 tahun (10Y INDOGB) dan yield obligasi rupiah pemerintah Indonesia tenor 5 tahun (5Y INDOGB), masing-masing 8 dan 14 bps menjadi 6,85% dan 6,87% Jumat lalu.
Baca Juga
Bookbuilding IPO, Maja Agung Latexindo (SURI) Pasang Harga Rp 160 - Rp 170
Namun, kata dia, yield spread antara 10Y dan obligasi rupiah pemerintah Indonesia tenor 2 tahun (2Y INDOGB) masih bertahan di -9 bps akibat aksi jual, yang juga meningkatkan yield 2Y sebesar 8 bps menjadi 6,95%.
Terkait itu Lionel memperkirakan, yield 10Y INDOGB masih akan bergerak naik ke rentang 6,85-6,95% hari ini, Senin (13/11/2023).
Sementara pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan masih cenderung konsolidasi dalam rentang Rp 15.650 – Rp 15.750 per dolar AS, akibat pergerakan indeks dolar yang mendatar pada Jumat pekan lalu.

