VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR) Dorong Elektrifikasi Kendaraan Komersial sebagai Penggerak Dekarbonisasi Transportasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) berkomitmen terus mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik komersial yang tidak hanya menurunkan emisi, tetapi juga memperkuat industri dan ketahanan energi nasional.
Emiten kendaraan listrik komersial pertama di Indonesia yang mencatatkan sahamnya di bursa pada 19 Juni 2023 itu menilai elektrifikasi kendaraan komersial merupakan salah satu kunci menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia, sekaligus mempercepat dekarbonisasi transportasi nasional.
Komitmen tersebut disampaikan VKTR dalam Indonesia Intelligent Transport Summit 2026 (IITS) bertema An Economic Leap through Intelligent Transport Decarbonization di Jakarta, Kamis (20/8/2026). Dalam forum ini, Direktur VKTR, Erika M Hamizar menjadi panelis pada sesi Transport Decarbonization and Energy Sovereignty: Building a Low-Carbon Mobility Ecosystem for Indonesia.
IITS 2026 merupakan forum yang mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, investor, inovator, dan komunitas transportasi untuk mendorong transformasi mobilitas yang lebih cerdas, aman, inklusif, dan berkelanjutan.
Baca Juga
IITS 2026 berlangsung dua hari, dengan agenda utama di The Tribrata Hotel, Jakarta, serta kegiatan lanjutan di Cengkareng Heliport, Tangerang. Forum tersebut mengangkat lima fokus utama, yakni Green Dividend, Energy Sovereignty, Equitable Transition, Green Investment, dan Intermodal Mobility.
Posisi Strategis Kendaraan Komersisal
Direktur VKTR, Erika Hamizar mengungkapkan, kendaraan komersial, terutama bus dan truk, memiliki posisi strategis dalam mengurangi konsumsi BBM nasional karena tingkat penggunaannya yang tinggi. Alhasil, elektrifikasi kendaraan komersial dapat memberikan dampak yang lebih cepat dan terukur dibandingkan kendaraan dengan tingkat utilisasi lebih rendah.
“Elektrifikasi satu armada bus atau truk dapat menggantikan konsumsi BBM yang sangat besar setiap tahunnya, sehingga manfaat ekonominya juga lebih cepat terlihat. Dalam skala lebih luas, elektrifikasi kendaraan komersial dapat memberikan dampak signifikan terhadap penurunan permintaan BBM nasional,” kata dia.
Bagi VKTR, menurut Erika, percepatan elektrifikasi tidak cukup hanya dilakukan dengan menghadirkan kendaraan listrik. Pengembangan ekosistem harus berjalan beriringan dengan pembangunan industri, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), penciptaan pasar, dan penguatan daya saing nasional.
“Kita perlu memastikan bahwa transisi menuju kendaraan listrik juga menjadi momentum untuk membangun kemampuan industri di dalam negeri,” ujar dia.
Dia menjelaskan, ketika industri tumbuh, SDM berkembang, pasar terbentuk, dan kemampuan manufaktur semakin kuat, elektrifikasi tidak hanya menghasilkan kendaraan yang lebih rendah emisi. Elektrifikasi juga menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia.
“VKTR melihat bus dan truk listrik memiliki potensi besar menjadi penggerak utama transformasi transportasi rendah emisi. Tingginya tingkat utilisasi kendaraan komersial membuat manfaat elektrifikasi, baik dari sisi pengurangan emisi maupun efisiensi operasional, dapat dirasakan lebih cepat,” tutur dia.
Pada transportasi publik, kata Erika Hamizar, elektrifikasi armada berpotensi memberikan dampak langsung terhadap kualitas lingkungan perkotaan, sekaligus mendukung perubahan menuju sistem transportasi yang lebih berkelanjutan.
“Di sektor logistik dan industri, kendaraan komersial listrik dapat menawarkan efisiensi operasional seiring meningkatnya kebutuhan dunia usaha terhadap solusi transportasi yang lebih efisien dan rendah emisi,” papar dia.
Dia menekankan, transisi kendaraan listrik komersial membutuhkan kolaborasi yang konsisten antara pemerintah, operator transportasi, pelaku industri, dan penyedia ekosistem pendukung. Kolaborasi tersebut mencakup kesiapan infrastruktur, regulasi, pembiayaan, sumber daya manusia, hingga ketersediaan produk dan layanan purnajual.
“Elektrifikasi kendaraan komersial membutuhkan ekosistem yang dibangun bersama. Pemerintah memiliki peran penting dalam menciptakan kebijakan yang konsisten dan iklim pasar yang mendorong adopsi EV (electric vehicle), sekaligus memberikan prioritas bagi produk lokal untuk berkembang,” ujar dia.
Erika mengatakan, dukungan operator dan industri diperlukan untuk membangun utilisasi, kapasitas, serta kemampuan teknologi. Dengan ekosistem yang semakin kuat, elektrifikasi kendaraan komersial diharapkan tidak hanya mempercepat dekarbonisasi transportasi, tetapi juga memperkuat industri dalam negeri dan menciptakan nilai ekonomi baru.
Dia menambahkan, melalui partisipasinya dalam IITS 2026, VKTR berkomitmen mengambil bagian dalam transformasi transportasi Indonesia menuju sistem mobilitas yang lebih rendah emisi, efisien, dan berdaya saing, sekaligus memperkuat industri kendaraan listrik nasional.
Sementara itu, Presiden ITS Indonesia, William P Sabandar mengemukakan, IITS 2026 tidak sekadar menjadi forum pertukaran gagasan, tetapi juga wadah untuk membangun ekosistem transportasi masa depan.
Baca Juga
Pabrik VKTR di Magelang Siap Produksi 10.000 Unit Bus dan Truk Listrik
Melalui IITS 2026, kata William, ITS Indonesia ingin membangun sebuah ekosistem, di mana inovasi digital, keselamatan, dan keberlanjutan menjadi fondasi menuju masa depan Net Zero Emission (NZE).
“IITS 2026 juga menjadi platform strategis untuk menunjukkan bagaimana infrastruktur yang cerdas dan hijau dapat mengubah emerging market menjadi pusat pertumbuhan global,” ujar dia.
Menurut William, kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, masyarakat sipil, media, dan mitra internasional diperlukan untuk menghadirkan solusi mobilitas yang cerdas, aman, dan berkelanjutan bagi kawasan Global South.

