Brent Naik Lebih dari 14% Sepanjang September, Pasar Minyak Dibayangi Krisis BBM AS dan Konflik Iran
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah Amerika Serikat dan global kembali naik di tengah mandeknya pembicaraan damai AS-Iran serta makin ketatnya pasokan produk bahan bakar di AS.
Baca Juga
Dikutip dari CNBC, kontrak Brent untuk pengiriman November, yang berakhir pada Rabu (30/9/2026), naik sekitar 1% dan ditutup pada US$103,53 per barel. Minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 1% menjadi US$90,42 per barel.
Sepanjang September, Brent melonjak lebih dari 14%, sedangkan WTI naik lebih dari 5%.
Pergerakan harga minyak dipengaruhi ketidakpastian mengenai prospek negosiasi antara Washington dan Teheran. Qatar pada Selasa menyatakan berharap diplomasi antara kedua negara dapat menghasilkan terobosan.
Namun, Presiden AS Donald Trump membantah laporan Axios dan CNN yang menyebut dirinya bersedia memberikan keringanan sanksi dan mencairkan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas langkah konkret Teheran terkait program nuklirnya.
Di sisi pasokan, Arab Saudi pada Selasa kembali memuat minyak ke kapal tanker dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah setelah mengaktifkan kembali operasi pipa East-West.
Baca Juga
Ekspor Saudi dari Laut Merah Mulai Pulih, Harga Minyak Anjlok
Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak negara-negara Teluk telah pulih menjadi 23,3 juta barel per hari (bph) dalam sepekan terakhir. Angka tersebut sejalan dengan rata-rata 2025, setelah ekspor meningkat dua kali lipat sepanjang September.
JPMorgan memperkirakan rata-rata 10 hari ekspor minyak secara keseluruhan dalam lima hari terakhir berada di sekitar 20,5 juta bph, atau 89% dari level 2025.
Perkembangan tersebut menunjukkan sebagian besar arus pasokan minyak dari kawasan Teluk mulai pulih setelah sebelumnya terganggu akibat konflik dan gangguan terhadap jalur perdagangan energi.
Namun, pasar produk olahan minyak masih ketat.
"Pemulihan arus minyak mentah akan meredam tekanan harga yang berasal dari sisi pasokan, meskipun kelangkaan produk yang terus berlangsung dan tingginya biaya angkutan kemungkinan akan membuat pasar energi secara keseluruhan tetap ketat," kata analis bank Jepang MUFG, dikutip CNBC.
Persediaan BBM AS Menyusut
Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari penurunan persediaan bahan bakar di AS.
Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan bensin AS turun 1,7 juta barel menjadi 204,4 juta barel pada pekan lalu.
Persediaan produk sulingan, termasuk diesel dan minyak pemanas, juga turun 2,3 juta barel menjadi 105,2 juta barel.
Penurunan persediaan tersebut membantu menopang harga minyak meskipun stok minyak mentah AS justru meningkat.
Persediaan minyak mentah AS naik 922.000 barel menjadi 427,3 juta barel pada pekan yang berakhir 25 September. Hasil tersebut berbeda dari ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penurunan 264.000 barel.
"Penurunan aktivitas penyulingan mendorong penurunan persediaan produk sulingan dan bensin," kata Matt Smith, analis Kpler.
Menurut Smith, aktivitas penyulingan diperkirakan meningkat secara bertahap sehingga dapat membantu mencegah persediaan produk olahan turun lebih jauh.
Di sisi lain, negara-negara anggota OPEC+ kemungkinan mempertahankan target produksi minyak untuk November ketika bertemu pada Minggu, menurut dua sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada Reuters.
Pasar juga mencermati kemungkinan kebijakan AS terkait ekspor diesel. Pembatasan ekspor diesel berpotensi menyebabkan kelebihan pasokan di pasar domestik AS dan mendorong kilang mengurangi pengolahan minyak mentah.
Trump disebut sedang mempertimbangkan untuk mengizinkan penjualan diesel berwarna merah sebagai alternatif larangan ekspor. Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk memberikan keringanan harga kepada konsumen menjelang pemilihan umum sela AS pada November.
Sementara itu, Gedung Putih telah mendorong Uni Eropa untuk mengurangi persediaan diesel darurat guna membantu menurunkan harga di pasar global, menurut sumber yang mengetahui upaya tersebut.
Dengan arus ekspor minyak dari Teluk mulai pulih, perhatian pasar kini bergeser pada keseimbangan antara pasokan minyak mentah, persediaan produk olahan, biaya pengiriman dan perkembangan diplomasi AS-Iran.
