Lo Kheng Hong Bongkar 5 Rahasia Pilih Saham, Terbukti Bertahan dari Lima Kali Krisis
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Investor kawakan Lo Kheng Hong membagikan strategi memilih saham berkualitas sekaligus rahasia bertahan menghadapi gejolak pasar modal. Selama 37 tahun berinvestasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), pria yang dikenal sebagai Warren Buffett Indonesia tersebut mengaku telah melewati lima kali krisis, yakni pada 1991, 1998, 2008, 2020, dan 2026.
Menariknya, Lo Kheng Hong mengungkapkan bahwa salah satu kunci keberhasilannya melewati berbagai krisis adalah tidak pernah menggunakan utang untuk membeli saham. Selain itu, dia menerapkan analisis fundamental secara ketat dengan berpegang pada lima kriteria utama sebelum memutuskan berinvestasi di suatu perusahaan.
Lima kriteria tersebut meliputi kualitas manajemen, prospek bisnis, pertumbuhan laba, valuasi saham yang murah, serta kemampuan perusahaan membagikan dividen.
Baca Juga
Minyak Brent Anjlok 16% Sepekan, Pasar Cermati Risiko Perang AS-Iran Pascapemilu
Dalam memilih saham, Lo Kheng Hong menegaskan tidak ingin membeli perusahaan tanpa terlebih dahulu memahami bisnis dan kondisi fundamentalnya. Salah satu langkah yang selalu dilakukan adalah membaca laporan tahunan atau annual report.
Melalui laporan tersebut, dia mempelajari siapa pemegang saham mayoritas, jajaran direksi, hingga komisaris perusahaan.
“Saya sebelum membeli sebuah (saham) perusahaan, tentu saya akan lihat annual reportnya. Saya tidak mau beli kucing dalam karung, jadi saya harus tahu apa yang saya beli saya buka annual report, saya lihat siapa pemegang saham mayoritasnya, siapa direksi, dan komisarisnya,” kata Lo Kheng Hong dalam acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026 di Main Hall BEI, Jakarta, Kamis (5/11/2026).
1. Pilih Perusahaan dengan Manajemen Jujur dan Kompeten
Kriteria pertama yang menjadi perhatian Lo Kheng Hong adalah kualitas orang-orang yang mengendalikan perusahaan. Menurut dia, perusahaan harus dikendalikan oleh orang-orang yang jujur dan kompeten.
Kualitas pemegang saham pengendali, direksi, dan komisaris menjadi aspek penting karena menentukan bagaimana perusahaan dikelola dan keputusan strategis diambil.
Karena itu, investor perlu mempelajari rekam jejak manajemen sebelum menanamkan modalnya di suatu perusahaan.
2. Cari Bisnis yang Memiliki Prospek Cerah
Kriteria kedua adalah prospek bidang usaha perusahaan. Lo Kheng Hong mengaku cenderung menghindari perusahaan yang produknya harus bersaing langsung dengan produk asal China dan India.
Menurut dia, produk dari kedua negara tersebut umumnya memiliki harga kompetitif sehingga berpotensi menekan kemampuan perusahaan lain untuk bersaing dan menghasilkan keuntungan.
Baca Juga
Saham Teknologi Dorong Penguatan Wall Street, Nasdaq Bangkit 1%, tapi Dow Masih Terseok
Sebaliknya, dia lebih menyukai perusahaan yang produknya justru dibutuhkan oleh China dan India. Salah satu contohnya adalah perusahaan batu bara dan kelapa sawit.
Kedua komoditas tersebut dinilai memiliki pasar luas dan tidak mudah diproduksi oleh kedua negara tersebut.
“Saya mencari perusahaan-perusahaan yang bukan bersaing dengan China dan India, tapi yang dibeli oleh China dan India,” ucap dia.
“Misalnya apa? Tadi saya sudah sebutkan misalnya batu bara, kelapa sawit karena kelapa sawit itu kan tidak bisa ditanam di China dan India,” lanjutnya.
3. Wajib Cetak Laba Besar dan Terus Bertumbuh
Kriteria ketiga adalah kemampuan perusahaan menghasilkan laba besar dan mencatatkan pertumbuhan keuntungan secara berkelanjutan.
Lo Kheng Hong mengaku tidak tertarik membeli saham perusahaan yang masih merugi atau hanya mampu menghasilkan keuntungan dalam jumlah kecil.
