Iran Ancam Balas Serangan AS, Minyak Brent Melonjak Lebih 3%
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia kembali melonjak pada perdagangan Selasa (26/5/2026) setelah Iran mengancam akan membalas serangan militer Amerika Serikat di wilayah selatan negara itu. Ketegangan geopolitik yang kembali meningkat memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global, terutama di jalur strategis Selat Hormuz.
Baca Juga
AS Serang Iran Lagi di Tengah Negosiasi Damai, Selat Hormuz Masih Membara
Dikutip dari CNBC, minyak mentah acuan internasional Brent, melonjak lebih dari 3% dibanding posisi Senin, dan ditutup di level US$99,58 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS sempat turun hampir 3% ke US$93,89 per barel dibandingkan posisi Jumat, sebelum akhirnya pulih dari posisi terendah harian setelah muncul kabar serangan militer AS.
Pergerakan pasar energi masih sangat ‘volatile’ setelah Presiden AS Donald Trump pada akhir pekan lalu memberi sinyal bahwa kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz sudah hampir tercapai. Namun hingga kini belum ada pengumuman resmi, sementara eskalasi militer kembali terjadi.
Militer AS menyatakan telah melakukan “serangan pertahanan diri” di Iran selatan pada Selasa dini hari. Target operasi meliputi kapal yang diduga mencoba menebar ranjau serta lokasi peluncuran rudal. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut operasi itu dilakukan untuk melindungi pasukan Amerika dari ancaman militer Iran.
Sebagai respons, Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan akan membalas pelanggaran gencatan senjata setelah mendeteksi dan menghadapi drone AS serta jet tempur F-35 yang memasuki wilayah udara Iran.
Meski ketegangan meningkat, media semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan pembicaraan terbaru dengan Washington berlangsung “cukup baik.” Namun sumber yang dikutip menyebut nota kesepahaman dengan AS baru dapat tercapai jika dana Iran sebesar US$24 miliar yang dibekukan di luar negeri dicairkan.
Situasi menjadi semakin kompleks setelah Trump mendorong Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, dan Yordania untuk bergabung dalam Abraham Accords, kesepakatan normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel.
Trump juga menegaskan negosiasi dengan Iran “berjalan baik,” tetapi memperingatkan AS dapat kembali melakukan aksi militer jika perundingan gagal. “Kesepakatan ini harus menjadi kesepakatan besar bagi semua pihak, atau tidak ada kesepakatan sama sekali,” tulis Trump di media sosial.
Baca Juga
Dow Futures Melonjak Lebih 400 Poin Setelah Trump Sebut Negosiasi AS-Iran “Berjalan Baik”
Bank investasi UBS memperingatkan pasar minyak global kini menunjukkan tekanan yang semakin besar. UBS mencatat persediaan minyak global turun sekitar 246 juta barel sepanjang Maret dan April akibat gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz.
Menurut UBS, total kehilangan produksi minyak global berpotensi melampaui 1 miliar barel pada akhir Mei. Penurunan tajam stok minyak tersebut menunjukkan pasar masih berada dalam kondisi “sangat kekurangan pasokan,” bahkan ketika sebagian minyak disimpan di kapal tanker akibat perubahan jalur ekspor AS ke Asia.

