OJK Pastikan Tak Ada Rush Kripto di Indonesia Usai Binance Diretas hingga Gangguan yang Dialami Indodax dan Tokocrypto
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta penyelenggara perdagangan aset kripto di Indonesia memperkuat manajemen risiko dan ketahanan siber menyusul sejumlah insiden keamanan di industri aset kripto global. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga keamanan sistem serta melindungi aset konsumen.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Adi Budiarso mengatakan, OJK terus mencermati perkembangan dan dampak berbagai insiden keamanan siber yang terjadi di industri aset kripto global. OJK juga mengantisipasi agar insiden pada salah satu platform global tidak menimbulkan kekhawatiran yang meluas terhadap industri aset kripto di Indonesia.
Menurut Adi, setiap penyelenggara memiliki sistem, tata kelola, dan mekanisme pengamanan masing-masing. Karena itu, insiden keamanan pada satu platform tidak serta-merta menggambarkan kondisi seluruh penyelenggara aset kripto. Ia pun menegaskan, tidak ada penarikan dana nasabah secara besar-besaran atau rush.
"Tidak ada rush," ujarnya kepada Investortrust, Minggu (1/11/2026).
Baca Juga
Binance Pulihkan Layanan Penarikan Dana Pasca-Diretas US$ 6,3 Miliar
Sementara itu, Tokocrypto memastikan operasional perusahaan tetap berjalan normal di tengah insiden keamanan yang menimpa Binance. Perusahaan juga menyatakan tidak terjadi penarikan dana nasabah secara besar-besaran. Seperti diketahui, Tokocrypto adalah exchange aset kripto di Indonesia yang memiliki hubungan erat dengan Binance sebagai pemegang saham mayoritas.
CEO Tokocrypto Calvin Kizana menanggapi kekhawatiran pengguna terhadap keamanan aset kripto setelah Binance mengalami insiden penarikan dana tanpa izin. “Semua aman kok. Sudah beroperasi seperti biasa. Semua dana nasabah di-covered dan proses withdraw di Binance mulai dibuka bertahap hari ini. Tokocrypto aman. Tidak ada rush,” ujar Calvin kepada Investortrust, Minggu (1/11/2026).
Adapun Binance, bursa kriptokurensi terbesar di dunia, mengumumkan rencana pemulihan layanan penarikan dana secara bertahap setelah berhasil menutup 95% dari total aset senilai US$ 6,3 miliar yang dicuri dari platformnya. Insiden ini tercatat sebagai peretasan digital terbesar di dunia, di mana Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) mengaitkan aksi tersebut dengan kelompok peretas asal Korea Utara. Tahap pertama pemulihan penarikan dana dijadwalkan berlangsung antara pukul 06.00 hingga 09.00 GMT atau pukul 14.00 hingga 17.00 Waktu Singapura pada hari Minggu (1/11/2026). Layanan ini mencakup sejumlah aset digital utama, seperti Bitcoin, Ethereum, BNB, Solana, XRP, Dogecoin, serta beberapa token lainnya.
Calvin menjelaskan, kejadian yang dialami Tokocrypto pada Selasa sebelumnya merupakan upaya phishing. Menurut dia, insiden tersebut tidak berdampak terhadap keamanan aset pengguna. “Kalau kejadian Selasa kemarin itu hanya upaya phishing saja. Semua aset users aman. Business as usual,” katanya.
Sebelumnya, pengguna Tokocrypto dikejutkan oleh kemunculan notifikasi mencurigakan dari aplikasi resmi pada Selasa (27/10/2026) yang berisi peringatan keamanan akun terkait prosedur Anti Pencucian Uang (AML) palsu dan mendesak pengguna menarik aset sebelum akun dihapus. Tautan dalam notifikasi tersebut mengarah ke situs eksternal berbahaya yang diduga merupakan phishing dan wallet drainer, sehingga berpotensi menguras aset kripto pengguna. Insiden ini memicu keluhan di media sosial, bahkan sejumlah pengguna mengaku kehilangan aset setelah mengeklik tautan tersebut.
