Industri Kripto di Asia Dibayangi Peningkatan Serangan Siber
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ancaman serangan siber terhadap industri aset kripto semakin menjadi perhatian regulator di sejumlah negara Asia. India memperingatkan peningkatan serangan yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), sementara Korea Selatan mendesak bursa kripto memperkuat sistem keamanan dan meningkatkan penyimpanan aset dalam dompet dingin (cold wallet).
Badan keamanan siber nasional India, Indian Computer Emergency Response Team (CERT-In), pada Rabu memperingatkan adanya kelompok peretas yang memanfaatkan AI untuk menyerang bursa kripto dan perusahaan keuangan. Pelaku yang diberi label “CRAFTY FALCON” tersebut dilaporkan mencuri kunci dompet digital (wallet keys) dan menguras dana korban.
CERT-In menyebut ancaman tersebut masih aktif. Pihaknya terus menerima laporan serangan yang berhasil menimpa lembaga keuangan nonbank (NBFC) dan perusahaan teknologi finansial (fintech), meskipun sejumlah entitas telah menerima peringatan dan melakukan langkah perbaikan.
Peringatan tersebut memperkuat kekhawatiran mengenai pemanfaatan perangkat AI untuk meningkatkan kemampuan serangan siber. Pada Oktober lalu, perusahaan keamanan siber CrowdStrike melaporkan penggunaan perangkat pengujian penetrasi berbasis AI bernama ARTEX, bersama Claude Code dan model AI lainnya, dalam serangan terhadap perusahaan keuangan di Korea Selatan.
Baca Juga
Belajar dari Peretasan Binance, OJK Perketat Perhatian pada Keamanan Bursa Kripto
Di Korea Selatan, Komisi Jasa Keuangan atau Financial Services Commission (FSC) mendesak bursa kripto domestik meningkatkan proporsi aset pengguna yang disimpan dalam cold wallet. Langkah tersebut dilakukan setelah insiden peretasan yang menimpa Binance dengan nilai kerugian yang disebut mencapai US$6,3 miliar.
Mengutip Coinmarketcapnews, Sabtu (7/11/2026) FSC menggelar pertemuan darurat bersama regulator, badan keamanan siber, dan penyedia layanan aset kripto untuk mengevaluasi sistem keamanan. Evaluasi mencakup pengendalian akses teknologi informasi, prosedur persetujuan dan penandatanganan transaksi penarikan dana, serta hak akses administrator.
Korea Selatan sebenarnya telah mewajibkan bursa menyimpan sedikitnya 80% aset kripto pengguna dalam cold wallet. Namun, sejumlah bursa tercatat memiliki porsi penyimpanan lebih tinggi. Upbit menyimpan 99,17% asetnya dalam dompet dingin, Bithumb 94,76%, dan Coinone 85%.
Selain memperketat keamanan bursa, Bank of Korea juga menyurvei 31 lembaga keuangan untuk mengukur paparan risiko terhadap industri kripto. Survei tersebut mencakup skenario penghentian sementara operasional bursa terbesar di Korea Selatan akibat peretasan, penurunan harga aset kripto berkepanjangan, serta potensi kerugian besar pada lembaga keuangan akibat insiden terkait kripto.
Baca Juga
Saudara Kim Jong Un Bantah Tuduhan Korea Utara Dalangi Peretasan Binance dan Bybit, AS Jadi Dalang?
Sementara itu, pemerintah Korea Selatan mendukung penundaan penerapan pajak atas keuntungan investasi kripto selama dua tahun lagi hingga 2029. Di sisi lain, Korea Utara membantah tuduhan Amerika Serikat mengenai keterlibatan kelompok peretas yang didukung negara tersebut dalam insiden peretasan Binance.
Perkembangan regulasi juga terjadi di Hong Kong. Platform aset kripto Crypto.com akan menghentikan layanan aplikasi konsumennya di wilayah tersebut mulai 1 Februari 2027. Perusahaan menyatakan pelanggan terdampak telah menerima pemberitahuan dan akan memperoleh panduan penutupan akun serta penarikan dana.
Keputusan itu diambil ketika permohonan lisensi entitas lokal Crypto.com masih berada pada status deemed-to-be-licensed, yakni status transisi yang belum merupakan persetujuan regulasi penuh. Perusahaan menyatakan tetap mengupayakan persetujuan untuk operasional bursa yang ditujukan bagi investor institusional.
Di sektor pengelolaan aset, Animoca Brands memperoleh izin dari Financial Services Regulatory Authority (FSRA) Abu Dhabi Global Market untuk mengelola dana investasi bagi klien nonritel. Izin tersebut diberikan kepada anak perusahaannya, Animoca Asset Management (AD) Limited, sehingga perusahaan dapat mengelola dana yang menghimpun modal dari investor profesional.
Hong Kong juga memperluas pengembangan infrastruktur keuangan berbasis token. Melalui Project Ensemble, otoritas setempat memungkinkan penyelesaian transaksi berbasis token selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu. Otoritas moneter Hong Kong turut menyiapkan uji coba stablecoin teregulasi untuk transaksi yang melibatkan surat utang pemerintah berbasis token.
Selain itu, Hong Kong membuka perdagangan sekunder bagi dana investasi berbasis token. Perkembangan tersebut menunjukkan upaya wilayah itu memperluas pemanfaatan teknologi tokenisasi dalam pasar keuangan, di tengah meningkatnya perhatian terhadap keamanan dan pengawasan industri aset digital.
