Harapan Diplomasi Tekan Harga Minyak, tapi Serangan di Selat Hormuz Masih Mengancam
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah dunia menurun pada perdagangan Selasa (20/11/2026), seiring harapan pelaku pasar terhadap kemajuan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, optimisme tersebut masih dibayangi meningkatnya serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz dan serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi.
Baca Juga
Serangan Houthi Ancam Pasokan Global, Minyak Brent Bertahan di Atas US$109
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman November turun 1,8% dan ditutup pada US$101,79 per barel. Harga tersebut merosot cukup tajam dari level tertinggi sesi yang sempat mencapai US$110,48 per barel. Kontrak WTI untuk pengiriman Desember turun 26 sen menjadi US$98,28 per barel.
Minyak mentah Brent, yang menjadi patokan harga minyak global, untuk pengiriman Desember turun 0,7% menjadi US$108,79 per barel setelah sempat menyentuh US$111,99 per barel.
Pergerakan harga tersebut mencerminkan harapan bahwa jalur diplomasi dapat meredakan konflik, meskipun risiko gangguan pasokan energi masih tinggi.
Serangan Kapal Tanker Ancam Pasokan
Perkembangan di Timur Tengah tetap menjadi perhatian utama pasar minyak. Serangan terhadap kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Perusahaan pelacak kapal Kpler menyebutkan, sedikitnya 18 kapal telah menjadi sasaran tembakan selama dua pekan terakhir.
Korps Garda Revolusi Islam Iran pada Selasa menyatakan dua kapal tanker minyak yang disebut tidak mematuhi aturan telah terbakar setelah menabrak ranjau yang dipasang unit angkatan laut Iran. Informasi tersebut dilaporkan kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan pemerintah Iran.
Pada hari yang sama, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan Teheran akan membalas setiap serangan Amerika Serikat dengan kekuatan yang setara atau bahkan lebih besar.
Baca Juga
Iran Tingkatkan Serangan di Selat Hormuz, Minyak Brent Sentuh US$110 per Barel
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sebelumnya pada bulan ini menyatakan bahwa pasukan Amerika tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan sela pada 3 November.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu faktor yang dicermati investor dalam menilai kemungkinan meredanya ketegangan, meskipun belum menjamin tercapainya kesepakatan diplomatik.
Minyak AS Jadi Alternatif
Menurut Tamas Varga, analis PVM Oil Associates, penguatan harga WTI untuk kontrak terdekat sebelum berakhirnya masa perdagangan mencerminkan ketatnya pasar minyak mentah global.
“Penurunan volume ekspor dari Timur Tengah akibat serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas minyak Arab Saudi menjadi salah satu faktor yang menopang harga,” kata Varga kepada CNBC
Di sisi lain, keputusan Amerika Serikat untuk memberikan pengecualian sanksi terhadap armada bayangan Rusia berpotensi menekan biaya angkutan laut. Sebelumnya, mahalnya biaya pengiriman menjadi salah satu hambatan bagi peningkatan permintaan minyak mentah asal Amerika Serikat.
Dengan berkurangnya hambatan tersebut, minyak mentah AS kembali berpeluang menjadi alternatif pengganti pasokan dari Timur Tengah, setidaknya untuk sementara. Varga juga memperkirakan persediaan minyak komersial Amerika Serikat mengalami penurunan pada pekan sebelumnya.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa penurunan harga minyak pada Selasa belum tentu menandai berakhirnya tekanan di pasar energi. Harapan diplomasi memang memberikan ruang bagi koreksi harga, tetapi serangan terhadap kapal tanker dan infrastruktur energi masih menjadi ancaman bagi kelancaran pasokan global.
Jika konflik mereda, harga minyak berpotensi memperoleh tekanan turun lebih lanjut. Sebaliknya, eskalasi serangan atau kegagalan diplomasi dapat kembali mendorong harga naik, terutama jika pengiriman minyak melalui Selat Hormuz semakin terganggu.
