Terpangkas 43%, IHSG Cetak Rekor Terburuk di Dunia
Poin Penting
|
IHSG kembali kehilangan level 5.000 setelah anjlok 3,78% dalam sehari. Penurunan sejak awal tahun mencapai 43,28%, paling dalam di antara indeks negara yang ditampilkan dalam tabel perbandingan BEI. Kapitalisasi pasar tersisa Rp8.655 triliun, sedangkan penjualan bersih asing mendekati Rp100 triliun.
JAKARTA, Investortrust.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok pada perdagangan Selasa (03/11/2026). Indeks ditutup pada level 4.904,287, turun 192,543 poin atau 3,78% dari posisi sebelumnya 5.096,830. Pelemahan tersebut memperbesar penurunan IHSG sepanjang tahun berjalan menjadi 43,28%, menempatkan pasar saham Indonesia pada posisi terbawah dalam daftar perbandingan indeks dunia yang disajikan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan IDX Daily Statistics untuk hari perdagangan ke-200 tahun 2026, IHSG berada di peringkat keenam di ASEAN, ke-13 di Asia Pasifik, dan ke-35 dalam pemeringkatan global pada tabel tersebut. Catatan metodologi BEI menyebutkan perbandingan dilakukan terhadap bursa terpilih dari 36 negara anggota World Federation of Exchanges.
Dengan demikian, predikat terburuk merujuk pada kinerja sepanjang tahun berjalan di antara indeks yang ditampilkan dalam publikasi tersebut. Data ini tidak dengan sendirinya menunjukkan rekor penurunan terdalam sepanjang sejarah ataupun mencakup seluruh bursa di dunia.
Tekanan terhadap pasar Indonesia terlihat jauh lebih dalam dibandingkan negara pembanding. Ketika sejumlah bursa Asia masih membukukan kenaikan dua digit sejak awal tahun, IHSG telah kehilangan lebih dari dua perlima nilainya.
Dekat Titik Terendah
Perdagangan saham berlangsung dengan rentang pergerakan yang lebar. IHSG sempat mencapai level tertinggi 5.143,582, sekitar 0,92% di atas penutupan sebelumnya. Namun, penguatan itu tidak bertahan. Indeks kemudian turun hingga menyentuh titik terendah 4.895,596.
Posisi penutupan hanya 8,691 poin di atas titik terendah hariannya. Selisih antara level tertinggi dan terendah mencapai 247,986 poin, memperlihatkan besarnya tekanan harga yang terjadi selama perdagangan.
Penurunan sebesar 43,28% sepanjang tahun berjalan berarti nilai indeks kini tinggal 56,72% dari posisi akhir 2025. Secara matematis, IHSG membutuhkan kenaikan sekitar 76,30% dari posisi sekarang untuk kembali ke level akhir tahun lalu.
Kebutuhan kenaikan yang jauh lebih besar daripada persentase penurunan tersebut menunjukkan beratnya proses pemulihan setelah koreksi mendalam. Perhitungan ini merupakan ilustrasi perubahan nilai indeks, bukan proyeksi pergerakan pasar.
Tertinggal Jauh dari Bursa ASEAN
Di kawasan ASEAN, kesenjangan kinerja IHSG dengan negara tetangga sangat lebar. Indeks SET Thailand masih memimpin dengan kenaikan 18,37% sepanjang tahun berjalan, meskipun pada perdagangan yang tercatat dalam publikasi BEI turun 1,07% menjadi 1.491,030.
Straits Times Index Singapura menyusul dengan kenaikan 13,41% sejak awal tahun. Indeks tersebut berada di level 5.269,290 setelah melemah 0,65%.
Sementara itu, FTSE Bursa Malaysia KLCI berada pada 1.621,850, naik 0,14% pada hari tersebut, dengan penurunan sepanjang tahun hanya 3,47%. VN-Index Vietnam turun 0,65% ke 1.699,620 dan mencatat koreksi 4,76% sejak awal tahun. PSEi Filipina melemah 0,99% menjadi 5.624,170, dengan penurunan tahunan berjalan 7,08%.
Dengan koreksi 43,28%, kinerja IHSG tertinggal 36,20 poin persentase dari Filipina, yang menempati posisi kedua terlemah di ASEAN dalam tabel itu. Dibandingkan Thailand, selisih kinerja Indonesia mencapai 61,65 poin persentase.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa besarnya penurunan pasar Indonesia tidak tercermin secara merata di bursa kawasan. Sebagian pasar tetangga mengalami koreksi terbatas, sementara Thailand dan Singapura masih mencatat pertumbuhan positif.