Begitupun dengan yang terjadi di Indodax. CEO INDODAX William Sutanto memastikan dana dan data nasabahnya tetap aman di tengah gangguan layanan yang menyebabkan proses deposit dan penarikan (withdrawal) mengalami maintenance lebih dari 24 jam. Setelah proses perbaikan, asesmen, dan verifikasi keamanan selesai, INDODAX mulai membuka layanan secara bertahap pada Sabtu, 31 Oktober 2026 mulai pukul 14.00 WIB dan pada pukul 22.00 WIB, seluruh layanan deposit dan penarikan di Indodax, baik rupiah maupun kripto, sudah kembali normal.
"Untuk member yang melakukan transfer selama masa maintenance dan masih menunggu depositnya masuk, prosesnya akan tetap berjalan. Namun jangan khawatir, dana Anda 100% aman. Saat ini Indodax sedang berkoordinasi dengan pihak payment gateway agar seluruh deposit yang pending dapat segera berjalan kembali," tulis manajemen INDODAX.
"Tidak ada rush, business as usual saja," ucapnya kepada Investortrust, Minggu (1/11/2026).
INDODAX diketahui menghentikan sementara layanan deposit dan penarikan dana dalam rupiah maupun aset kripto pada Kamis (29/10/2026) siang. Langkah tersebut dilakukan sebagai tindakan pencegahan setelah perusahaan mendeteksi peningkatan signifikan upaya serangan siber terhadap platformnya.
Baca Juga
Tokocrypto Klaim Tidak Ada Rush di Tengah Insiden Peretasan Binance
Di Indonesia, lebih lanjut Adi menyatakan, OJK telah menetapkan standar bagi penyelenggara melalui Peraturan OJK (POJK) beserta ketentuan turunannya. Ketentuan tersebut menjadi acuan bagi pelaku industri dalam menerapkan tata kelola dan pengamanan kegiatan usaha.
Dari sisi pengawasan, OJK kata Adi meminta seluruh penyelenggara, baik pedagang aset kripto maupun bursa dan ekosistem pendukungnya, termasuk Bursa Kripto CFX dan ICEX, untuk melakukan evaluasi serta pengujian keamanan sistem secara berkala.
Penyelenggara juga diminta memastikan pengamanan dan pemisahan aset konsumen sesuai ketentuan. Selain itu, mereka harus memiliki prosedur operasional standar atau standard operating procedure (SOP) yang memadai untuk menangani dan memulihkan sistem ketika terjadi insiden keamanan.
"Pesan kami kepada masyarakat adalah tetap tenang, tetapi tetap waspada. Gunakan penyelenggara yang berizin dan diawasi OJK serta pahami risiko dalam setiap aktivitas transaksi maupun penyimpanan aset kripto," imbau Adi.
Tata Kelola
Di sisi lain, insiden keamanan siber yang menimpa Binance dinilai Adi lebih berkaitan dengan persoalan tata kelola teknologi informasi dan manajemen risiko internal perusahaan dibandingkan dengan tingkat literasi kripto masyarakat.
Persoalan tersebut mencakup pengamanan perangkat dan akses kerja karyawan, pengendalian hak akses (access control), serta pengawasan terhadap aktivitas sistem. Dengan demikian, faktor sumber daya manusia (SDM) dan kedisiplinan dalam menjalankan prosedur keamanan internal menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan siber perusahaan. Di mana, keamanan siber tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang digunakan, tetapi juga bergantung pada kualitas tata kelola, kompetensi SDM, dan efektivitas pengendalian internal perusahaan.
"Jadi untuk case Binance menurut hemat kami belum ada kaitannya secara langsung dengan aspek literasi kripto masyarakat," ujar Adi.
