IHSG 3,78% ke Level 4.904, Asing Terus Kabur! Kapan Kepercayaan Investor Kembali?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pasar saham Indonesia masih dibayangi tekanan berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terjun 3,78% ke posisi terendah dalam enam tahun terakhir level 4.904 pada penutupan perdagangan Selasa (3/11/2026).
Analis menilai, kombinasi ketidakpastian evaluasi MSCI, derasnya arus keluar dana asing, pelemahan rupiah, hingga memanasnya geopolitik global menjadi awan gelap yang menghambat pemulihan pasar saham.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama mengatakan, tekanan terhadap IHSG berasal dari kombinasi sentimen domestik dan eksternal. Dari dalam negeri, ketidakpastian terkait evaluasi MSCI, berlanjutnya capital outflow investor asing, serta pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang membebani pergerakan indeks.
Baca Juga
IHSG Babak Belur, Ambles 192 Poin ke 4.904! Saham Big Cap Kompak Dihantam Jual
Sementara itu, dari eksternal, meningkatnya ketegangan geopolitik global mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan beralih ke instrumen yang lebih defensif. "Akibatnya, tekanan jual meluas hingga saham-saham big caps," kata Elandry saat dihubungi investortrust.id, Selasa (3/11/2026).
Menurut Elandry, koreksi IHSG yang masih berlanjut menunjukkan pasar sedang berada dalam fase ketidakpastian (uncertainty). Investor masih menunggu kepastian mengenai pembenahan transparansi dan tingkat investabilitas pasar modal Indonesia.
Di sisi lain, risiko geopolitik dan volatilitas pasar global membuat selera risiko investor (risk appetite) belum pulih. Kondisi tersebut menyebabkan tekanan jual masih berlangsung, meskipun sejumlah saham telah mengalami koreksi cukup dalam.
Elandry mengakui, secara valuasi beberapa saham mulai terlihat menarik. Namun, harga saham yang sudah terkoreksi dan terlihat murah belum tentu menjadi indikasi bahwa pasar telah mencapai titik terendah (bottom).
Dalam kondisi pasar seperti sekarang, investor tidak cukup hanya mempertimbangkan fundamental perusahaan. Risiko negara (country risk), likuiditas, hingga potensi berlanjutnya arus keluar dana asing juga menjadi faktor penting dalam menentukan strategi investasi.
Menurut Elandry, pemulihan IHSG sangat bergantung pada kembalinya kepercayaan investor. Selama ketidakpastian belum mereda dan aksi jual bersih investor asing (foreign net sell) masih berlanjut, indeks berpotensi menghadapi tekanan lanjutan. "Investor sebaiknya menjaga risk management, tidak terburu-buru average down, dan melakukan akumulasi secara bertahap pada emiten dengan fundamental serta arus kas yang kuat," tandasnya.
Volatilitas Tinggi hingga Akhir 2026
Senada, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji memperkirakan volatilitas IHSG masih relatif tinggi hingga akhir 2026. Pasalnya, pasar saham masih membutuhkan katalis positif untuk membangun momentum pemulihan yang berkelanjutan.
Nafan menyebutkan, salah satu sentimen utama yang perlu dicermati adalah perkembangan evaluasi MSCI terhadap status pasar modal Indonesia, terutama kemungkinan reklasifikasi dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Selain itu, kebijakan regulator terkait peningkatan free float, transparansi kepemilikan saham, serta kualitas tata kelola emiten juga menjadi faktor penting yang akan memengaruhi kepercayaan investor. Potensi berlanjutnya capital outflow atau net foreign sell turut menjadi ancaman bagi saham-saham berkapitalisasi besar. Tekanan juga dapat dipengaruhi dinamika suku bunga global, kebijakan The Fed, pergerakan rupiah, perkembangan geopolitik, hingga harga komoditas global.
Baca Juga
"Oleh karena itu, saya memperkirakan volatilitas IHSG masih akan relatif tinggi hingga akhir tahun. Pemulihan indeks akan sangat bergantung pada keberhasilan reformasi pasar modal dalam mengembalikan kepercayaan investor institusional, khususnya investor asing," ujar Nafan.
Menghadapi kondisi tersebut, Nafan menyarankan investor tidak terburu-buru melakukan akumulasi saham secara agresif. Strategi buy on weakness secara bertahap dinilai lebih tepat, terutama pada saham-saham dengan fundamental kuat, valuasi menarik, serta likuiditas memadai.
Adapun sektor yang masih layak dicermati investor di tengah tekanan pasar saham saat ini meliputi perbankan, barang konsumsi (consumer goods), telekomunikasi, hingga otomotif.