Taiwan, Korea, dan Jepang Tetap Melaju
Perbedaan yang lebih mencolok terlihat di Asia Pasifik. Indeks TSE Weighted Taiwan membukukan kenaikan 49,52% sepanjang tahun, tertinggi dalam tabel perbandingan BEI. Indeks tersebut berada pada 43.307,539 meskipun turun 3,59% pada hari pencatatan.
KOSPI Korea Selatan menguat 34,04% sejak awal tahun dan berada di level 5.648,790 setelah turun 3,59%. Nikkei 225 Jepang masih mencatat kenaikan 25,31%, dengan posisi indeks 63.081,859 setelah melemah 0,33%.
Artinya, penurunan harian yang cukup besar di Taiwan dan Korea terjadi ketika kedua pasar masih mempertahankan keuntungan tahunan yang tinggi. Kondisi itu berbeda dengan IHSG, yang kembali melemah setelah sebelumnya mengalami koreksi panjang.
Di pasar Asia Pasifik lainnya, All Ordinaries Australia hanya turun 0,11% sepanjang tahun. Hang Seng Hong Kong terkoreksi 8,21%, SSE Composite Tiongkok turun 9,09%, dan S&P BSE Sensex India melemah 10,09%. Seluruhnya masih jauh lebih baik dibandingkan IHSG.
Di luar kawasan tersebut, indeks WIG Polandia mencatat kenaikan 32,62%, OSE Benchmark Norwegia 25,26%, MSCI COLCAP Kolombia 20,45%, dan Austrian Traded Index Austria 20,05%.
Bursa Amerika juga menunjukkan kinerja positif sepanjang tahun. S&P/TSX Composite Kanada naik 12,89%, S&P/BMV IPC Meksiko 8,51%, Dow Jones Industrial Average Amerika Serikat 8,16%, dan Ibovespa Brasil 4,22%.
Di Eropa, Swiss Market Index menguat 11,58%, ISEQ All-Share Irlandia 8,86%, IBEX 35 Spanyol 8,73%, FTSE 100 Inggris 7,78%, dan DAX Jerman 5,29%. CAC 40 Prancis turun relatif terbatas, yakni 1,55%.
Adapun Qatar Exchange Index turun 11,13% sepanjang tahun dan berada satu posisi di atas Indonesia dalam pemeringkatan yang ditampilkan. Selisih penurunannya dengan IHSG mencapai 32,15 poin persentase. Bursa Afrika Selatan terkoreksi 6,33%, Arab Saudi 6,19%, Dubai 3,39%, dan Turki 2,66%, sedangkan indeks Tel Aviv 35 Israel masih naik 10,95%.
BEI mencatat bahwa data indeks dunia dikumpulkan pada pukul 16.00 WIB. Karena perbedaan zona waktu dan jam perdagangan, angka tersebut tidak seluruhnya merepresentasikan penutupan sesi perdagangan tanggal yang sama.
Seluruh Sektor Melemah
Tekanan pada perdagangan Selasa meluas ke seluruh 11 indeks sektoral BEI. Sektor bahan baku mengalami penurunan harian terdalam, yakni 6,00% menjadi 1.218,487. Sepanjang tahun berjalan, sektor ini telah terkoreksi 40,80%.
Sektor energi turun 4,38% ke 2.350,788, memperbesar pelemahan sejak awal tahun menjadi 47,21%. Transportasi dan logistik melemah 3,90% ke 1.446,645, dengan koreksi tahunan berjalan 26,42%.
Sektor perindustrian turun 3,80% menjadi 1.219,394 dan telah kehilangan 43,42% sejak awal tahun. Properti dan real estat melemah 3,78% ke 643,639, dengan penurunan kumulatif 45,13%.
Infrastruktur turun 3,61% menjadi 1.236,170. Secara tahunan berjalan, sektor ini menjadi yang terburuk dengan koreksi 53,72%. Sektor teknologi menyusul dengan penurunan 51,13% sejak awal tahun, meskipun koreksi hariannya sebesar 1,92% merupakan yang paling kecil di antara seluruh sektor.
Sektor barang konsumen nonprimer turun 3,59% ke 704,667 dan melemah 42,54% sepanjang tahun. Kesehatan turun 2,83% ke 1.242,071, dengan koreksi kumulatif 39,83%. Barang konsumen primer melemah 2,61% menjadi 579,585 dan turun 27,53% sejak awal tahun.
Sektor keuangan terkoreksi 2,07% menjadi 1.177,966. Penurunan sepanjang tahunnya sebesar 24,01% merupakan yang paling terbatas di antara 11 sektor. Meski demikian, koreksi hampir seperempat nilai indeks tetap menunjukkan tekanan yang besar.
Saham Unggulan Tidak Luput
Pelemahan juga menjangkau kelompok saham unggulan dan likuid. Indeks LQ45 turun 3,98% menjadi 497,266, sehingga penurunannya sejak awal tahun mencapai 41,26%. IDX30 melemah 3,79% ke 280,194, dengan koreksi kumulatif 35,92%.
