IHSG Dibayangi Arus Dana Asing, BRI Danareksa Turunkan Target ke 6.000
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – BRI Danareksa Sekuritas memangkas target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir 2026 menjadi 6.000, dari sebelumnya 7.200. Pemangkasan target ini mencerminkan peningkatan risiko arus dana asing keluar dari pasar saham Indonesia menyusul potensi perubahan status Indonesia dari emerging market menjadi standalone market oleh penyedia indeks global MSCI.
Dalam riset yang dirilis Rabu (21/10/2026), analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan memperkirakan, potensi arus dana asing keluar dari pasar saham Indonesia mencapai US$4,3 miliar hingga US$13,1 miliar. Dalam skenario dasar, arus dana keluar diproyeksikan mencapai US$7,5 miliar.
Estimasi tersebut memperhitungkan potensi penjualan saham oleh investor yang mengikuti indeks acuan serta investor asing aktif yang mengelola portofolio secara mandiri. “Estimasi arus dana keluar pasif mencapai US$2,5 miliar hingga US$6 miliar dalam skenario Standalone,” tulis Erindra dalam risetnya.
Baca Juga
Menurut dia, tekanan jual investor asing masih menjadi risiko utama bagi pasar saham Indonesia. Sepanjang Januari hingga Oktober 2026, investor asing telah membukukan penjualan bersih saham sekitar US$6 miliar. Di tengah risiko tersebut, peningkatan investasi saham oleh investor institusi domestik berpotensi membantu menahan tekanan jual.
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan setiap kenaikan alokasi investasi saham sebesar 1 poin persentase dari investor institusi domestik dapat menghasilkan tambahan pembelian sekitar US$1,1 miliar. Dengan demikian, diperlukan peningkatan alokasi investasi saham sekitar 7 poin persentase untuk mengimbangi potensi arus dana asing keluar dalam skenario dasar. Namun, Erindra menilai peralihan investasi tersebut kemungkinan berlangsung secara bertahap.
BRI Danareksa Sekuritas menilai valuasi pasar saham Indonesia telah mencerminkan tingginya risiko yang dihadapi investor. Saat ini, IHSG diperdagangkan mendekati tiga standar deviasi di bawah rata-rata historisnya. Kondisi serupa terjadi pada sektor perbankan. Rasio harga saham terhadap nilai buku atau price to book value (PBV) perbankan turun ke kisaran 1,2–1,3 kali, mendekati tiga standar deviasi di bawah rata-rata historis.
Baca Juga
Sementara itu, tingkat imbal hasil yang disyaratkan investor untuk menanamkan modal atau cost of equity meningkat menjadi 14%–15%, dibandingkan rata-rata historis sebesar 9,5%. Tekanan jual asing juga terlihat pada saham-saham perbankan besar. Empat bank besar di Indonesia telah menanggung penjualan bersih asing sebesar Rp67 triliun sepanjang tahun berjalan. Nilai tersebut setara dengan 61% dari total penjualan bersih investor asing di pasar saham Indonesia.
Meski valuasi saham dinilai menarik, Erindra menegaskan bahwa pemulihan pasar yang berkelanjutan masih membutuhkan bukti bahwa tekanan jual investor asing mulai mereda. Untuk menentukan target IHSG akhir 2026, BRI Danareksa Sekuritas menggunakan asumsi rasio harga saham terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) sebesar 8,5 kali berdasarkan proyeksi laba 2027. Asumsi tersebut lebih rendah dibandingkan sebelumnya sebesar 10,3 kali.
14 Saham Pilihan
Di tengah ketidakpastian pasar, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan kombinasi saham yang masuk dalam indeks MSCI dan saham di luar indeks tersebut. Strategi ini mempertimbangkan tingkat kepemilikan asing serta ketahanan arus dana investor asing pada masing-masing saham.
Untuk saham yang masuk dalam indeks MSCI, Erindra memilih PT Astra International Tbk (ASII) karena memiliki sumber pendapatan yang beragam, aliran dana asing yang relatif bertahan, serta potensi imbal hasil dividen sebesar 10,8%. Pilihan berikutnya adalah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), yang memiliki kepemilikan asing relatif lebih rendah dibandingkan bank-bank besar lainnya serta valuasi PBV sebesar 0,6 kali.
Baca Juga
Jangan Tergiur Saham Diskon Gegara MSCI! Mirae Asset Ungkap Risiko yang Mengintai
BRI Danareksa Sekuritas juga merekomendasikan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) karena ditopang pendapatan dari batu bara metalurgi dan valuasi yang dinilai menarik. Selain itu, terdapat PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang memiliki potensi menghasilkan kas dari bisnis batu bara termal dan membagikan dividen. Ada saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dengan prospek pendapatan yang relatif defensif dan PER 4,6 kali, serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang didukung prospek pemulihan produksi emas dan ekspansi usaha.
Sementara itu, untuk saham di luar indeks MSCI, BRI Danareksa Sekuritas memilih PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) seiring peningkatan produksi tembaga dan emas, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) karena percepatan pertumbuhan laba dan penurunan valuasi, serta PT Timah Tbk (TINS) yang memiliki prospek pemulihan produksi timah.
Pilihan lainnya mencakup PT Elnusa Tbk (ELSA) yang didukung investasi sektor hulu minyak dan gas serta valuasi menarik, PT Indosat Tbk (ISAT) dengan eksposur bisnis telekomunikasi dan pusat data, serta PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) seiring perbaikan pertumbuhan bisnis ritel. BRI Danareksa Sekuritas juga merekomendasikan PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) karena pendapatan rumah sakit yang relatif defensif, PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) dengan prospek stabilisasi kualitas aset dan valuasi PBV yang menarik, serta PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang valuasinya dinilai mulai mendekati estimasi nilai kas bersih perusahaan.
