BEI Sebut IDXCarbon Sebagai Upaya Wujudkan Nol Emisi Karbon
JAKARTA, Investortrust.id - Eksploitasi bumi berlebihan dalam rangka memburu manfaat ekonomi, telah membawa dampak pada kerusakan alam yang amat parah.
Mengukur seberapa parah kerusakan alam, dapat dirasakan dari naiknya suhu bumi yang telah menembus ambang batas pada level 1,5 derajat celcius.
Pada level ini saja sudah terjadi perubahan iklim yang cukup parah dan mendatangkan banyak bencana.
Baca Juga
Emiten Infrastruktur Grup Salim (META) Timbang Akuisisi Tol Waskita, Begini Syaratnya
Bisa dibayangkan bila perubahan iklim ini tidak dikendalikan, pemanasan global pasti bakal makin parah, bahkan bisa jadi akan meninggi hingga level 5 derajat celcius. Sangat mengerikan!
Kepala Divisi Pengembangan Bisnis II Bursa Efek Indonesia, Ignatius Denny Wicaksono, mengatakan, kerusakan alam yang disebabkan pemanasan global telah mendatangkan kerugian ekonomi signifikan.
‘’Kerusakan alam telah menyebabkan penurunan ekonomi hingga 45%,” papar Denny saat acara Edukasi Wartawan Pasar Modal terkait Bursa Karbon Indonesia yang digelar secara daring dari Jakarta, Selasa, (10/10/2023).
Menyadari kondisi ini, sejak jauh hari sejumlah negara di dunia sepakat untuk melawan perubahan iklim ini, salah satunya menandatangani “Paris Agreement” di tahun 2015. Semua sepakat suhu bumi harus ditahan maksimal 2 derajat. “Jangan sampai 2 derajat, itu adalah tujuan seluruh bangsa-bangsa untuk melawan perubahan iklim,” imbuh Denny.
Berbagai upaya pun dilakukan dunia dalam mengendalikan suhu bumi, salah satunya menurunkan emisi karbon, dengan target net zero emission pada tahun 2050.
Baca Juga
Kuartal III-2023, BBTN Salurkan Pembiayaan UMKM Rp 3,5 Triliun
Terkait itu, Indonesia berinisiatif mengembangkan bursa karbon. “Salah satu pencapaiannya adalah bagaimana si karbon ini dijadikan suatu instrumen yang bernilai (ekonomi karbon). Jadi karbon yang dikeluarkan harus dibayar, sementara mereka yang bisa menurukan jejak karbon akan mendapat bayaran lebih,” paparnya.
Inisiatif ini diharapkan membuat pelaku ekonomi termotivasi membuat proyek-proyek ramah lingkungan, tentunya demi mendapatkan manfaat ekonomi dari nilai karbon yang mereka hasilkan.
Dikatakan, carbon pricing/nilai ekonomi karbon dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dengan disinsentif yaitu biaya tambahan bagi pihak-pihak yang mngeluarkan emisi lebih tinggi.
Kehadiran bursa karbon Indonesia (IDXCarbon) yang diselenggarakan oleh BEI menurut Denny, merupakan upaya untuk memfasilitasi nilai ekonomi karbon, sehingga mereka yang mampu menekan karbon mendapat manfaat ekonomi. Sebaliknya mereka yang memproduksi karbon lebih banyak harus membayarnya dengan membeli kredit karbon di bursa karbon. (Sivana Zahla Putri Ritonga-CR-5)