Dia lebih memilih perusahaan yang mampu meningkatkan laba secara konsisten karena pertumbuhan keuntungan menjadi salah satu indikator penting kemampuan perusahaan memberikan nilai bagi pemegang saham.
Bahkan, dia mengibaratkan perusahaan dengan laba besar sebagai mesin pencetak uang.
“Karena memiliki perusahaan yang untung besar sama seperti kita memiliki mesin pencetak uang,” tuturnya.
4. Buru Saham dengan Valuasi Murah
Selanjutnya, kriteria keempat adalah valuasi saham yang murah. Lo Kheng Hong hanya tertarik membeli perusahaan berkualitas ketika harga sahamnya masih berada pada tingkat valuasi yang menarik.
Dalam mengukur valuasi, dia memperhatikan rasio price to earnings (PE) dan price to book value (PBV).
Menurut dia, membeli perusahaan bagus dengan harga terlalu mahal justru dapat meningkatkan risiko investasi. Sebaliknya, saham dengan rasio PE dan PBV rendah dinilai dapat memberikan tingkat risiko yang lebih terukur dibandingkan saham dengan valuasi tinggi.
5. Utamakan Saham dengan Dividen Besar
Kriteria kelima adalah kemampuan perusahaan membagikan dividen dengan imbal hasil atau dividend yield yang menarik.
Lo Kheng Hong mengaku menyukai perusahaan yang mampu memberikan dividen dalam jumlah besar kepada pemegang saham.
Menurut dia, investor bisa memperoleh pendapatan dari dividen tanpa harus terlibat langsung dalam kegiatan operasional perusahaan.
Bahkan, dia menyebut dividend yield hingga 14% sebagai keuntungan yang sangat menarik bagi investor jangka panjang.
“Kita sebagai sleeping shareholder tidak kerja, dapat gaji saja besar kan dividendnya kalau 14%, tidak usah kerja, saya sebagai sleeping shareholder tidak kerja,” tuturnya.
Kelima kriteria tersebut menjadi pedoman Lo Kheng Hong dalam menentukan perusahaan yang layak dibeli dan disimpan untuk investasi jangka panjang.
Rahasia Lo Kheng Hong Bertahan dari Lima Kali Krisis
Selain disiplin memilih saham, Lo Kheng Hong mengungkapkan strategi lain yang membuatnya mampu bertahan menghadapi lima kali krisis pasar modal selama 37 tahun berinvestasi.
Prinsip utamanya sederhana, yakni tidak menggunakan utang untuk membeli saham. Selama berinvestasi, dia hanya menggunakan uang sendiri sehingga tidak terbebani kewajiban membayar pinjaman ketika pasar saham mengalami tekanan. “Saya bisa melewati krisis, berbagai krisis selama 37 tahun karena saya tidak punya hutang,” katanya.
Baca Juga
Industri Petrokimia Dorong Diversifikasi Bahan Baku dan Perpanjangan Bea Masuk LPG 0%
“Jadi, saya membeli saham hanya pakai uang saya sendiri, saya tidak punya hutang. Jadi, saya bisa melewati berbagai krisis,” sambungnya.
Pengalaman pertama yang diceritakannya adalah krisis pada 1991. Saat itu, pemerintah menerapkan kebijakan uang ketat atau tight money policy untuk menekan inflasi yang meningkat hingga sekitar 8%.
Kebijakan tersebut membuat likuiditas pasar mengetat dan menekan harga saham. Lo Kheng Hong mengungkapkan portofolionya sempat mengalami penurunan hingga 50%.
Namun, ketika inflasi mulai turun dan kebijakan uang ketat dilonggarkan secara bertahap pada periode 1991 hingga 1993, harga saham kembali pulih. Portofolionya pun berbalik dari posisi rugi menjadi untung.
Pengalaman yang lebih berat terjadi saat krisis ekonomi 1998. Ketika itu, nilai tukar rupiah merosot tajam dan suku bunga melonjak hingga 70%. Banyak perusahaan yang memiliki utang besar kesulitan memenuhi kewajibannya.
Kondisi tersebut turut mengguncang pasar saham. Portofolio Lo Kheng Hong bahkan sempat tergerus hingga 85%.
“1998 krisisnya sangat besar, hujan emasnya besar sekali tahun 1998. Jadi, saya lihat portofolio saya minus 85%,” ungkapnya.
Meski mengalami kerugian besar di atas kertas, dia justru melihat kejatuhan pasar sebagai kesempatan untuk membeli saham perusahaan berkualitas dengan harga murah.
