Tokocrypto Klaim Tidak Ada Rush di Tengah Insiden Peretasan Binance
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Tokocrypto memastikan operasional perusahaan tetap berjalan normal di tengah insiden keamanan yang menimpa Binance. Perusahaan juga menyatakan tidak terjadi penarikan dana nasabah secara besar-besaran atau rush. Seperti diketahui, Tokocrypto adalah exchange aset kripto di Indonesia yang memiliki hubungan erat dengan Binance sebagai pemegang saham mayoritas.
Hal tersebut disampaikan CEO Tokocrypto Calvin Kizana menanggapi kekhawatiran pengguna terhadap keamanan aset kripto setelah Binance mengalami insiden penarikan dana tanpa izin.
“Semua aman kok. Sudah beroperasi seperti biasa. Semua dana nasabah di-covered dan proses withdraw di Binance mulai dibuka bertahap hari ini. Tokocrypto aman. Tidak ada rush,” ujar Calvin kepada Investortrust, Minggu (1/11/2026).
Calvin menjelaskan, kejadian yang dialami Tokocrypto pada Selasa sebelumnya merupakan upaya phishing. Menurut dia, insiden tersebut tidak berdampak terhadap keamanan aset pengguna.
Baca Juga
Terungkap! Begini Modus Peretas Kuras Hot Wallet Binance hingga Rp 100 Triliun Lebih
“Kalau kejadian Selasa kemarin itu hanya upaya phishing saja. Semua aset users aman. Business as usual,” katanya.
Sebelumnya, pengguna Tokocrypto dikejutkan oleh kemunculan notifikasi mencurigakan dari aplikasi resmi pada Selasa (27/10/2026) yang berisi peringatan keamanan akun terkait prosedur Anti Pencucian Uang (AML) palsu dan mendesak pengguna menarik aset sebelum akun dihapus. Tautan dalam notifikasi tersebut mengarah ke situs eksternal berbahaya yang diduga merupakan phishing dan wallet drainer, sehingga berpotensi menguras aset kripto pengguna. Insiden ini memicu keluhan di media sosial, bahkan sejumlah pengguna mengaku kehilangan aset setelah mengeklik tautan tersebut. Merespons kejadian itu, Tokocrypto mengimbau pengguna agar tidak mengeklik tautan, menghubungkan dompet digital, atau memberikan data pribadi. Manajemen menyatakan tim teknis dan keamanan tengah melakukan investigasi serta mengambil langkah penanganan untuk mengamankan sistem.
Di tengah perkembangan tersebut, Calvin mengatakan perusahaan akan meningkatkan pengamanan internal. Salah satu langkah yang diperkuat adalah edukasi kepada seluruh karyawan agar menggunakan laptop dan perangkat kerja hanya untuk kepentingan pekerjaan.
Baca Juga
“Security internal pastinya ditingkatkan dan awareness ke seluruh staf untuk menggunakan perangkat laptop, device, hanya diperuntukkan untuk kerja, bukan untuk kebutuhan pribadi, akan lebih ditingkatkan lagi,” ujarnya.
Sementara itu, Binance pada 30 Oktober 2026 mengumumkan insiden keamanan yang menyebabkan kerugian aset sekitar US$6,3 miliar atau sekitar Rp114 triliun. Binance menyatakan akan menanggung dampak finansial insiden tersebut dan melakukan pemulihan layanan penarikan secara bertahap setelah pemeriksaan keamanan.
Seperti diketahui, kasus pembobolan Binance yang merupakan exchange terbesar dunia diketahui terjadi pada Jumat (30/10/2026) dini hari merupakan hantaman berat bagi kredibilitas serta keamanan sektor aset digital dunia, sekaligus mencatatkan rekor kejahatan terbesar dalam kurun waktu sejarah kripto. Berdasarkan data Arkham Intelligence, dompet yang terhubung dengan pelaku yang diduga adalah TraderTraitor, hackers asal Korea Utara, menyimpan aset kripto senilai lebih dari US$5,7 miliar setara Rp103,6 triliun. Aset tersebut antara lain hampir US$1,5 miliar (Rp 27,3 triliun) di Bitcoin, US$900 juta (Rp 16,4 triliun) Ethereum, serta gabungan sekitar US$1,4 miliar (Rp 25,5 triliun) dalam bentuk stablecoin USDT dan USDC.
Binance menyatakan tengah menyelidiki laporan mengenai potensi masalah keamanan tersebut. Pendiri Binance Changpeng Zhao atau CZ pun menyampaikan bahwa dana pengguna aman dan perusahaan akan menanggung potensi kerugian akibat insiden tersebut.
