Brent Bertahan di Atas US$108, Biaya Angkut Minyak Melonjak 7 Kali Lipat Gegara Perang
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia masih tinggi di tengah kekhawatiran investor terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah. Serangan terhadap kapal tanker di dekat Selat Hormuz dan fasilitas energi Arab Saudi menekan sentimen pasar energi global.
Baca Juga
Harapan Diplomasi Tekan Harga Minyak, tapi Serangan di Selat Hormuz Masih Mengancam
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent naik tipis 3 sen menjadi US$108,82 per barel pada perdagangan Rabu (21/10/2026). Sebaliknya, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 67 sen menjadi US$97,15 per barel.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Selasa menyatakan ranjau laut telah menghalangi tiga kapal tanker yang berupaya melintasi Selat Hormuz melalui jalur yang dianggap tidak sah oleh Teheran.
Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui situs resmi Sepah News, IRGC menyebut dua kapal tanker yang melanggar aturan terbakar dan terhenti setelah ranjau yang dipasang personel angkatan lautnya meledak di titik penyeberangan ilegal di bagian selatan Selat Hormuz.
Kekhawatiran pasar juga bertambah setelah kelompok militan Houthi Yaman mengaku bertanggung jawab atas serangan pada Senin yang menargetkan fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, serta bandara di Riyadh dan Abha.
Rangkaian serangan tersebut memperbesar risiko gangguan distribusi minyak dari salah satu kawasan pemasok energi terpenting dunia. Selain ancaman terhadap produksi dan pengiriman minyak, meningkatnya risiko keamanan juga mendorong biaya pengangkutan minyak mentah melonjak tajam.
Biaya Angkut Melonjak 7 Kali Lipat
Menurut laporan Goldman Sachs yang diterbitkan Selasa, tarif angkutan minyak mentah rata-rata global telah menembus US$20 per barel, jauh di atas sekitar US$3 per barel pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meskipun sedikit mereda dalam beberapa hari terakhir, biaya angkutan tersebut masih sekitar tujuh kali lipat dibandingkan setahun lalu.
Baca Juga
Harga Minyak Bergejolak, Serangan Tanker di Hormuz dan Badai Isaias di Meksiko Jadi Sorotan
Goldman Sachs memperkirakan premi risiko perang untuk pelayaran yang melintasi Selat Hormuz menyumbang sekitar US$7 dari kenaikan US$20 per barel dalam tarif angkutan minyak mentah rata-rata secara tahunan. Sementara itu, kegiatan pemindahan minyak antarkapal di luar Teluk Persia berkontribusi sekitar US$4.
Bank investasi tersebut memperingatkan bahwa mahalnya biaya pengiriman dapat memperlebar perbedaan harga di antara berbagai jenis minyak mentah, menekan margin keuntungan kilang, dan pada akhirnya meningkatkan harga bahan bakar hasil olahan.
Analis Goldman Sachs menilai kilang-kilang Asia menghadapi tekanan besar karena tingginya biaya angkutan menggerus margin bersih mereka. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi produksi produk olahan, sehingga pasokan bahan bakar global semakin ketat dan harga produk energi berisiko meningkat.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa dampak konflik Timur Tengah tidak hanya ditentukan oleh naik-turunnya harga minyak mentah. Biaya logistik, premi asuransi risiko perang, dan keamanan jalur pelayaran juga menjadi faktor penting yang menentukan harga energi yang harus dibayar konsumen.
Bagi negara pengimpor energi, lonjakan biaya pengangkutan minyak berpotensi menambah tekanan terhadap biaya impor energi. Apabila berlangsung berkepanjangan, tekanan tersebut dapat merambat ke biaya transportasi, produksi industri, dan inflasi.
