Matriks Politik Ungkap Menteri Berkinerja Terbaik hingga Terburuk dalam 2 Tahun Prabowo
JAKARTA, investortrust.id - Matriks Politik Indonesia merilis hasil survei terkait kinerja Kabinet Merah Putih dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka, Kamis (22/10/2026).
Berdasarkan hasil survei Matriks, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menduduki peringkat pertama dengan dipilih 75,1% responden. Posisi berikutnya diraih Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar (70,4%) dan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi (68,8%).
Baca Juga
Survei Matriks: Teddy Paling Populer, Amran Jadi Menteri Terbaik di Kabinet
Direktur Komunikasi Matriks Politik Indonesia Supriyadi menilai Amran berhasil mewujudkan target ambisius Prabowo untuk membawa Indonesia mencapai swasembada beras dalam setahun pemerintahan.
"Amran juga menyederhanakan distribusi pupuk bersubsidi dan mempertahankan kebijakan harga pembelian (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram," kata Supriyadi dalam keterangan persnya.
Hasilnya, kata Supriyadi, nilai tukar petani (NTP) mencapai 131,11 pada September 2026, mencatatkannya sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah. Tak hanya dinilai terbaik, Amran juga dikenal luas oleh publik dengan tingkat popularitas yang tinggi.
Selanjutnya, Supriyadi menyampaikan Menag Nasaruddin menempati peringkat kedua menteri terbaik, dengan kepemimpinan di bidang agama yang menyejukkan dan membawa kedamaian bagi bangsa.
Ia mengatakan Indeks Kerukunan Umat Beragama pada 2025 mencatat rekor tertinggi sebesar 77,89, yang berkorelasi penting dalam menjaga stabilitas dan iklim berusaha tetap kondusif.
Pada peringkat ketiga terbaik, Mensesneg Prasetyo dinilai tidak hanya menjalankan proses pengambilan keputusan strategis di Istana, tetapi juga mampu mengomunikasikan kepada publik dengan fokus dan tegas.
"Bahkan di tengah kegaduhan yang ada, Prasetyo muncul dengan penjelasan yang sangat tenang dan tidak memancing polemik," ucapnya.
Matriks Politik juga melakukan survei mengenai menteri yang populer. Berdasarkan hasil survei, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menjadi pejabat paling populer di Kabinet Merah Putih dengan tingkat popularitas 88,88%.
Supriyadi menilai popularitas Teddy sangat tinggi berkat kedekatan dengan Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai aktivitas kenegaraan maupun kemunculannya di depan publik.
"Peran Teddy sebagai Seskab menjadikannya sangat strategis untuk mengatur koordinasi para menteri dan pejabat tinggi lainnya," kata Supriyadi.
Selain itu, kata dia, Teddy juga kerap tampil untuk menjelaskan kebijakan pemerintah dalam konferensi pers bersama menteri-menteri dan pejabat terkait.
Disebutkan hadirnya Seskab dalam berbagai momen seperti itu menunjukkan wajah Presiden dan dukungan kuat terhadap arah kebijakan.
Tak hanya populer, ia mengungkapkan nama Teddy juga masuk dalam peringkat lima besar menteri-menteri dengan penilaian terbaik.
"Popularitas dan penilaian yang baik terhadap Teddy memberi peluang menjadi 'kuda hitam' di masa depan," ucapnya.
Pada peringkat kedua, nama Menko Hilirisasi Dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (85,3%) dikenal luas, baik karena kebijakannya di bidang energi maupun gaya komunikasinya yang lugas dan cair.
Menurut Supriyadi, posisi Bahlil sebagai ketua umum Partai Golkar menjadikannya sebagai anggota koalisi yang sangat diperhitungkan Prabowo, dengan sejumlah penugasan strategis yang membuatnya kerap tampil di panggung kebijakan.
Demikian pula dengan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang ada di posisi ketiga (79,5 persen).
Ia menuturkan sebagai ketua umum Demokrat dan potensial menjadi pemimpin nasional ke depan, AHY memiliki popularitas yang sangat tinggi di tengah publik.
Dikatakan bahwa nama AHY kerap masuk dalam bursa pemilihan presiden (pilpres) mendatang, meskipun masih harus bersaing dengan berbagai tokoh lain yang popularitas dan elektabilitasnya jauh lebih tinggi.
Sementara itu, terdapat sejumlah nama menteri dan pejabat strategis lainnya yang dinilai memiliki kinerja buruk.
Temuan survei Matriks Politik menunjukkan Menteri HAM Natalius Pigai dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dinilai sebagai menteri-menteri dengan kinerja terburuk.
Natalius Pigai menempati peringkat pertama menteri terburuk sebesar 82,6%, sedangkan Nusron Wahid pada peringkat kedua (78,3%), disusul Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo (75,2%).
“Natalius Pigai dan Nusron mendapat penilaian sebagai menteri terburuk di jajaran kabinet pada dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran,” kata Supriyadi.
Menurut Supriyadi, sosok Nusron Wahid menjadi menteri terburuk dengan popularitas cukup tinggi sebesar 72,9%. Hal ini tidak terlepas dari kasus dugaan korupsi di Kementerian ATR/ BPN.
“Nama Nusron disebut-sebut dalam perkara suap pengurusan hak guna bangunan (HGB) di Kabupaten Bogor, yang terungkap setelah operasi tangkap tangan (OTT) KPK,” katanya.
Dalam kasus itu, sejumlah pejabat Kementerian ATR/BPN yang dipimpin Nusron ikut ditangkap, selain kalangan politisi dan pengusaha. KPK juga tengah menelusuri peneriman gratifikasi lainnya hingga jual-beli jabatan di lingkungan ATR/BPN. Nusron diketahui telah dua kali mangkir dari panggilan KPK untuk diperiksa sebagai saksi.
“Kasus ini menyita perhatian publik, di sisi lain profil Nusron sendiri cukup dikenal sebagai politisi dan pejabat dengan rekam jejak panjang,” jelas Supriyadi.
Sementara itu Natalius Pigai memiliki tingkat pengenalan publik sebesar 54,3%, dan Dody Hanggodo 27,7%.
“Sejak awal menjabat, Natalius Pigai termasuk deretan menteri yang dinilai kontroversial dengan berbagai pernyataannya, hingga digugat oleh pegawainya sendiri di Kementerian HAM,” terang Supriyadi.
Baca Juga
Survei Voxpol: 63,1% Masyarakat Percaya dengan Pemerintahan Prabowo
Demikian pula dengan Menteri PU Dody Hanggodo yang gaya komunikasi publiknya menuai persepsi negatif dari publik. “Sebelumnya Dody Hanggodo diterpa berbagai isu seperti bocornya surat perjalanan dinas ke Amerika membawa keluarga, hingga berujung mutasi sejumlah pegawai Kementerian PU,” lanjut Supriyadi.
Survei Matriks Politik Indonesia dilakukan pada 10-15 Oktober 2026, kepada 1200 responden yang dipilih secara acak bertingkat (multistage random sampling) mewakili seluruh provinsi di Indonesia. Margin of error survei sebesar ±2,9 persen, pada tingkat kepercayaan 95 persen.