IDX80 turun 4,14% menjadi 72,707 dan telah terkoreksi 45,15% sepanjang tahun. KOMPAS100 melemah 4,25% ke 629,166, dengan penurunan 47,28% sejak awal tahun.
Tekanan lebih dalam terjadi pada IDX Commodity 20, yang merosot 6,21% dalam sehari dan telah kehilangan 62,35% sepanjang tahun. IDX BUMN20 turun 4,09%, dengan koreksi kumulatif 30,26%.
Kelompok saham berdividen tinggi relatif lebih bertahan, meski tetap mencatat penurunan besar. IDX High Dividend 20 turun 3,43% pada perdagangan Selasa dan terkoreksi 25,85% sepanjang tahun. IDX Value30 melemah 3,20%, dengan penurunan sejak awal tahun 24,21%.
Sementara itu, IDX ESG Leaders turun 3,86% dan mencatat pelemahan kumulatif 44,19%. Indeks Investor33 melemah 3,53% menjadi 283,912, dengan koreksi sepanjang tahun 32,81%.
BBRI Menjadi Penekan Terbesar
Dari sisi kontribusi terhadap penurunan IHSG hari itu, BBRI menjadi penekan terbesar. Harga sahamnya turun 5,67% dan mengurangi indeks sebesar 26,58 poin.
BBCA menyusul dengan penurunan harga 2,81% dan kontribusi negatif 13,04 poin. AMMN turun 6,79% dan memangkas indeks 11,86 poin, sedangkan BMRI melemah 2,97% dengan kontribusi negatif 10,90 poin.
TLKM turun 4,08% dan menekan IHSG sebesar 9,11 poin. Lima saham tersebut secara bersama-sama menyumbang sekitar 71,49 poin, atau 37,13% dari total penurunan IHSG pada perdagangan Selasa.
Tekanan tambahan datang dari TPIA, ASII, BRPT, BRMS, dan ANTM. TPIA turun 6,69% dengan kontribusi negatif 5,69 poin, ASII melemah 2,26% dan mengurangi indeks 5,50 poin, sedangkan BRPT turun 6,70% dengan kontribusi negatif 5,45 poin. BRMS dan ANTM masing-masing memangkas indeks 5,01 poin dan 4,33 poin.
Secara sepanjang tahun, BBCA menjadi pemberat terbesar dalam daftar BEI, dengan penurunan harga 40,06% dan kontribusi negatif 304,54 poin terhadap IHSG. DSSA menyusul dengan koreksi harga 83,79% dan kontribusi negatif 301,09 poin, serta BREN yang turun 78,35% dengan kontribusi negatif 294,64 poin.
Saham lain yang memberi tekanan besar sejak awal tahun meliputi TLKM, BBRI, TPIA, BRPT, BMRI, BRMS, dan FILM. Di antara nama-nama tersebut, harga FILM tercatat turun 97,97%, sedangkan TPIA terkoreksi 82,07%, BRMS 70,00%, dan BRPT 68,04%.
Meski pasar melemah, sejumlah saham masih menguat pada perdagangan Selasa. TMPO naik 34,48% menjadi Rp234, MKNT menguat 28,57% ke Rp18, dan AIMS naik 24,49% menjadi Rp605. Namun, kenaikan sejumlah saham itu tidak cukup untuk mengimbangi tekanan pada saham-saham berbobot besar.
Kapitalisasi Pasar Rp8.655 Triliun
Kapitalisasi pasar seluruh saham di BEI tercatat sebesar Rp8.655 triliun, setara sekitar US$477 miliar berdasarkan kurs acuan dalam publikasi sebesar Rp18.148 per dolar AS.
Sementara itu, kapitalisasi pasar IHSG yang disesuaikan dengan saham beredar bebas atau free float mencapai Rp1.707 triliun, setara sekitar US$94 miliar. Angka ini merupakan ukuran yang berbeda dari kapitalisasi pasar seluruh saham di BEI.
BBCA tetap menjadi saham dengan kapitalisasi pasar terbesar, yakni Rp591 triliun atau 6,83% dari total pasar. DCII berada di posisi berikutnya dengan Rp412 triliun atau 4,76%, disusul BBRI Rp399 triliun atau 4,61%, dan BMRI Rp332 triliun atau 3,83%.
Kapitalisasi BYAN mencapai Rp287 triliun, BREN Rp281 triliun, AMMN Rp249 triliun, ASII Rp192 triliun, TLKM Rp186 triliun, dan DNET Rp139 triliun.
