Melonjak 49%, Pendapatan VKTR Tembus Rp1,06 Triliun, Kontribusi Kendaraan Listrik Terus Meningkat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), emiten pionir kendaraan listrik komersial di Indonesia, membukukan pendapatan Rp1,06 triliun hingga September 2026 seiring terus meningkatnya kontribusi kendaraan listrik. Angka itu melonjak 49% dibandingkan Rp717 miliar pada periode yang sama tahun silam (year on year/yoy).
Direktur Utama VKTR, Anindra Ardiansyah Bakrie mengungkapkan, pertumbuhan tersebut didukung peningkatan penjualan kendaraan listrik komersial dan kinerja positif bisnis manufaktur suku cadang otomotif. Pendapatan dari penjualan kendaraan listrik mencapai Rp186 miliar hingga kuartal III-2026, melesat 91% dari Rp98 miliar (yoy).
“Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, kontribusi penjualan kendaraan listrik terhadap total pendapatan perseroan meningkat menjadi 17%, dibandingkan 14% pada periode yang sama tahun sebelumnya,” kata Ardi Bakrie dalam keterangan resmi, Jumat (30/10/2026).
Ardi menjelaskan, dengan pertumbuhan pendapatan tersebut, VKTR mencatatkan laba bersih Rp12,1 miliar hingga September 2026, melejit 47% dari Rp8,2 miliar pada periode sama 2025. Pencapaian ini didukung pengendalian biaya yang lebih baik, seiring peningkatan aktivitas bisnis.
Baca Juga
Bus Listrik Lokal Arjuno Buatan VKTR Dipercaya Layani Mobilitas Tambang hingga 350 Km
Pertumbuhan laba bersih, menurut Ardiansyah, juga mencerminkan upaya perseroan menjaga efisiensi operasional dan kualitas pertumbuhan di tengah pengembangan skala usaha. Dari sisi neraca, hingga akhir September 2026, total aset VKTR meningkat 13% selama tahun berjalan (year to date/ytd) menjadi Rp2.026 miliar.
“Peningkatan ini terutama didorong oleh pertumbuhan piutang usaha, persediaan, dan uang muka seiring dengan meningkatnya aktivitas bisnis serta proses produksi sejumlah proyek yang ditargetkan selesai pada akhir 2026,” ujar dia.
Peningkatan kinerja VKTR, kata Ardi Bakrie, mencerminkan penguatan peran bisnis kendaraan listrik dalam struktur pendapatan perseroan, sekaligus kemajuan perseroan dalam memperluas penetrasi pasar kendaraan listrik komersial.
Ardi menambahkan, bisnis manufaktur suku cadang otomotif membukukan pendapatan Rp880 miliar, meningkat 41% dari Rp623 miliar pada periode sama tahun lalu. Pertumbuhan ini didukung meningkatnya aktivitas industri otomotif nasional, khususnya pada segmen kendaraan komersial.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) per September 2026, industri otomotif nasional, khususnya pada segmen kendaraan komersial, juga tumbuh 42% (yoy).
“Kinerja tersebut menegaskan peran bisnis manufaktur sebagai penopang pertumbuhan pendapatan sekaligus melengkapi ekspansi Perseroan di pasar kendaraan listrik komersial,” tutur dia.
Ardi mengemukakan, total liabilitas VKTR meningkat 39% menjadi Rp768 miliar (ytd), sejalan dengan kebutuhan operasional dan modal kerja untuk mendukung pelaksanaan aktivitas bisnis perseroan. Ekuitas perseroan juga meningkat 1% menjadi Rp1,258 miliar (ytd) yang mencerminkan relatif stabilnya posisi permodalan di tengah ekspansi bisnis.
Menurut Ardi Bakrie, perkembangan kendaraan listrik komersial di Indonesia semakin membuka peluang bagi VKTR untuk memperluas perannya dalam industri. Fokus VKTR bukan hanya meningkatkan penjualan kendaraan.
Baca Juga
Penjualan Melesat 56%, VKTR Siapkan e-MaaS untuk Percepat Adopsi Kendaraan Listrik
“Kami juga fokus membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang melalui penguatan manufaktur dalam negeri, perluasan portofolio, serta pengembangan solusi yang membuat adopsi kendaraan listrik semakin relevan secara operasional dan finansial bagi pelanggan,” papar dia.
