Unggul Dibanding Jepang dan Malaysia, IDXCarbon Diyakini Punya Prospek Cerah
JAKARTA, investortrust.id – Volume transaksi Bursa Karbon Indonesia (ICDCarbon) sejak diresmikan sampai dengan 12 Oktober 2023 mencapai 459.970 ton ekuivalen karbon. Pencapaian ICDX Carbon jauh lebih baik jika dibandingkan dengan transaksi bursa karbon Malaysia yang hanya sekitar 166.500 ton maupun bursa karbon Tokyo yang sekitar 4.732 ton.
“Kita sudah membukukan transaksi yang sangat baik sejak diluncurkannya Bursa Karbon Indonesia. Sampai hari ini atau sampai dengan kemarin tanggal 12 Oktober 2023, kita sudah membubuhkan transaksi 459.970 ton ekuivalen karbon,” ujar Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, dalam acara Sosialisasi Perdagangan Karbon Melalui IDXCarbon, Jumat (13/10/2023).
Sosialisasi melalui zoom meeting ini diikuti sejumah pengguna jasa bursa, diantaranya wakil dari Astra Group. Hadir pula pemilik unit karbon seperti pihak Pertamina maupun PT PLN Nusantara Power.
Baca Juga
Beli 3.000 Ton Karbon, Bank Mandiri (BMRI) Jadi Pionir di Bursa Karbon Indonesia
Melihat performa IDXCarbon sejauh ini, menurut Jeffrey Hendrik, peran bursa karbon Indonesia akan sangat strategis. Pencapaian tersebut diharapkan bisa meningkatkan optimisme dunia korporasi di Indonesia.
Performa ICDX Carbon juga mencerminkan betapa besarnya potensi ekonomi karbon di Indonesia. Oleh karena itu, Jeffrey berharap, pencapaian positif saat ini maupun ke depan dapat dinikmati oleh seluruh komponen masyarakat di Indonesia.
Seiring dengan itu, keberadaan IDXCarbon diharapkan menjadi motor untuk menggerakkan upaya nyata penurunan emisi karbon. Hal ini penting untuk mencapai target emisi karbon nol persen sebagaimana dicanangkan pemerintah Indonesia.
Head of Business Development Bursa Efek Indonesia, Ignatius Wicaksono memaparkan, berdasarkan WEF Global Risk Report yang terbit pada 2021, bencana terbesar bagi umat manusia adalah climate action failure. “Apabila tidak bisa mencegah peningkatan suhu di dunia, manusia akan mengalami dampak yang luar biasa,” ujar Ignatius.
Baca Juga
Resmi Diluncurkan Jokowi, BEI Catat 459.953 Ton Unit Karbon Ditransaksikan di IDXCarbon
Ia menilai, carbon pricing merupakan langkah konkret untuk megatasi climate change. Pada sisi lain, perusahaan yang mencemari lingkungan berlebih harus membayar karbon yang mereka produksi.
Senior Analyst Bursa Efek Indonesia, Puspita Pratiwi, mengatakan, bagi perusahaan yang ingin menjual unit karbon melalui IDXCarbon, harus mendaftarkan diri menjadi pengguna jasa bursa karbon. Syaratnya Perusahaan tersebut harus memiliki dua orang perwakilan untuk menjalankan perdagangan di Bursa Karbon Indonesia.
Perusahaan penjual juga diwajibkan memiliki akun bank yang tersambung ke BI-FAST dan BI-RTGS. Persyaratan lain berupa laporan keuangan tahunan maupun sejumlah dokumen pendukung lainnya. (CR-4)
Baca Juga

