Pemilu AS Jadi Harapan, Harga Minyak Dunia 2027 Masih Dibayangi Konflik Selat Hormuz?
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Kenaikan harga minyak dunia bukan sekadar persoalan perdagangan komoditas di pasar internasional. Bagi masyarakat yang setiap hari bergantung pada kendaraan bermotor untuk mencari nafkah, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) berarti tambahan pengeluaran yang sulit dihindari.
Pengalaman itu dirasakan Alam Krisna (42), pekerja lapangan yang setiap hari menggunakan sepeda motor dari Cibinong menuju Jakarta Pusat. Ketika harga Pertamax naik menjadi Rp 16.250 per liter pada Juni 2026, pengeluaran BBM bulanannya meningkat. "Saya butuh tambahan uang buat isi full tank," ujar Alam saat dihubungi Investortrust.id, Sabtu (13/6/2026).
Baca Juga
Bahlil Ungkap Storage di Sumatra Bakal Tingkatkan Cadangan Minyak Nasional Jadi 60 Hari
Pengalaman pengguna BBM memperlihatkan gejolak energi global dapat merambat ke kehidupan masyarakat.
Di tengah kekhawatiran tersebut, pasar minyak dunia justru memberikan sinyal berbeda setelah Partai Demokrat memenangkan pemilu sela Amerika Serikat (AS). Harga minyak sempat anjlok tajam karena investor mulai memperhitungkan peluang perubahan arah politik Washington yang diharapkan dapat membuka jalan bagi meredanya konflik di Timur Tengah.
Harga minyak dunia berpeluang kembali ke level moderat dan turun di bawah US$ 100 per barel jika ketegangan di Timur Tengah mereda serta jalur distribusi melalui Selat Hormuz kembali lancar.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan perkembangan politik di AS dapat membuka harapan baru bagi proses perdamaian di Timur Tengah. Perbaikan situasi geopolitik dinilai dapat mengurangi faktor nonfundamental yang selama ini mengerek harga minyak. "Ya, kemungkinan akan berada di level moderat. Ada harapan untuk di bawah US$ 100," kata Komaidi kepada Investortrust.id, Sabtu (7/11/2026).
Menurut dia, harga minyak Brent sebelumnya masih berada di sekitar US$ 115 per barel. Pasar dapat berubah apabila ketegangan di Timur Tengah mulai mereda dan distribusi minyak kembali berjalan lebih normal. "Kalau sekarang kan mungkin average US$ 100, karena kemarin Brent US$ 115. Saya kira dengan Demokrat yang menang pemilu sela, ada harapan perdamaian di Timur Tengah," ujarnya.
Harga minyak Brent sempat diperdagangkan di level US$ 103,34 per barel pada awal perdagangan Rabu (4/11/2026), menjelang hasil akhir pemilu sela AS diumumkan. Setelah hasil pemilu mengubah sentimen pasar, harga minyak bahkan sempat merosot tajam. Pada perdagangan Jumat (6/11/2026) waktu AS, harga minyak Brent ditutup menguat 3 sen menjadi US$ 98,32 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS bertambah 31 sen menjadi US$ 90,83 per barel. Penurunan itu membawa Brent dan WTI ke level terendah dalam sekitar dua bulan.
Selat Hormuz Jadi Kunci
Komaidi menjelaskan persoalan utama pasar minyak global saat ini bukan semata-mata soal keseimbangan antara produksi dan konsumsi. Secara fundamental, pasokan dan permintaan minyak dunia masih relatif seimbang.
Gangguan terbesar justru muncul pada sisi distribusi, terutama di Timur Tengah. Selat Hormuz menjadi salah satu jalur pelayaran paling strategis karena menghubungkan kawasan produsen minyak Teluk Persia dengan pasar internasional. "Kalau selama ini sebetulnya secara fundamental relatif stabil. Antara konsumsi dan produksi untuk global sebetulnya balance. Yang menjadi kendala itu distribusinya," kata Komaidi.
Jika gangguan di Selat Hormuz berkurang, minyak yang sebelumnya menghadapi hambatan distribusi dapat kembali mengalir ke pasar. Kondisi tersebut penting bagi negara-negara dengan konsumsi energi besar, terutama di Asia.
China, India, Jepang, Korea Selatan, serta sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, berkepentingan terhadap kelancaran arus energi dari kawasan Timur Tengah.
