Luhut Bocorkan Pertemuan dengan MSCI, Arus Modal Asing Berpeluang Kembali
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan pertemuannya dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Dalam pertemuan tersebut, Luhut menyebut MSCI menaruh harapan besar terhadap pasar modal Indonesia.
“Beberapa waktu lalu, ketika tim dari MSCI datang menemui saya, mereka sampaikan betapa besarnya harapan terhadap pasar modal Indonesia,” kata Luhut saat bertemu dengan pimpinan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dikutip Selasa (19/5/2026).
Menurut Luhut, harapan dari MSCI tersebut menjadi bukti bahwa pasar modal Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang. “Maka dari itu momentum emas ini tidak boleh kita sia-siakan,” ujar dia.
Baca Juga
Prabowo Bakal Pidato di DPR, Mensesneg: Hari Kebangkitan Nasional Momentum Satukan Kekuatan Bangsa
Dalam pertemuan tersebut, DEN menyoroti kebutuhan percepatan reformasi pasar modal. Luhut menilai arah kebijakan reformasi yang telah diumumkan OJK sudah berada di jalur yang tepat.
Namun demikian, pemerintah juga melihat masih adanya keraguan dari pelaku pasar, khususnya investor institusi asing, terhadap konsistensi dan kecepatan implementasi reformasi di lapangan.
“Ini adalah momentum yang tidak boleh dilewatkan untuk melakukan reformasi pasar modal secara komprehensif dan kredibel. DEN akan mendukung penuh OJK dalam mengawal proses ini. Jika konsistensi implementasi dapat dijaga, arus modal asing akan kembali masuk dan secara langsung memperkuat fundamental Rupiah kita,” ujar Luhut.
Baca Juga
Prabowo Bakal Jadi Presiden Pertama yang Pidato Kerangka Ekonomi Makro RAPBN
Selain pasar modal, DEN menyoroti kondisi perbankan nasional. Pemerintah menilai kondisi makroekonomi saat ini masih relatif stabil, namun tetap mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara dukungan pembiayaan program prioritas pemerintah dengan penerapan tata kelola yang baik serta manajemen risiko yang ketat.
DEN juga mendorong OJK terus melahirkan inovasi kebijakan, khususnya dalam pendalaman sektor keuangan (financial deepening) agar industri keuangan tetap sehat dan mampu mendukung pembiayaan ekonomi nasional.
Di sisi lain, pemerintah menyoroti perlunya mitigasi risiko yang lebih tegas pada sektor Bank Perekonomian Rakyat (BPR). Berdasarkan pemantauan data terkini, DEN mencatat adanya peningkatan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang cukup signifikan.
Baca Juga
Rupiah Tertekan, BI Diminta Naikkan Suku Bunga 50 Bps Demi Jaga Kredibilitas
Menurut Luhut, OJK telah mengambil langkah strategis. Namun, restrukturisasi dan penguatan kelembagaan BPR dinilai perlu dilakukan lebih komprehensif agar tidak berkembang menjadi sumber kerentanan sistemik.
Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang, DEN dan OJK sepakat membangun mekanisme koordinasi yang lebih erat untuk memantau perkembangan nilai tukar rupiah, kondisi pasar keuangan, serta persepsi investor secara berkala.
“Di tengah tekanan global dan domestik yang masih tinggi, koordinasi adalah kunci. Pertemuan reguler antara DEN dan OJK akan kita rutinkan sebagai forum untuk saling bertukar pandangan dan merumuskan kebijakan yang responsif demi menjaga stabilitas sistem keuangan negara,” kata dia.

