IHSG Berpeluang Tembus 6.500, Arus Dana Asing dan Saham Konglomerasi Jadi Penopang
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan melanjutkan penguatan dengan target jangka pendek di level 6.500, didorong derasnya arus dana asing (foreign inflow) dan menguatnya saham-saham berkapitalisasi besar.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan bahwa peluang kenaikan terbuka selama IHSG mampu bertahan di atas level 6.300. "Selama IHSG mampu bertahan di atas level 6.300, peluang untuk melanjutkan penguatan menuju area 6.500 masih cukup terbuka," kata Hendra kepada investortrust.id, Selasa (21/7/2026).
Menurut Hendra, apabila level tersebut berhasil ditembus dengan dukungan volume transaksi yang tetap tinggi serta arus dana asing yang terus berlanjut, IHSG berpeluang mencapai target psikologis 7.000 hingga akhir 2026.
Baca Juga
IHSG Berpeluang Lanjutkan Rebound, Tiga Saham Dipimpin VKTR Layak Dilirik
Dalam skenario tersebut, saham-saham konglomerasi diperkirakan kembali menjadi motor utama penguatan IHSG karena memiliki kontribusi kapitalisasi pasar yang besar terhadap pergerakan indeks.
Sebelumnya, IHSG ditutup menguat 108,24 poin atau 1,74% ke level 6.340,02 pada perdagangan Selasa (21/7/2026). Nilai transaksi mencapai Rp21,49 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 51,06 miliar saham.
Hendra menilai kenaikan saham-saham Grup Prajogo Pangestu, Grup Salim, Grup MNC, maupun emiten konglomerasi lainnya akan memberikan dorongan signifikan terhadap IHSG. Oleh karena itu, keberlanjutan arus dana asing menjadi indikator penting yang perlu dicermati investor dalam beberapa pekan mendatang.
"Dalam tiga hari perdagangan terakhir, investor asing secara konsisten membukukan pembelian bersih (net buy), yakni sebesar Rp725 miliar pada Jumat, Rp156 miliar pada Senin, dan kembali meningkat menjadi Rp360 miliar pada Selasa. Selain itu, aktivitas perdagangan juga menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan, tercermin dari nilai transaksi harian yang mencapai sekitar Rp20,8 triliun," ujarnya.
Baca Juga
BGN Temukan Satu Sekolah Dilayani Dua SPPG, Tata Kelola MBG akan Dievaluasi
Ia menambahkan, penguatan serentak saham-saham konglomerasi dapat menjadi sinyal awal bahwa investor mulai kembali mengakumulasi saham-saham berkapitalisasi besar. "Secara historis, ketika investor asing kembali masuk ke pasar Indonesia, dana tersebut umumnya akan mengalir terlebih dahulu ke saham-saham dengan kapitalisasi besar karena memiliki likuiditas yang memadai untuk menyerap investasi dalam jumlah besar," katanya.
Meski demikian, Hendra mengingatkan masih terlalu dini untuk menyimpulkan pasar telah memasuki tren bullish jangka panjang. Keberlanjutan penguatan IHSG masih bergantung pada konsistensi arus dana asing, stabilitas ekonomi domestik, serta perkembangan sentimen global.
Ia juga mengingatkan investor untuk mewaspadai dua risiko utama, yakni harga minyak dunia yang kembali mendekati US$90 per barel dan nilai tukar rupiah yang bergerak ke kisaran Rp18.000 per dolar AS. Kedua faktor tersebut berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, memperbesar biaya impor, sekaligus memengaruhi arah kebijakan moneter.
Baca Juga
Harta Djaya (MEJA) Bersiap Gelar RUPSLB Ketiga dan Right Issue untuk Akuisisi Trimata Coal Perkasa
Karena itu, Hendra menyarankan investor tidak terburu-buru mengejar saham yang telah melonjak tajam dalam satu hari perdagangan. "Momentum positif memang masih layak dimanfaatkan, namun pendekatan yang lebih bijak adalah melakukan buy on weakness atau akumulasi secara bertahap ketika terjadi koreksi yang sehat," imbuhnya.
Adapun sejumlah saham yang dinilai masih menarik dicermati, yakni CUAN dengan rekomendasi trading buy dan target harga 865, CDIA trading buy target 950, BRPT trading buy target 2.000, TPIA speculative buy target 2.460, serta PTRO trading buy dengan target harga 5.450.
