Kredit dan Efisiensi Jadi Katalis, Target Saham Bank Mandiri (BMRI) Direvisi Naik!
JAKARTA, investortrust.id – Target harga saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) direvisi naik menjadi Rp 6.400 dari sebelumnya Rp 6.200 dengan rekomendasi beli, seiring revisi naik proyeksi laba bersih perseroan untuk 2026–2027. Kenaikan target harga tersebut juga didukung pertumbuhan kredit yang lebih kuat, efisiensi biaya operasional, peningkatan pendapatan nonbunga, serta perbaikan komposisi kredit.
Dengan target harga baru Rp 6.400, potensi cuan saham bank pelat merah ini lebih dari 63%, dibandingkan dengan harga penutupan BMRI senilai Rp 3.910 pada perdagangan saham kemarin.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dan Nataniella Eva Kezia dalam riset terbarunya menyebutkan bahwa realisasi laba bersih BMRI hingga September 2026 setara dengan 79% dari proyeksi BRI Danareksa Sekuritas dan setara dengan 80% dari target konsensus pasar.
Baca Juga
Bank Mandiri (BMRI) Bidik Momentum Ekspansi Dunia Usaha di Akhir 2026
Pada kuartal III-2026, BMRI meraup laba bersih Rp 15,1 triliun, meningkat 1% secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq) dan 14% secara tahunan (year-on-year/yoy). Alhasil, laba bersih BMRI sepanjang sembilan bulan pertama 2026 mencapai Rp 45,5 triliun, tumbuh 21% yoy. Lompatan tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target laba bersih BMRI untuk 2026-2027 sebesar 2-4%.
Revisi naik target harga saham BMRI ditopang empat faktor berikut. Pertama, manajemen Bank Mandiri menaikkan panduan pertumbuhan kredit 2026 menjadi 9-11%, dari sebelumnya 7-9%. Revisi tersebut didukung oleh prospek penyaluran kredit yang lebih jelas, penetapan harga kredit yang lebih baik, serta perbaikan komposisi kredit pihak berelasi dan nonpihak berelasi. Hingga akhir kuartal III-2026, kredit BMRI tumbuh 1% secara kuartalan dan 15% secara tahunan menjadi Rp1.694 triliun.
Revisi naik target harga juga didukung efisiensi biaya operasional. Beban operasional BMRI selama sembilan bulan pertama 2026 turun 2% yoy, sehingga rasio biaya terhadap pendapatan atau cost-to-income ratio (CIR) membaik menjadi 38%, turun 580 basis poin secara tahunan. Manajemen juga menurunkan panduan CIR 2026 menjadi 37-39%, dari sebelumnya 39-41%. Efisiensi biaya ini membantu menopang laba di tengah tekanan terhadap pendapatan bunga bersih.
Saham BMRI juga ditopang pendapatan nonbunga menjadi salah satu penopang utama kinerja BMRI pada kuartal III-2026. Pendapatan ini tumbuh 10% qoq dan 13% yoy, didorong peningkatan pendapatan treasury serta pendapatan berbasis komisi berulang.
Baca Juga
Harga Minyak Turun setelah Pertemuan Arab Saudi-Iran, tapi Gangguan Pasokan Tetap Membayangi
Pendapatan treasury meningkat 28% qoq dan 40% yoy. Sementara itu, pendapatan komisi berulang tumbuh 8% qoq dan 13% yoy. Kinerja tersebut mengimbangi tekanan pada pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang turun 4% qoq menjadi Rp22 triliun, meskipun masih tumbuh 3% yoy.
Sejumlah faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik proyeksi laba bersih BMRI sebanyak 2-4%. Kombinasi pertumbuhan kredit yang lebih kuat dan efisiensi biaya mendorong BRI Danareksa Sekuritas menaikkan proyeksi laba bersih BMRI untuk 2026–2027 sebesar 2-4%. Revisi tersebut menjadi dasar kenaikan target harga saham BMRI menjadi R p6.400 dari sebelumnya Rp 6.200.
