Di Tengah Dinamika Ekonomi, Lo Kheng Hong Sebut Tiga Bisnis Emiten Ini Paling Menarik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Investor kawakan Lo Kheng Hong menilai sektor perbankan, batubara, dan kelapa sawit menjadi tiga sektor bisnis yang paling menarik untuk investasi saham di Indonesia saat ini.
Menurut Lo Kheng Hong, sektor perbankan memiliki daya tarik utama karena kemampuan bank-bank besar dalam mencetak laba bersih yang jauh lebih besar dibandingkan perusahaan di sektor lainnya.
“Karena ada tiga bank besar yang labanya mencapai Rp 60 triliun. Coba kita periksa bidang usaha yang lain, tidak ada perusahaan yang labanya mencapai Rp 60 triliun,” tegas Lo Kheng Hong, dikutip pada Jumat (6/11/2026).
Selain perbankan, ia melihat sektor batubara masih memiliki prospek menarik karena menjadi salah satu sumber energi yang paling banyak digunakan di dunia. Permintaan batubara dinilai tetap kuat, terutama dari negara berpenduduk besar seperti China dan India.
Pasalnya dia menilai, pengembangan energi baru terbarukan masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kebutuhan lahan yang luas untuk pembangkit tenaga surya hingga mahalnya biaya penyimpanan energi menggunakan baterai.
Sektor ketiga yang menjadi pilihannya adalah perkebunan kelapa sawit. Lo Kheng Hong menyebut kelapa sawit sebagai miracle crop atau tanaman ajaib karena hanya dapat tumbuh optimal di wilayah tropis seperti Indonesia dan Malaysia.
Di samping kebutuhan minyak goreng, produk turunan kelapa sawit juga digunakan dalam berbagai industri, termasuk kosmetik. Ia menilai besarnya kebutuhan dari negara-negara seperti China dan India menjadi salah satu faktor yang mendukung prospek sektor tersebut.
“Jadi menurut saya, sektor yang paling baik adalah pertama perbankan, kedua batubara, dan ketiga kelapa sawit,” ungkapnya.
Di tengah koreksi pasar saham, Lo Kheng Hong justru melihat peluang investasi yang menarik. Ia menilai penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari level 9.000 ke kisaran 5.000 telah membuat banyak saham diperdagangkan dengan valuasi murah (undervalued).
Ia juga menyoroti aksi jual investor asing yang menurutnya telah mencapai hampir Rp 100 triliun sejak awal tahun. Kondisi ini membuat harga sejumlah saham terkoreksi cukup dalam.
“Bagi saya, ketika asing ketakutan menjual sahamnya di Bursa Efek Indonesia dan saham-saham turun banyak, saat ini sedang hujan emas. Oleh karena itu, siapkanlah ember yang besar untuk menampung hujan emas itu,” tuturnya.
Salah satu peluang yang disorot adalah saham-saham bank besar (big banks) yang telah mengalami penurunan harga lebih dari 50%. Menurutnya, koreksi tersebut membuat potensi imbal hasil dividen (dividend yield) menjadi semakin menarik, bahkan mencapai sekitar 14%.
Baca Juga
Lo Kheng Hong Borong Saham GJTL Saat Harga Turun, Kepemilikan Naik Jadi 7,03%
Ia membandingkan potensi tersebut dengan deposito yang menawarkan bunga sekitar 6% per tahun. Setelah dipotong pajak 20%, imbal hasil bersih deposito hanya sekitar 4,8%. Sementara itu, surat utang negara dengan imbal hasil 7,8% setelah pajak 10% memberikan imbal hasil bersih sekitar 7%.
“Kalau kita beli saham-saham big banks, dividend yield-nya 14%, harga sahamnya turun lebih dari 50%. Kalau dia kembali ke harga semula, capital gain kita bisa 100%,” tandasnya.
Berbekal pengalaman selama 37 tahun berinvestasi di pasar saham Indonesia, Lo Kheng Hong menekankan pentingnya kesabaran dalam menghadapi fluktuasi pasar. Ia meyakini investor bisa memperoleh keuntungan lebih besar dengan membeli saham perusahaan yang bagus pada harga murah, kemudian menyimpannya dalam jangka panjang.
Menurutnya, terlalu sering melakukan transaksi jual beli saham atau trading bukanlah cara terbaik untuk mendapatkan keuntungan besar.
"Beli dan simpan. Uang besar didapat bukan dari jual beli atau trading, tetapi dari menunggu dengan sabar,” tandasnya.
Ia mengaku tidak menetapkan batas waktu tertentu untuk menyimpan sebuah saham karena waktu yang dibutuhkan hingga harga saham kembali ke nilai wajarnya bergantung pada pasar.
“Ingat, bursa adalah perangkat untuk memindahkan uang orang tidak sabar kepada orang yang sabar,” tegas Lo Kheng Hong.
Dia bahkan mengungkapkan masih memiliki saham yang telah disimpan lebih dari 10 tahun, tetapi hingga kini belum kembali ke harga wajarnya.