Memperluas Pasar melalui Armada
Ardiansyah Bakrie mengungkapkan, pada Januari-September 2026, penjualan meroket 235% (yoy). Penjualan bus listrik berkontribusi 52,5%, sasis 37,7%, transporter listrik 8,2%, dan forklift listrik 1,6%.
Dia mengatakan, pada kuartal III-2026, VKTR menyelesaikan pengiriman 27 unit bus listrik 12 meter kepada operator Trans Semarang, menjadikan VKTR sebagai penyedia bus listrik pertama bagi layanan transportasi publik tersebut.
“Kami juga telah mengirimkan bus listrik ke Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan mengaktivasi mobilitas listrik di lingkungan kampus UNY, serta forklift listrik kepada entitas anak,” ucap dia.
Memasuki kuartal IV-2026, kata Ardi, VKTR terus memperluas jangkauan pasar kendaraan listrik komersial melalui realisasi pengiriman rolling chassis light-duty truck (LDT) untuk kebutuhan pelanggan di sektor industri agribisnis.
“Capaian ini mencerminkan perluasan pemanfaatan kendaraan listrik komersial untuk mendukung kebutuhan operasional di berbagai industri. Perseroan tengah menyelesaikan sejumlah pesanan bus listrik untuk proyek transportasi publik yang ditargetkan rampung pada akhir 2026,” papar dia.
Dia menuturkan, perseroan aktif memenuhi permintaan uji coba kendaraan (trial unit) dari sejumlah calon pelanggan strategis, baik operator transportasi publik maupun pelaku usaha swasta di berbagai daerah.
Ardi Bakrie menegaskan, keberhasilan elektrifikasi tidak cukup hanya ditentukan oleh ketersediaan produk. Kesiapan layanan purnajual, dukungan operasional, pembiayaan, serta kemudahan bagi pelanggan dalam mengadopsi teknologi baru juga menjadi faktor penting dalam mempercepat penggunaan kendaraan listrik secara komersial.
E-MaaS untuk Memperluas Akses Pasar
Berangkat dari kebutuhan tersebut, menurut Ardiansyah, VKTR terus mengembangkan Electric Mobility-asa-Service (e-MaaS) sebagai salah satu pilar strategis untuk memperluas akses terhadap kendaraan listrik komersial.
“Melalui pendekatan ini, perseroan berupaya melengkapi penyediaan kendaraan dengan solusi penggunaan dan operasional armada yang lebih fleksibel bagi pelanggan,” ujar dia.
Dalam skema konvensional, pengadaan kendaraan membutuhkan investasi awal yang relatif besar karena pelanggan harus menanggung belanja modal (capex). “Melalui eMaaS, kebutuhan tersebut dapat dialihkan menjadi biaya operasional (opex) lewat skema layanan yang dirancang sesuai kebutuhan pelanggan,” ucap dia.
Dia menjelaskan, pendekatan ini berpotensi mengurangi hambatan investasi awal, memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan arus kas, serta membantu pelanggan merencanakan biaya operasional secara lebih terukur.
“Bagi operator transportasi maupun pelaku usaha, fleksibilitas tersebut dapat membuka peluang untuk mengadopsi kendaraan listrik tanpa harus sepenuhnya bergantung pada kemampuan menyediakan modal di awal,” tandas dia.
Baca Juga
Ardi menekankan, berkat dukungan layanan yang terintegrasi, pelanggan juga dapat lebih berfokus pada kegiatan operasional inti, sementara kebutuhan terkait penggunaan kendaraan dikelola melalui skema layanan yang sesuai.
Bagi VKTR, kata dia, pengembangan e-MaaS membuka peluang memperluas jangkauan pasar dan menjangkau segmen pelanggan dengan kebutuhan serta kapasitas pembiayaan yang beragam.
“Model ini juga memperkuat peran perseroan dalam rantai nilai kendaraan listrik komersial, dari penyediaan kendaraan hasil manufaktur dalam negeri hingga pengembangan solusi yang mendukung pemanfaatannya dalam kegiatan usaha,” tegas Ardi.
