Harga Minyak Berpeluang Turun Pasca-Pemilu Sela AS, Harapan Damai Timur Tengah Jadi Sorotan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga minyak dunia berpeluang kembali ke level moderat dan turun di bawah US$ 100 per barel jika ketegangan di Timur Tengah mereda serta jalur distribusi melalui Selat Hormuz kembali lancar menyusul hasil Pemilu sela Amerika Serikat (AS).
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan harapan tersebut muncul di tengah perkembangan politik yang dapat membuka peluang perdamaian di kawasan Timur Tengah. Perbaikan situasi geopolitik dapat menekan faktor nonfundamental yang selama ini mengerek harga minyak. "Ya, kemungkinan akan berada di level moderate. Ada harapan untuk di bawah 100," kata Komaidi kepada Investortrust.id, Sabtu (7/11/2026).
Baca Juga
Harga Minyak Dunia Menuju Penurunan Mingguan Terdalam Sejak Pandemi Covid-19
Menurut dia, harga minyak Brent sebelumnya masih berada di sekitar US$ 115 per barel. Komaidi memperkirakan kondisi pasar dapat berubah apabila ketegangan di Timur Tengah mulai mereda. Ia mengatakan kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela memunculkan harapan baru terhadap proses perdamaian di kawasan tersebut. Sentimen itu penting karena konflik geopolitik telah mengganggu salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.
"Kalau sekarang kan masih mungkin average 100 saja. Karena kemarin Brent 115. Saya kira dengan Demokrat yang menang pemilu sela, ada harapan perdamaian di Timur Tengah," ujarnya.
Harga minyak Brent diperdagangkan di level US$ 103,34 per barel pada awal perdagangan Rabu (4/11/2026), menjelang hasil akhir Pemilu sela AS diumumkan
Selat Hormuz Jadi Jalur Penting
Komaidi menjelaskan persoalan utama pasar minyak global saat ini bukan semata-mata soal keseimbangan antara produksi dan konsumsi. Secara fundamental, ia menilai pasokan dan permintaan minyak dunia masih relatif seimbang. Gangguan justru terjadi pada sisi distribusi, terutama di kawasan Timur Tengah. Selat Hormuz menjadi salah satu jalur strategis yang menghubungkan pasokan minyak dengan berbagai pasar dunia.
"Kalau selama ini sebetulnya secara fundamental relatif stabil. Antara konsumsi dan produksi untuk global sebetulnya balance. Yang menjadi kendala itu distribusinya," kata Komaidi.
Jika gangguan di Selat Hormuz berkurang, distribusi minyak yang sebelumnya terhambat dapat kembali mengalir ke pasar. Kondisi itu akan berdampak pada negara-negara dengan tingkat konsumsi energi besar di kawasan Asia.
Komaidi menyebut China, India, Jepang, Korea Selatan, serta sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sebagai pasar yang berkepentingan terhadap kelancaran distribusi energi tersebut.
Baca Juga
Minyak Brent Anjlok 16% Sepekan, Pasar Cermati Risiko Perang AS-Iran Pascapemilu
Ia memperkirakan perbaikan arus distribusi dapat menjadi sentimen positif bagi pelaku pasar. Dengan begitu, tekanan harga yang berasal dari faktor geopolitik dan isu nonfundamental dapat berkurang. "Harapannya itu menjadi sentimen positif bagi para pelaku pasar sehingga non-fundamental isunya relatif bisa ditekan. Kita berharap dengan Demokrat yang menang, tensinya mereda. Mudah-mudahan ini bisa memberikan sentimen positif untuk kita semua," kata Komaidi.
Sementara harga minyak Brent ditutup menguat 3 sen menjadi US$ 98,32 per barel pada perdagangan Jumat (6/11/2026) waktu AS. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS bertambah 31 sen menjadi US$ 90,83 per barel.