Lo Kheng Hong menggambarkan peluang investasi saat krisis 1998 seperti menemukan mobil Mercedes-Benz yang dijual seharga bajaj atau berlian yang dijual dengan harga kerikil.
“Saya sudah tidak kerja, istri saya ibu rumah tangga, anak 2, uangnya tinggal 15. Tapi, ketika tahun 1998 saya menemukan kan mercy yang dijual harga bajaj tapi ketemu berlian yang dijual harga kerikil, jadi saya survive lagi,” tuturnya.
Krisis berikutnya terjadi pada 2008 ketika krisis subprime mortgage melanda Amerika Serikat. Namun, menurut Lo Kheng Hong, dampaknya terhadap pasar saham Indonesia hanya berlangsung sementara karena kondisi perekonomian domestik saat itu dinilai lebih sehat dibandingkan ketika krisis 1998.
Dia juga menyinggung strategi investor legendaris Warren Buffett yang memanfaatkan kejatuhan pasar saham Amerika Serikat pada 2008 untuk membeli saham perbankan. Saham-saham tersebut kemudian disimpan dalam jangka panjang dan memberikan keuntungan besar.
Selanjutnya, pandemi Covid-19 pada 2020 kembali memicu tekanan di pasar saham. Ketidakpastian ekonomi akibat penyebaran virus membuat harga saham mengalami penurunan.
Baca Juga
KPK Sebut Bobby Rasyidin Kooperatif, Pengembalian Uang Tak Terkait PT KAI
Namun, Lo Kheng Hong mengaku memiliki dana tunai cukup banyak sehingga bisa memanfaatkan koreksi pasar untuk membeli saham perusahaan berkualitas dengan harga lebih murah.
Strategi serupa kembali diterapkannya pada 2026. Ketika harga saham turun, ketersediaan uang tunai memberinya kesempatan untuk memborong saham perusahaan berkualitas.
“Beruntung, pada waktu itu saya punya uang cash yang cukup banyak, sehingga saya bisa memborong saham di harga yang murah, begitu juga tahun 2026 harga saham turun saya punya uang cash yang banyak sehingga saya bisa membeli saham murah-murah,” ungkapnya.
Dari pengalaman melewati lima kali krisis tersebut, Lo Kheng Hong menekankan dua hal penting bagi investor, yakni tidak berutang untuk membeli saham dan selalu memiliki dana tunai yang cukup.
Dengan prinsip tersebut, investor tidak hanya memiliki kemampuan bertahan ketika pasar terkoreksi, tetapi juga mempunyai amunisi untuk memanfaatkan peluang ketika harga saham perusahaan berkualitas mengalami penurunan.
Pesan bagi Investor Muda
Di tengah meningkatnya jumlah investor ritel dan generasi muda di pasar modal Indonesia, Lo Kheng Hong mengingatkan agar investor tidak terjebak fenomena fear of missing out (FOMO) atau mengikuti tren pembelian saham tanpa memahami fundamental perusahaan.
Dia meminta investor muda menjadikan lima kriteria yang telah disampaikannya sebagai pedoman, terutama dengan memahami bisnis perusahaan sebelum membeli saham.
Bagi mahasiswa yang mulai tertarik berinvestasi, dia juga mengingatkan pentingnya menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu. Setelah itu, mereka bisa mulai mencari penghasilan untuk membangun modal investasi.
“Kalau pelajaran kuliahnya sudah beres, sudah bisa semua boleh cari uang,” katanya.
Selain mencari penghasilan, Lo Kheng Hong menekankan pentingnya menerapkan pola hidup hemat dan sederhana. Menurut dia, penghasilan besar tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tidak diimbangi kemampuan mengelola pengeluaran.
Dengan menyisihkan sebagian penghasilan, investor muda dapat mulai mengumpulkan modal untuk membeli saham perusahaan berkualitas.
“Harus hidup hemat dan sederhana, cari uang banyak tapi kalau boros percuma, habis juga. Harus hidup hemat dan sederhana, sehingga ada sisa uang banyak untuk dibelikan saham wonderful company terus lama-lama bisa jadi orang kaya,” bebernya.
Lo Kheng Hong menilai investasi saham merupakan salah satu pekerjaan terbaik yang dapat membantu seseorang mencapai kebebasan finansial sekaligus membangun kekayaan dalam jangka panjang.
Dia mencontohkan Warren Buffett yang berhasil menjadi salah satu orang terkaya di dunia melalui investasi saham. “Menjadi seorang investor saham adalah salah satu pekerjaan terbaik,” tutupnya.