Berdasarkan angka yang dibulatkan dalam publikasi, gabungan kapitalisasi 10 saham terbesar tersebut mencapai sekitar Rp3.068 triliun atau 35,45% dari total pasar. Besarnya nilai pasar kelompok ini menunjukkan pentingnya pergerakan saham-saham besar terhadap perubahan kapitalisasi bursa secara keseluruhan.
Net Sell Asing Mendekati Rp100 Triliun
Investor asing membukukan penjualan bersih atau net sell Rp575,01 miliar pada perdagangan Selasa, setara sekitar US$31,68 juta.
Dengan tambahan tersebut, akumulasi penjualan bersih asing sepanjang tahun berjalan mencapai Rp98,609 triliun atau sekitar US$5,434 miliar. Angka itu masih berada sekitar Rp1,391 triliun di bawah ambang Rp100 triliun.
Penjualan bersih merupakan selisih nilai penjualan dan pembelian investor asing. Karena angka pembelian dan penjualan bruto tidak tercantum dalam bahan yang tersedia, besarnya masing-masing transaksi tersebut tidak dapat dirinci dari data ini.
Arus jual bersih asing berlangsung bersamaan dengan penurunan tajam IHSG. Namun, statistik perdagangan ini saja tidak cukup untuk menentukan besarnya pengaruh masing-masing faktor terhadap kejatuhan indeks.
Transaksi di Bawah Rata-Rata
Total transaksi saham pada perdagangan Selasa mencapai Rp11,723 triliun, setara sekitar US$646 juta. Sebanyak 26,590 miliar saham berpindah tangan melalui 1.378.405 transaksi.
Nilai transaksi tersebut sekitar 42,14% di bawah rata-rata harian sepanjang tahun yang mencapai Rp20,260 triliun. Volume perdagangan juga sekitar 32,56% lebih rendah dibandingkan rata-rata harian 39,428 miliar saham.
Pasar reguler menyumbang transaksi Rp10,320 triliun, sedangkan pasar negosiasi mencatat Rp1,402 triliun. Transaksi pasar tunai sekitar Rp1,20 miliar.
Sepanjang 200 hari perdagangan, total transaksi saham telah mencapai Rp4.052,095 triliun, dengan volume sekitar 7,886 triliun saham dan frekuensi 468,718 juta transaksi.
BBCA menjadi saham paling aktif berdasarkan nilai transaksi, mencapai Rp1,537 triliun atau 13,11% dari total perdagangan saham. BBRI menyusul dengan Rp872 miliar, BMRI Rp788 miliar, TLKM Rp587 miliar, dan ANTM Rp396 miliar.
Dari sisi volume, GOTO menempati posisi pertama dengan 3,777 miliar saham atau 14,20% dari total volume pasar. BUMI menyusul dengan 2,965 miliar saham, kemudian BHIT 2,040 miliar saham. Ketiganya menyumbang sekitar sepertiga volume perdagangan saham hari itu.
Pasar Syariah Ikut Tertekan
Tekanan juga terjadi pada saham syariah. Jakarta Islamic Index (JII) turun 4,44% menjadi 279,965 dan telah terkoreksi 51,60% sepanjang tahun.
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) melemah 3,83% menjadi 163,740, dengan penurunan kumulatif 46,94%. JII70 turun 4,27% ke 110,873 dan mencatat koreksi 47,85% sejak awal tahun.
Kapitalisasi saham anggota ISSI tercatat Rp4.174 triliun atau 48,2% dari total kapitalisasi pasar BEI. Nilai transaksi saham ISSI mencapai Rp5,878 triliun, menyumbang 50,1% perdagangan saham hari itu.
Besarnya porsi tersebut menunjukkan bahwa tekanan pada saham syariah merupakan bagian penting dari pelemahan pasar secara keseluruhan.
PER 10,32 Kali, PBV 1,27 Kali
Di tengah koreksi harga, BEI mencatat rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) pasar sebesar 10,32 kali dan rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value (PBV) sebesar 1,27 kali.
Angka tersebut menjadi titik awal untuk menilai valuasi pasar. Namun, kesimpulan bahwa seluruh saham sudah sangat murah memerlukan perbandingan dengan rata-rata historis, valuasi bursa lain, prospek laba, kualitas aset, dan risiko masing-masing perusahaan.
Penurunan harga yang besar juga tidak otomatis membuat setiap saham menarik. Jika laba atau nilai aset memburuk, valuasi yang tampak rendah masih dapat mencerminkan risiko usaha yang tinggi.
Dengan IHSG terkoreksi 43,28%, seluruh sektor melemah, dan penjualan bersih asing mendekati Rp100 triliun, tantangan pasar Indonesia kini mencakup pemulihan harga sekaligus kepercayaan investor.
Harga yang jatuh dapat membuka peluang. Namun, kepercayaanlah yang membuat modal kembali bertahan.
