Binance Alami Masalah Saat Pasar Crash, Eksekutif Binance Sarankan Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Binance kembali menjadi sorotan setelah platform perdagangan kripto terbesar dunia itu mengalami gangguan transaksi di tengah lonjakan volatilitas pasar.
Salah satu pendiri Binance, Yi He, seperti diberitakan Cryptobriefing.com, Sabtu (11/10/2025) menyampaikan pernyataan resmi yang mengarahkan pengguna yang mengalami kerugian akibat masalah teknis untuk segera menghubungi layanan pelanggan perusahaan.
Yi He mengakui bahwa masalah yang dialami pengguna berkaitan dengan peningkatan aktivitas pengguna secara tiba-tiba dan fluktuasi pasar yang sangat tajam. Ia juga menekankan pentingnya pengguna untuk memverifikasi detail transaksi mereka secara cermat sebelum melakukan perdagangan, mengingat kondisi pasar yang tidak stabil.
Dalam pernyataan resmi melalui akun X pribadinya, Yi He, Co-Founder dan eksekutif Binance, menyampaikan permintaan maaf kepada para pengguna yang mengalami gangguan transaksi selama 16 jam terakhir. Ia menjelaskan bahwa gangguan tersebut terjadi akibat fluktuasi pasar yang signifikan serta lonjakan jumlah pengguna yang menyebabkan sistem mengalami tekanan berat.
Yi He menegaskan bahwa Binance bertanggung jawab atas kendala yang terjadi dan mengajak pengguna yang mengalami kerugian akibat masalah teknis di platform untuk segera menghubungi layanan pelanggan. Setiap laporan akan ditinjau secara individual, dengan tim Binance akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap aktivitas akun pengguna, menganalisis situasi, dan memberikan kompensasi jika layak.
Baca Juga
Krisis Kripto 2025 Jadi Likuidasi Terbesar dalam Sejarah, Lampaui 'Crash' Maret 2020
Namun, ia juga menekankan bahwa kerugian akibat fluktuasi pasar dan keuntungan yang belum terealisasi tidak termasuk dalam kategori yang dapat dikompensasikan.
Dalam pernyataannya, Yi He menambahkan bahwa kekuatan Binance terletak pada komitmennya untuk tidak lari dari masalah. Ia menyatakan bahwa ketika Binance gagal memenuhi harapan, pihaknya tidak akan mencari-cari alasan, melainkan mengambil tanggung jawab penuh. Binance, menurutnya, tetap berkomitmen untuk melayani setiap pengguna sebaik mungkin dan bertanggung jawab atas hal-hal yang berada dalam kendali mereka.
Yi He menutup pernyataannya dengan peringatan bahwa kondisi pasar masih sangat volatil dan mengimbau para pengguna untuk tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Sebelumnya diberitakan pasar kripto mengalami guncangan hebat setelah ancaman tarif 100% dari mantan Presiden AS, Donald Trump, terhadap impor dari Tiongkok. Kebijakan tersebut langsung memicu aksi jual besar-besaran dan membuat kapitalisasi pasar kripto anjlok hampir 10% dalam sehari, turun menjadi $3,73 triliun.
Baca Juga
Tragedi di Dunia Kripto: Influencer Ukraina Kostya Kudo Meninggal Saat Pasar Anjlok
Data dari CoinGlass menunjukkan bahwa lebih dari 1,6 juta trader mengalami likuidasi dalam waktu 24 jam, dengan total nilai yang dilikuidasi mencapai US$19,13 miliar — menjadikannya likuidasi terbesar dalam sejarah kripto. Menurut analis Ash Crypto, dampaknya bahkan 20 kali lebih besar dibanding crash akibat COVID-19 pada Maret 2020 dan 10 kali lipat lebih besar dari kehancuran bursa FTX pada 2022.
Diberitakan Coinedition.com, Sabtu (11/101/2025), Bitcoin, yang selama ini menjadi indikator utama pasar kripto, kini berada di bawah level support pentingnya, diperdagangkan di angka US$ 111.802 atau turun hampir 8% dalam 24 jam terakhir. Ethereum juga merosot lebih dari 12% ke US$ 3.778. Sementara itu, altcoin mengalami penurunan yang lebih tajam: Binance Coin (BNB) anjlok 13%, Solana dan Cardano masing-masing turun lebih dari 16% dan 20%, dan XRP kehilangan hampir 14% nilainya, kini berada di kisaran US$2,42 per keping.

