Dibayangi Serangan Kapal Tanker dan Ketidakpastian Perang Iran, Minyak Brent Melonjak 4%
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah dunia melonjak setelah investor kembali mencermati kemungkinan perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran. Serangkaian serangan terhadap kapal tanker di kawasan Timur Tengah semakin memperbesar kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global.
Baca Juga
Harga Minyak Turun Dua Hari Beruntun, Pasar Menanti Kesepakatan AS-Iran
Dikutip dari CNBC, harga minyak mentah Brent naik 4% menjadi US$98,44 per barel pada perdagangan Kamis (5/11/2026), pukul 14.42 waktu AS. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,9% menjadi US$90,71 per barel.
Kenaikan tersebut terjadi setelah kedua acuan harga minyak dunia itu anjlok lebih dari 8% pada perdagangan Rabu. Penurunan tersebut membawa harga Brent dan WTI ke level penyelesaian terendah sejak 31 Agustus 2026.
Analis komoditas UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan ketidakpastian situasi di Timur Tengah menjadi faktor utama yang mendorong pemulihan harga minyak.
"Situasi di Timur Tengah masih belum terselesaikan. Itulah sebabnya harga minyak mengalami pemulihan moderat saat ini," ujarnya.
Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menilai laporan mengenai kapal tanker yang menabrak ranjau laut maupun menjadi sasaran serangan pesawat nirawak (drone) terus membayangi pasar minyak. Investor juga mencermati belum berubahnya posisi Iran dalam perundingan dengan AS.
Ancaman terhadap jalur pelayaran energi di kawasan Teluk masih sangat tinggi. Badan Keamanan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sedikitnya lima kapal mengalami insiden sejak Minggu. Intensitas serangan tersebut mendekati rekor yang terjadi pada Oktober, ketika sebanyak 35 kapal dilaporkan menjadi sasaran selama sebulan, tertinggi sejak perang berlangsung.
Perkembangan ini membuat pasar minyak kembali menghadapi risiko gangguan pasokan, terutama jika konflik meluas dan jalur perdagangan energi strategis semakin sulit dilalui.
Hasil Pemilu AS dan Risiko Eskalasi Perang
Ketidakpastian geopolitik juga berkaitan dengan perkembangan politik di AS. Perang terhadap Iran yang dilancarkan Presiden AS Donald Trump bersama Israel pada Februari 2026 telah mendorong kenaikan tajam harga bahan bakar. Kondisi tersebut menjadi salah satu keluhan utama pemilih menjelang pemilihan sela atau midterm elections.
Baca Juga
Partai Demokrat berhasil merebut kendali atas kedua kamar Kongres AS dalam pemilu Selasa (3/11/2026), mengalahkan Partai Republik yang dipimpin Trump. Kongres baru yang dikuasai Demokrat dijadwalkan mulai bekerja pada Januari 2027.
Citi dalam catatan risetnya menyebut muncul kekhawatiran bahwa setelah pemilu sela berakhir, Gedung Putih akan lebih mengandalkan kewenangan eksekutif dalam kebijakan luar negeri. Situasi tersebut berpotensi membuka jalan bagi eskalasi perang dengan Iran.
Namun, Eurasia Group justru menurunkan perkiraan kemungkinan AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran menjadi 60% dari sebelumnya 65%.
Lembaga riset risiko politik tersebut juga memangkas peluang tercapainya kesepakatan antara kedua negara menjadi 10% dari sebelumnya 20%. Iran dinilai tetap mempertahankan tuntutan yang kemungkinan sulit diterima Trump.
Sebaliknya, peluang terjadinya kebuntuan diplomatik berkepanjangan dinaikkan menjadi 30% dari sebelumnya 15%.
Eurasia Group memperingatkan, meskipun harga minyak belakangan terkoreksi, eskalasi konflik dapat kembali mendorong harga Brent ke kisaran US$110-US$125 per barel.
Serangan Meluas ke Arab Saudi dan Selat Hormuz
Di tengah meningkatnya ketegangan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi melakukan pembicaraan terpisah melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi dan Qatar. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut pembicaraan tersebut membahas perkembangan terbaru upaya diplomatik untuk mendorong stabilitas kawasan.
Baca Juga
Harga Minyak Turun setelah Pertemuan Arab Saudi-Iran, tapi Gangguan Pasokan Tetap Membayangi
Namun, perkembangan di lapangan menunjukkan situasi keamanan masih jauh dari stabil.
Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia, pada Kamis mengeluarkan peringatan mengenai potensi ancaman keamanan di Yanbu, pusat ekspor minyak kerajaan tersebut yang berada di pesisir Laut Merah. Peringatan itu muncul ketika kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran terus melancarkan serangan terhadap Arab Saudi.
Houthi kemudian mengklaim telah menyerang Bandara King Fahd di Dammam, Arab Saudi. Namun, hingga laporan tersebut disusun, belum ada konfirmasi langsung dari otoritas Saudi.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan dua kapal tanker minyak dan satu kapal tunda terbakar dalam insiden terpisah setelah mencoba menggunakan jalur yang tidak diizinkan untuk melintasi Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan kawasan produsen minyak Teluk Persia dengan pasar internasional. Gangguan berkepanjangan di jalur tersebut berpotensi menekan pasokan minyak dunia dan meningkatkan biaya energi.
Serangan Ukraina Tambah Tekanan Pasokan
Risiko pasokan minyak juga datang dari konflik Rusia-Ukraina. Ukraina kembali meningkatkan serangan terhadap kilang minyak Rusia, memunculkan kekhawatiran mengenai kemampuan Moskow memenuhi ekspor bahan bakar diesel berdasarkan kesepakatan dengan Trump.
Analisis video Reuters menunjukkan kilang minyak Ryazan, salah satu fasilitas pengolahan minyak terbesar Rusia, diduga menjadi sasaran serangan drone besar-besaran pada malam hari di kawasan industri sebelah tenggara Moskow.
Jika terkonfirmasi, serangan tersebut akan menjadi serangan kedua terhadap kilang minyak Rusia dalam pekan ini, setelah fasilitas Yaroslavl diserang pada Senin malam.
Pasar minyak menghadapi tekanan dari berbagai arah, mulai dari konflik Iran, ancaman terhadap kapal tanker, gangguan di Selat Hormuz, hingga serangan terhadap infrastruktur energi Rusia.
Kombinasi faktor tersebut membuat prospek harga minyak tetap rentan terhadap lonjakan baru, meskipun investor sempat berharap adanya penyelesaian diplomatik perang Iran.
