Pasar Dibayangi Inflasi, Obligasi Pemerintah Tenor 2 Tahun Tetap Menawan
JAKARTA, investortrust.id – Kenaikan harga minyak mentah global merupakan ancaman bagi reakselerasi inflasi. Diketahui harga minyak jenis brent bertengger di level US$ 90.6 per barel.
Macro Strategist PT Samuel Sekuritas Leonel Priyadi menyebut kenaikan minyak menjadi momok bagi para investor global pasar obligasi, terutama di emerging market.
‘’Hal ini terlihat dari berlanjutnya penurunan indeks obligasi EMBI untuk emerging market sebesar -0.4% semalam, Rabu (6/9/2023) Indeks ICBI juga ikut turun -0.2%, dan imbal hasil (yield) 10Y INDOGB naik 10 bps menjadi 6.54%,’’ paparnya dalam riset yang dikutip, Kamis (7/9/2023).
Baca Juga
IHSG Melorot 0,39%, KTT ASEAN Belum Berimbas Positif ke Pasar Saham
Kendati begitu menurutnya, persepsi investor asing terhadap pasar obligasi domestik sepertinya sudah mulai bergeser menjadi lebih positif, yang tercermin dari arus masuk modal asing pada Selasa lalu (5/9/2023) sebesar US$ 270,8 juta.
‘’Ada kemungkinan optimisme investor asing masih akan tetap tinggi karena terjadinya bearish steepening dalam dua hari terakhir, yang mengakibatkan yield spread INDOGB 10Y versus 2Y (obligasi Pemerintah Indonesia tenor 10 tahun dan 2 tahun) naik menjadi 22 bps (5/9/2023: 13 bps),’’ urainya.
Untuk itu pihaknya mempertahankan rekomendasi overweight INDOGB 2Y. ‘’Kami menyematkan target yield 6% dan yield spread 10Y versus 2Y di 40 bps. Kami memperkirakan yield 10Y INDOGB dan rupiah masih akan melemah ke rentang masing-masing di 6.55-6.65% dan Rp 15.300-15.400 per dolar AS.
Baca Juga
Diskusi Soal Merger Alot, Bank MNC Pamer Pertumbuhan Laba 13,89%