Baca Juga
Harga Minyak Dunia Menuju Penurunan Mingguan Terdalam Sejak Pandemi Covid-19
Komaidi menilai perbaikan distribusi dapat menjadi sentimen positif bagi pelaku pasar. Tekanan harga yang berasal dari konflik dan faktor geopolitik diharapkan dapat berkurang.
"Harapannya itu menjadi sentimen positif bagi para pelaku pasar sehingga non-fundamental isunya relatif bisa ditekan. Kita berharap dengan Demokrat yang menang, tensinya mereda. Mudah-mudahan ini bisa memberikan sentimen positif untuk kita semua," katanya.
Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS mendorong pasar menilai kembali arah kebijakan Washington terhadap konflik Iran. Perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran sebelumnya telah menjadi salah satu faktor utama yang mengerek harga energi global.
Pasar minyak merespons harapan tersebut dengan cepat. Harga Brent mencatat penurunan mingguan hingga 16%, sementara WTI turun lebih dari 13%.
Berdasarkan data LSEG, pelemahan harga minyak tersebut menjadi salah satu koreksi mingguan terdalam sejak awal pandemi Covid-19.
Harapan Damai dan Bayang-Bayang Perang
Meski demikian, harga minyak belum tentu terus turun. Serangan terhadap kapal tanker di Teluk dan Selat Hormuz kembali mengingatkan pasar bahwa situasi keamanan masih rapuh.
Badan keamanan maritim Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), menunjukkan serangan terhadap kapal pengangkut minyak masih berlangsung dengan intensitas tinggi. Ancaman terhadap jalur pelayaran dapat kembali mengganggu distribusi dan mendorong harga minyak naik.
Analis komoditas UBS Giovanni Staunovo mengatakan ketidakpastian di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar minyak. "Situasi di Timur Tengah masih belum terselesaikan. Itulah sebabnya harga minyak mengalami pemulihan moderat saat ini," ujarnya.
Presiden Lipow Oil Associates Andy Lipow juga menilai laporan mengenai kapal tanker yang menabrak ranjau laut atau menjadi sasaran serangan drone terus membayangi pasar. Investor juga masih mencermati belum berubahnya posisi Iran dalam perundingan dengan AS.
Risiko tersebut membuat prospek harga minyak hingga awal 2027 berada di antara dua kemungkinan. Jika diplomasi bergerak maju dan Selat Hormuz kembali beroperasi normal, harga minyak berpeluang bertahan di level moderat.
Namun, jika perang kembali meluas atau gangguan terhadap kapal tanker meningkat, harga minyak dapat kembali melonjak. Eurasia Group bahkan memperingatkan eskalasi konflik dapat mendorong Brent kembali ke kisaran US$ 110-US$ 125 per barel.
Dinamika ini juga berkaitan dengan inflasi dan kebijakan moneter AS. Harga energi yang lebih rendah dapat membantu mengurangi tekanan kenaikan harga secara lebih luas.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger mengatakan pelemahan harga energi telah memunculkan harapan bahwa sebagian tekanan inflasi dapat mereda. "Kita akan melihat beberapa kekhawatiran inflasi mereda dan potensi kebutuhan kenaikan suku bunga yang lebih sedikit di masa mendatang," kata Meger.
Baca Juga
Dibayangi Serangan Kapal Tanker dan Ketidakpastian Perang Iran, Minyak Brent Melonjak 4%
Kepala Solusi Multi-Aset Columbia Threadneedle untuk Amerika Utara Joshua Kutin juga mengatakan pasar mulai melihat harapan bahwa perubahan arah kebijakan dapat membantu meredakan tekanan inflasi. "Secara lebih luas, kini ada harapan bahwa perubahan arah kebijakan akhirnya dapat membantu memerangi inflasi," kata Kutin.
Arah harga minyak dunia menjadi penting bagi Indonesia dan negara-negara pengimpor energi, karena dapat memengaruhi biaya impor dan tekanan terhadap harga bahan bakar. Harga minyak yang lebih stabil dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi perekonomian untuk mengendalikan inflasi. Namun, harga minyak tidak hanya ditentukan oleh hasil pemilu atau pergerakan produksi. Satu serangan terhadap kapal tanker atau gangguan di jalur pelayaran strategis dapat mengubah sentimen pasar dalam hitungan jam.
Menjelang akhir 2026 hingga awal 2027, pasar akan terus mengamati dua arah yang saling berlawanan, yakni harapan perdamaian yang dapat membawa minyak kembali ke level moderat dan risiko perang yang sewaktu-waktu dapat memicu lonjakan harga.
