FBI dan Dinas Rahasia AS Turun Tangan Selidiki Peretasan Binance
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Exchange kripto terbesar dunia Binance bekerja sama dengan Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) dan Dinas Rahasia AS (U.S. Secret Service) untuk menyelidiki pencurian aset kripto senilai US$6,4 miliar atau setara Rp 116 triliun. Dalam upaya pemulihan dana, penerbit stablecoin Circle telah membekukan lebih dari US$800 juta (Rp 14,51 triliun) aset USDC yang terkait dengan serangan tersebut.
Menurut laporan Reuters, seorang narasumber yang mengetahui masalah ini menyebutkan bahwa Binance bekerja sama dengan sejumlah lembaga penegak hukum di berbagai negara, termasuk FBI dan U.S. Secret Service.
FBI mengonfirmasi telah mengetahui insiden tersebut dan berkoordinasi dengan mitra dari sektor publik maupun swasta untuk menilai cakupan serangan serta menentukan langkah investigasi. Sementara itu, U.S. Secret Service tidak memberikan komentar.
Mengutip Decrypt, Sabtu (31/10/2026) keterlibatan lembaga penegak hukum AS tersebut berkaitan dengan kewenangan mereka dalam menyelidiki kejahatan keuangan dan komputer, termasuk akses ilegal ke sistem komputer serta tindak pidana yang melibatkan mata uang digital.
CEO Circle Jeremy Allaire menyatakan, perusahaan telah membekukan lebih dari US$800 juta (Rp 14,52 triliun) dalam bentuk USDC yang terkait dengan insiden Binance. Circle juga berkoordinasi dengan aparat penegak hukum dan akan terus mendukung proses investigasi.
Selain Circle, Tether, penerbit stablecoin USDT, turut membekukan token senilai US$1,5 miliar (Rp 27,22 triliun). Circle dan Tether memiliki kemampuan memasukkan alamat blockchain tertentu ke dalam daftar hitam (blacklist) sehingga aset yang tersimpan di alamat tersebut tidak dapat dipindahkan.
Kemampuan tersebut membuat penerbit stablecoin dapat berperan dalam upaya pemulihan aset digital hasil kejahatan, termasuk dengan membatasi perpindahan dana sebelum pelaku berhasil diidentifikasi.
Baca Juga
Dikaitkan dengan Kelompok Peretas Korea Utara
Investigasi pencurian di Binance berlangsung di tengah meningkatnya serangan siber yang dikaitkan dengan Korea Utara. Perusahaan intelijen blockchain TRM Labs dan Chainalysis mengaitkan pencurian senilai US$6,3 miliar (Rp 113,98 triliun) tersebut dengan TraderTraitor, kelompok peretas yang terafiliasi dengan operasi siber Korea Utara.
Kelompok yang sama juga dikaitkan dengan peretasan terhadap bursa kripto Bybit senilai US$1,5 miliar (Rp 27,14 triliun) pada Februari 2025. FBI sebelumnya menyatakan serangan terhadap Bybit dilakukan oleh peretas asal Korea Utara.
Para pelaku dari Korea Utara juga pernah menargetkan Binance dengan menyamar sebagai pelamar kerja untuk menyusup ke dalam perusahaan. Chief Security Officer Binance Jimmy Su, dalam wawancara dengan Decrypt pada 2025, mengungkapkan bahwa agen Korea Utara kerap menghubungi karyawan melalui LinkedIn dan menggunakan modus wawancara palsu untuk menyebarkan perangkat lunak berbahaya (malware).
Kerja sama antara perusahaan kripto dan aparat penegak hukum dalam menangani kejahatan aset digital juga pernah dilakukan melalui Operation Atlantic pada April lalu. Operasi gabungan yang melibatkan U.S. Secret Service, National Crime Agency Inggris, Binance, Coinbase, dan sejumlah perusahaan kripto lainnya itu berhasil mengidentifikasi lebih dari 20.000 korban penipuan phishing.
Operasi tersebut juga melacak dana curian senilai US$45 juta (Rp814 miliar) dan membekukan aset sebesar US$12 juta (Rp217,1 miliar).
Baca Juga
Waduh! Binance Diretas Rp 103,6 Triliun, Harga Kripto Ikut Panik
Binance Siapkan Dana Penggantian
Binance menyatakan akan menanggung seluruh kerugian akibat pencurian tersebut menggunakan dana perusahaan dan Secure Asset Fund for Users (SAFU), yakni dana cadangan yang disiapkan untuk melindungi pengguna jika terjadi pelanggaran keamanan.
CEO Binance Richard Teng menyampaikan pada Jumat (30/10/2026) bahwa perusahaan telah menyiapkan lebih dari US$6,34 miliar (Rp114,71 triliun) untuk mengganti aset yang dicuri. Dari jumlah tersebut, sekitar US$3 miliar (Rp54,28 triliun) telah ditemukan atau dibekukan dengan bantuan mitra industri.
Pada awal penyelidikan, Binance menduga serangan bermula dari laptop seorang insinyur DevOps yang telah disusupi. Kondisi tersebut diduga memberikan akses kepada penyerang untuk masuk ke sistem per usahaan.
Namun, pemeriksaan lanjutan menemukan sejumlah titik penyusupan lainnya. Binance menyatakan belum menemukan bukti kebocoran kunci privat (private keys) dompet kripto.
Hingga proses peninjauan infrastruktur keamanan selesai, layanan penarikan dana masih ditangguhkan sementara. Binance sendiri menargetkan layanan tersebut dapat kembali beroperasi pada Minggu (1/11/2026) esok.
