Pemulihan Margin Unilever (UNVR) masih Butuh Waktu, EBIT Turun
JAKARTA, investortrust.id – PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) masih membutuhkan waktu lebih untuk memulikan margin. Tekanan biaya masih menjadi tantangan dipicu geopolitik Timur Tengah. Beban logistik luar negeri yang lebih tinggi, serta biaya merek dagang, teknologi, dan layanan, turut menambah tekanan terhadap biaya operasiona
Pada kuartal III-2026, pendapatan UNVR tumbuh 7,4% secara tahunan (yoy) dan 4,7% secara kuartalan (QoQ) menjadi Rp 8,9 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan volume penjualan sebesar 6,4%, serta kinerja yang lebih baik pada segmen home and personal care (HPC) dan foods and refreshment (F&R).
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Putu Chantika Putri menilai bahwa pemulihan kinerja UNVR memang sudah jalur yang tepat, namun, perbaikan margin diperkirakan membutuhkan waktu lebih panjang dan diprediksi mulai terlihat 2027. Tekanan biaya masih menjadi tantangan terlihat dari penurunan laba sebelum bunga dan pajak (earnings before interest and taxes/EBIT) Unilever pada kuartal III-2026 sebanyak 4,4% (yoy) menjadi Rp 1,4 triliun.
Baca Juga
Chantika menjelaskan, margin kotor UNVR masih tertekan oleh biaya transformasi dan inflasi komoditas yang berkaitan dengan situasi di Timur Tengah. Kemudian beban logistik luar negeri yang lebih tinggi, serta biaya merek dagang, teknologi, dan layanan, turut menambah tekanan terhadap biaya operasional. “Sebagian tekanan tersebut berhasil diimbangi oleh pengeluaran iklan dan promosi (advertising and promotion/A&P),” sambungnya.
Terkait penjualan di pasar domestik, UNVR tetap menunjukkan tren positif sejak kuartal III-2025. Kinerja ini ditopang oleh penguatan bisnis inti di segmen pasar massal ,serta ekspansi pada saluran premium dan penjualan daring. Mirae Asset mencatat, UNVR mulai mendapatkan kembali momentum pada bisnis inti pasar massalnya.
Berdasarkan kanal distribusi, perdagangan umum (general trade/GT) mencatat pertumbuhan satu digit. Adapun perdagangan modern (modern trade/MT) tumbuh pada kisaran pertengahan satu digit. Kanal e-commerce serta kesehatan dan kecantikan menjadi saluran dengan pertumbuhan tercepat, didukung produk premium dan peningkatan eksekusi strategi digital.
Tantangan Margin
Meski pertumbuhan penjualan dan volume mulai menguat, investor masih menunggu pemulihan margin yang menjadi pekerjaan rumah UNVR. Chantika memandang, manajemen tetap memprioritaskan pertumbuhan volume dan melindungi pangsa pasar.
Kemudian memprioritaskan daya saing daripada pemulihan margin jangka pendek, di tengah inflasi biaya bahan baku yang masih berlangsung. Sementara, pemulihan margin diupayakan melalui penetapan harga dana efisiensi biaya secara struktural.
Baca Juga
Pengamat: Penguatan IHSG Sinyal Pemerintah Mulai Dipercaya Lagi
UNVR sebelumnya telah melakukan dua kali kenaikan harga, masing-masing sekitar 5% pada Juni dan Agustus 2026. Penetapan harga secara selektif diperkirakan akan berlanjut pada kuartal IV-2026 dan tahun buku 2027. Di sisi lain, efisiensi struktural telah menurunkan biaya produksi per ton sebesar 25%. Sedangkan biaya transformasi pada kuartal III-2026 tercatat sebesar Rp 57 miliar, yang diperkirakan akan menurun 40%–50% secara total sepanjang tahun ini.
Mirae Asset pun menyimpulkan, 2027 akan menjadi titik balik bagi pemulihan margin UNVR. Proyeksi ini akan sangat bergantung pada kesuksesan penetapan harga atau menaikkan harga jual tanpa mengorbankan volume penjualan di segmen pasar massal.
Dari sisi valuasi, Mirae Asset menyebut saham UNVR diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/PER) sebesar 11,8 kali berdasarkan estimasi laba 2026. Level ini mendekati 1,5 standar deviasi di bawah rata-rata historisnya. Namun demikian
Mirae Asset tetap mengingatkan masih ada risiko penurunan kinerja UNVR dari potensi pelemahan volume penjualan akibat kenaikan harga jual, serta tekanan berkepanjangan dari inflasi komoditas.
