Meski Geopolitik Bergejolak, Trimegah Tetap Optimistis AUM Industri Capai Rp 1.000 T
JAKARTA, investortrust.id – Direktur Utama Trimegah Asset Management Antony Dirga menyebutkan peningkatan tensi geopolitik Timur Tengah setelah Israel dan Iran kembali memanas tidak terlalu berpengaruh terhadap target asset under management (AUM) atau dana kelolaan reksa dana ke level Rp 1.000 triliun dalam empat tahun ke depan.
Baca Juga
NAB Reksa Dana Kuartal I Turun, Sebaliknya Dua Produk Ini justru Terbang
Hingga kuartal I-2024, nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana kembali turun menjadi Rp 490,08 triliun. Angka tersebut menunjukkan penurunan dari realisasi akhir Maret 2023 senilai Rp 504,17 triliun. Realisasi NAB senilai Rp 490,08 triliun tersebut menjadi angka terendah dalam tiga bulan terakhir.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), NAB Januari 2024 mencapai Rp 504,58 triliun, kemudian turun menjadi Rp 499,30 triliun pada Februari 2024, dan kembali turun menjadi Rp 490,08 triliun pada Maret 2024.
“Sentimen geopolitik tidak akan terlalu berpengaruh terhadap target AUM reksa dana Rp 1.000 trilliun, hanya saja jenis reksa dana yang bertumbuh mungkin mengikuti perkembangan situasi di dunia,” ujar Antony pada investortrust.id, Senin (22/4/2024).
Baca Juga
Meski IHSG Merosot, Kinerja Reksa Dana Indeks Diproyeksi Tetap Moncer
Target dana kelolaan Rp 1.000 triliun tetap dapat dicapai dalam hitungan waktu empat tahun. Hal ini merujuk pada data bahwa pada akhir tahun 2023, dana kelolaan industri reksa dana sudah berada di Rp 824 trilliun, angka tersebut terdiri atas reksa dana dan kontrak pengelolaan dana (KPD).
“Dengan asumsi real pertumbuhan GDP sebesar 5% per tahun, target Rp 1.000 trilliun dapat tercapai dalam hitungan empat tahun,” paparnya.
Antony melanjutkan, pihaknya memprediksi tahun ini upside (berpotensi meningkat) dari obligasi jangka panjang akan cenderung terbatas, menimbang adanya ketidakpastian global dan tingkat inflasi yang terlihat masih tinggi.
Baca Juga
MAMI: Kondisi Ekonomi Makro Bisa Usik Tren Pertumbuhan Reksa Dana
Berbagai kondisi tersebut mendorong Trimegah untuk tetap fokus pada strategi yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu mengalokasikan dana ke obligasi dengan tingkat durasi pendek.
“Dari awal tahun, kami berpendapat bahwa upside untuk obligasi jangka panjang di Indonesia terbatas menimbang adanya ketidakpastian global dan tingkat inflasi yang terlihat masih tinggi. Jika menimbang risk reward tersebut, kami prefer mengalokasikan dana di portofolio ke obligasi dengan tingkat durasi yg pendek, so far strategi ini terbukti benar,” pungkasnya. (CR-4)

