Klaim Pengangguran AS Turun, Greenback Menguat dan Yield Obligasi Pemerintah AS Naik
NEW YORK, investortrust.id – Permohonan klaim pengangguran AS turun dan pasar tenaga kerja yang menunjukkan ketahanan serta risalah Federal Reserve yang membuka pintu kenaikan suku bunganya lebih lanjut mendorong dolar AS menguat. Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, naik 0,13 persen menjadi 103,57 pada akhir perdagangan Kamis waktu AS atau Jumat pagi WIB (18/08/2023).
Sebagaimana dilansir Antara, penguatan dolar mendapat dukungan dari serangkaian data ekonomi AS baru-baru ini, yang memperkuat pandangan bahwa suku bunga acuan Fed Funds Rate (FFR) akan tetap tinggi untuk beberapa waktu ke depan. Risalah pertemuan kebijakan The Fed pada Juli lalu menunjukkan para pejabat Bank Sentral AS itu terbelah pendapatnya mengenai perlunya kenaikan suku bunga lebih banyak bulan lalu, dengan mempertimbangkan risiko ekonomi jika suku bunga didorong terlalu jauh.
"Ketika Anda kembali ke risalah The Fed, ada kemungkinan The Fed menaikkan lagi suku bunga pada November nanti, tapi saya pikir pasar belum ingin berdagang sekitar November," kata kepala analis mata uang di ForexLive Adam Button.
Sementara itu, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Kamis (17/8/2023) waktu setempat, permohonan tunjangan pengangguran AS turun 11.000 menjadi 239.000 untuk pekan yang berakhir 12 Agustus. Pada minggu sebelumnya angkanya mencapai 250.000.
Yield Obligasi AS Melambung
Penguatan dolar juga dipengaruhi lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil US Treasury 10-year naik menjadi 4,33%, mendekati level tertinggi dalam 16 tahun terakhir.
"Ekonomi mungkin memanas, bukannya mendingin, karena obat moneter dari suku bunga The Fed yang lebih tinggi, 5,5%, tidak memperlambat permintaan agregat seperti yang seharusnya dikatakan oleh buku pelajaran ekonomi,” kata Christopher Rupkey, kepala ekonom di FWDBONDS.
Laporan Biro Sensus AS pada Kamis (17/08/2023) menunjukkan bahwa penjualan ritel e-commerce AS untuk kuartal kedua lalu naik 2,1 persen dari kuartal ke kuartal menjadi 277,6 miliar dolar AS, setelah kenaikan 3,0 persen pada kuartal sebelumnya.
Sementara itu, meskipun tingkat inflasi utama Inggris menurun tajam, faktor-faktor utama kenaikan harga yang dipantau oleh Bank Sentral Inggris gagal menunjukkan tanda-tanda mereda pada Juli lalu. Hal ini meningkatkan taruhan bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunganya lebih tinggi lebih lama.
Pada akhir perdagangan bursa New York, pound Inggris naik menjadi 1,2728 dolar AS dari 1,2725 dolar AS. Sedangkan euro turun menjadi 1,0857 dolar AS dari 1,0879 dolar AS pada sesi sebelumnya.

